alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Tak Hanya Menyembuhkan, tapi Memberi Kebermanfaatan

dr Ima Rifiyanti, Peraih Dokter Teladan Asal Lumajang Bagi Ima Rifiyanti, Dokter Teladan hanyalah sebutan. Ada yang lebih penting daripada itu. Apa? Menjadi dokter yang tidak hanya menyembuhkan, namun memberdayakan dan memberi kebermanfaatan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Selamat pagi,” suara perempuan itu ramah saat Silvi Asna, host program Obrolan Perempuan menyapanya. Ima Rifiyanti, begitulah nama lengkapnya. Perempuan kelahiran Sidoarjo, 45 tahun lalu, itu merupakan peraih penghargaan Dokter Teladan Tahun 2018 lalu.

Ima, sapaan akrabnya, menapaki dunia medis saat memutuskan kuliah di Surabaya tahun 2002 silam. Kehidupan kampus kedokteran yang idealis membuatnya tumbuh menjadi perempuan yang selalu belajar, pantang menyerah, dan memegang teguh komitmen. Namun, realita di masyarakat jauh berbeda dari teori yang dia dapatkan selama duduk di bangku perkuliahan.

“Biasa lah, saat jadi mahasiswa idealis sekali. Eh, ketika lulus ternyata beda realita di lapangan. Wah kok seperti ini, jauh berbeda. Kita inginnya bermacam-macam, tetapi faktanya hal tersebut tidak bisa dipaksakan. Ini menjadi tantangan,” kata ibu dua anak tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski demikian, perempuan berkacamata tersebut selalu berusaha memaksimalkan yang ada. Sebab, sebagai seorang kepala puskesmas, dia harus bisa membaca peluang di lapangan. “Prinsipnya kemanusiaan, hati nurani. Jadi, kita harus maksimalkan apa yang ada. Kalau di fasilitas kesehatan tidak ada, ya kita siasati dengan menghadirkan kesejukan kepada pasien. Bagaimanapun, psikis mereka yang terpenting,” tuturnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Selamat pagi,” suara perempuan itu ramah saat Silvi Asna, host program Obrolan Perempuan menyapanya. Ima Rifiyanti, begitulah nama lengkapnya. Perempuan kelahiran Sidoarjo, 45 tahun lalu, itu merupakan peraih penghargaan Dokter Teladan Tahun 2018 lalu.

Ima, sapaan akrabnya, menapaki dunia medis saat memutuskan kuliah di Surabaya tahun 2002 silam. Kehidupan kampus kedokteran yang idealis membuatnya tumbuh menjadi perempuan yang selalu belajar, pantang menyerah, dan memegang teguh komitmen. Namun, realita di masyarakat jauh berbeda dari teori yang dia dapatkan selama duduk di bangku perkuliahan.

“Biasa lah, saat jadi mahasiswa idealis sekali. Eh, ketika lulus ternyata beda realita di lapangan. Wah kok seperti ini, jauh berbeda. Kita inginnya bermacam-macam, tetapi faktanya hal tersebut tidak bisa dipaksakan. Ini menjadi tantangan,” kata ibu dua anak tersebut.

Meski demikian, perempuan berkacamata tersebut selalu berusaha memaksimalkan yang ada. Sebab, sebagai seorang kepala puskesmas, dia harus bisa membaca peluang di lapangan. “Prinsipnya kemanusiaan, hati nurani. Jadi, kita harus maksimalkan apa yang ada. Kalau di fasilitas kesehatan tidak ada, ya kita siasati dengan menghadirkan kesejukan kepada pasien. Bagaimanapun, psikis mereka yang terpenting,” tuturnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Selamat pagi,” suara perempuan itu ramah saat Silvi Asna, host program Obrolan Perempuan menyapanya. Ima Rifiyanti, begitulah nama lengkapnya. Perempuan kelahiran Sidoarjo, 45 tahun lalu, itu merupakan peraih penghargaan Dokter Teladan Tahun 2018 lalu.

Ima, sapaan akrabnya, menapaki dunia medis saat memutuskan kuliah di Surabaya tahun 2002 silam. Kehidupan kampus kedokteran yang idealis membuatnya tumbuh menjadi perempuan yang selalu belajar, pantang menyerah, dan memegang teguh komitmen. Namun, realita di masyarakat jauh berbeda dari teori yang dia dapatkan selama duduk di bangku perkuliahan.

“Biasa lah, saat jadi mahasiswa idealis sekali. Eh, ketika lulus ternyata beda realita di lapangan. Wah kok seperti ini, jauh berbeda. Kita inginnya bermacam-macam, tetapi faktanya hal tersebut tidak bisa dipaksakan. Ini menjadi tantangan,” kata ibu dua anak tersebut.

Meski demikian, perempuan berkacamata tersebut selalu berusaha memaksimalkan yang ada. Sebab, sebagai seorang kepala puskesmas, dia harus bisa membaca peluang di lapangan. “Prinsipnya kemanusiaan, hati nurani. Jadi, kita harus maksimalkan apa yang ada. Kalau di fasilitas kesehatan tidak ada, ya kita siasati dengan menghadirkan kesejukan kepada pasien. Bagaimanapun, psikis mereka yang terpenting,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/