alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kedelai Mahal, Tahu-Tempe Diperkecil

Mobile_AP_Rectangle 1

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Harga kedelai dunia memang mengalami kenaikan. Meski demikian, perajin tempe dan tahu di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan, Lumajang tetap produksi. Sebab, sejauh ini permintaan tahu dan tempe di pasar maupun kebutuhan rumah tangga belum menunjukkan penurunan permintaan.

Sepekan terakhir, harga kedelai per kilogram di tingkat perajin tahu dan tempe tembus Rp 11 ribu. Padahal, normalnya per kilogram selalu di bawah Rp 9 ribu. Kondisi ini menyebabkan para perajin memutar otak. Agar tidak rugi dan gulung tikar, mereka menyiasati ukuran dua lauk yang digemari masyarakat tersebut.

“Ukurannya diperkecil. Tetapi harganya tetap. Rp 1.500 per bijinya. Karena kalau dijual dengan ukuran normal, ya rugi. Biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang didapat,” kata Arif, salah satu perajin di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Arif menjelaskan, hal itu sebagai strategi agar produksi tempe tetap berjalan. Meski kerap dikeluhkan masyarakat maupun pedagang karena ukuran mengecil, tempe dan tahu tetap dibeli masyarakat. Alhasil, produksinya juga bisa bertambah.

- Advertisement -

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Harga kedelai dunia memang mengalami kenaikan. Meski demikian, perajin tempe dan tahu di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan, Lumajang tetap produksi. Sebab, sejauh ini permintaan tahu dan tempe di pasar maupun kebutuhan rumah tangga belum menunjukkan penurunan permintaan.

Sepekan terakhir, harga kedelai per kilogram di tingkat perajin tahu dan tempe tembus Rp 11 ribu. Padahal, normalnya per kilogram selalu di bawah Rp 9 ribu. Kondisi ini menyebabkan para perajin memutar otak. Agar tidak rugi dan gulung tikar, mereka menyiasati ukuran dua lauk yang digemari masyarakat tersebut.

“Ukurannya diperkecil. Tetapi harganya tetap. Rp 1.500 per bijinya. Karena kalau dijual dengan ukuran normal, ya rugi. Biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang didapat,” kata Arif, salah satu perajin di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan.

Arif menjelaskan, hal itu sebagai strategi agar produksi tempe tetap berjalan. Meski kerap dikeluhkan masyarakat maupun pedagang karena ukuran mengecil, tempe dan tahu tetap dibeli masyarakat. Alhasil, produksinya juga bisa bertambah.

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Harga kedelai dunia memang mengalami kenaikan. Meski demikian, perajin tempe dan tahu di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan, Lumajang tetap produksi. Sebab, sejauh ini permintaan tahu dan tempe di pasar maupun kebutuhan rumah tangga belum menunjukkan penurunan permintaan.

Sepekan terakhir, harga kedelai per kilogram di tingkat perajin tahu dan tempe tembus Rp 11 ribu. Padahal, normalnya per kilogram selalu di bawah Rp 9 ribu. Kondisi ini menyebabkan para perajin memutar otak. Agar tidak rugi dan gulung tikar, mereka menyiasati ukuran dua lauk yang digemari masyarakat tersebut.

“Ukurannya diperkecil. Tetapi harganya tetap. Rp 1.500 per bijinya. Karena kalau dijual dengan ukuran normal, ya rugi. Biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang didapat,” kata Arif, salah satu perajin di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan.

Arif menjelaskan, hal itu sebagai strategi agar produksi tempe tetap berjalan. Meski kerap dikeluhkan masyarakat maupun pedagang karena ukuran mengecil, tempe dan tahu tetap dibeli masyarakat. Alhasil, produksinya juga bisa bertambah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/