alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Salurkan BLT DBHCHT Seratus Persen

Total Bantuan Mencapai Rp 4 Miliar

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Menjelang akhir tutup tahun anggaran, penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tuntas seratus persen. Bahkan, tak tanggung-tanggung total bantuan yang digelontor untuk para petani dan buruh pabrik rokok mencapai miliaran rupiah.

Setidaknya ada sekitar 1.749 penerima BLT DBHCHT tahun ini. Mereka terdiri dari 1.693 orang yang bekerja sebagai buruh petani tembakau dan 56 orang yang menjadi buruh pabrik rokok. Jika masing-masing orang menerima Rp 300 ribu perbulan selama delapan bulan, kira-kira ada sekitar Rp 4 miliar rupiah.

Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Lumajang, Murdiyanto mengatakan, sesuai arahan PMK Nomor 206 tahun 2020, penggunaan dana tersebut dibagi menjadi tiga keperuntukkan. Pertama, 50 persen untuk kesejahteraan sosial. Kedua, 25 persen untuk penegakan hukum dan terakhir 25 persen untuk kesehatan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Nah, untuk bantuan ke buruh petani tembakau atau buruh pabrik rokok itu masuk di 50 persen yang untuk kesejahteraan sosial. Jadi waktu itu kami ajukan, kemudian karena besarannya tidak boleh melebihi jumlah bantaun yang lain akhirnya kami hitung dan ketemu Rp 300 ribu sampai delapan bulan,” katanya.

Menurutnya, seluruh bantuan tersebut telah cair dan masuk ke rekening masing-masing penerima. Bahkan pada bulan November lalu, cairnya dirapel menjadi tujuh bulan karena soal administrasi. Berikutnya, untuk pencairan ke delapan atau yang terakhir disalurkan pada awal bulan Desember ini.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Menjelang akhir tutup tahun anggaran, penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tuntas seratus persen. Bahkan, tak tanggung-tanggung total bantuan yang digelontor untuk para petani dan buruh pabrik rokok mencapai miliaran rupiah.

Setidaknya ada sekitar 1.749 penerima BLT DBHCHT tahun ini. Mereka terdiri dari 1.693 orang yang bekerja sebagai buruh petani tembakau dan 56 orang yang menjadi buruh pabrik rokok. Jika masing-masing orang menerima Rp 300 ribu perbulan selama delapan bulan, kira-kira ada sekitar Rp 4 miliar rupiah.

Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Lumajang, Murdiyanto mengatakan, sesuai arahan PMK Nomor 206 tahun 2020, penggunaan dana tersebut dibagi menjadi tiga keperuntukkan. Pertama, 50 persen untuk kesejahteraan sosial. Kedua, 25 persen untuk penegakan hukum dan terakhir 25 persen untuk kesehatan.

“Nah, untuk bantuan ke buruh petani tembakau atau buruh pabrik rokok itu masuk di 50 persen yang untuk kesejahteraan sosial. Jadi waktu itu kami ajukan, kemudian karena besarannya tidak boleh melebihi jumlah bantaun yang lain akhirnya kami hitung dan ketemu Rp 300 ribu sampai delapan bulan,” katanya.

Menurutnya, seluruh bantuan tersebut telah cair dan masuk ke rekening masing-masing penerima. Bahkan pada bulan November lalu, cairnya dirapel menjadi tujuh bulan karena soal administrasi. Berikutnya, untuk pencairan ke delapan atau yang terakhir disalurkan pada awal bulan Desember ini.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Menjelang akhir tutup tahun anggaran, penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tuntas seratus persen. Bahkan, tak tanggung-tanggung total bantuan yang digelontor untuk para petani dan buruh pabrik rokok mencapai miliaran rupiah.

Setidaknya ada sekitar 1.749 penerima BLT DBHCHT tahun ini. Mereka terdiri dari 1.693 orang yang bekerja sebagai buruh petani tembakau dan 56 orang yang menjadi buruh pabrik rokok. Jika masing-masing orang menerima Rp 300 ribu perbulan selama delapan bulan, kira-kira ada sekitar Rp 4 miliar rupiah.

Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Lumajang, Murdiyanto mengatakan, sesuai arahan PMK Nomor 206 tahun 2020, penggunaan dana tersebut dibagi menjadi tiga keperuntukkan. Pertama, 50 persen untuk kesejahteraan sosial. Kedua, 25 persen untuk penegakan hukum dan terakhir 25 persen untuk kesehatan.

“Nah, untuk bantuan ke buruh petani tembakau atau buruh pabrik rokok itu masuk di 50 persen yang untuk kesejahteraan sosial. Jadi waktu itu kami ajukan, kemudian karena besarannya tidak boleh melebihi jumlah bantaun yang lain akhirnya kami hitung dan ketemu Rp 300 ribu sampai delapan bulan,” katanya.

Menurutnya, seluruh bantuan tersebut telah cair dan masuk ke rekening masing-masing penerima. Bahkan pada bulan November lalu, cairnya dirapel menjadi tujuh bulan karena soal administrasi. Berikutnya, untuk pencairan ke delapan atau yang terakhir disalurkan pada awal bulan Desember ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/