alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

ANBK SD di Lumajang Kendala Susah Sinyal

Kendala pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) di kawasan pegunungan seperti di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, perlu menjadi catatan. Sebab, ANBK bukannya dikerjakan di sekolah, tetapi di teras rumah warga.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari pertama pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) jenjang sekolah dasar (SD) sederajat terbilang lancar. Namun, di kawasan sekolah pinggiran seperti di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, tidak selalu berjalan mulus. Pelaksanaannya terhambat oleh sinyal dan listrik padam.

Kepala Sekolah SDN 02 Argosari, Kecamatan Senduro, Abdul Adim mengungkapkan bahwa sebelum pelaksanaan, pihaknya melakukan survei lokasi. Sebab, sinyal di lingkungan sekolah sangat tidak mendukung. Bahkan, sekadar membuka media sosial saja kesulitan. Dengan begitu, selama dua pekan beragam uji coba dilakukan.

“Dua pekan sebelum ANBK, kami petakan untuk mencari sinyal. Hasilnya, ada salah satu rumah warga yang menjadi titik sinyal paling kuat. Sehingga pelaksanaannya diputuskan di teras rumah warga Dusun Gedok, Desa Argosari. Jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah. Jarak ini juga berada di pertengahan jalur menuju kawasan wisata B29 Argosari,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di ketinggian sekitar 2,4 ribu meter di atas permukaan laut, para siswa masih bersemangat. Meski terlihat kesulitan mengerjakan soal, mereka tetap menyelesaikan ANBK di tengah sulitnya sinyak karena kabut. “Terus terang, di lingkungan sekolah sinyal tidak ada (lemah, Red). Jadi, pelaksanaan seratus persen tidak bisa di sekolah,” tambahnya.

Dia berharap, rencana pembangunan tower penguat sinyal dari pemerintah terwujud. Sebab, hal itu sangat mendukung pelaksanaan pendidikan di wilayahnya. Khususnya, di Desa Argosari.

Sementara itu, di SD Negeri 01 Argosari, masalah serupa juga dikeluhkan. Akibatnya, pelaksanaan ANBK menyebar di empat titik. Satu siswa di atap kamar mandi, sisanya di atas bukit sekitar rumah warga hingga perbatasan Lumajang-Probolinggo. Namun, saat pelaksanaan sesi dua atau siang, hujan mengguyur cukup deras dan listrik padam. Akibatnya, pelaksanaan ANBK dilakukan di dalam ruang guru.

“Pertama, kondisi cuaca sering hujan sehingga sinyal sulit. Kalau kondisi cerah, siswa bisa mengerjakan di tempat lain. Selain itu, listrik juga sering padam seperti sekarang (kemarin, Red). Jadi, elektronik tidak bisa digunakan. Anak-anak bergantian mengerjakan ANBK karena salah satu laptop mati,” pungkas Eko Prayogo, wali kelas V SDN 01 Argosari.

 

 

Perlu Suntikan Bantuan Sarpras

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari pertama pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) jenjang sekolah dasar (SD) sederajat terbilang lancar. Namun, di kawasan sekolah pinggiran seperti di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, tidak selalu berjalan mulus. Pelaksanaannya terhambat oleh sinyal dan listrik padam.

Kepala Sekolah SDN 02 Argosari, Kecamatan Senduro, Abdul Adim mengungkapkan bahwa sebelum pelaksanaan, pihaknya melakukan survei lokasi. Sebab, sinyal di lingkungan sekolah sangat tidak mendukung. Bahkan, sekadar membuka media sosial saja kesulitan. Dengan begitu, selama dua pekan beragam uji coba dilakukan.

“Dua pekan sebelum ANBK, kami petakan untuk mencari sinyal. Hasilnya, ada salah satu rumah warga yang menjadi titik sinyal paling kuat. Sehingga pelaksanaannya diputuskan di teras rumah warga Dusun Gedok, Desa Argosari. Jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah. Jarak ini juga berada di pertengahan jalur menuju kawasan wisata B29 Argosari,” katanya.

Di ketinggian sekitar 2,4 ribu meter di atas permukaan laut, para siswa masih bersemangat. Meski terlihat kesulitan mengerjakan soal, mereka tetap menyelesaikan ANBK di tengah sulitnya sinyak karena kabut. “Terus terang, di lingkungan sekolah sinyal tidak ada (lemah, Red). Jadi, pelaksanaan seratus persen tidak bisa di sekolah,” tambahnya.

Dia berharap, rencana pembangunan tower penguat sinyal dari pemerintah terwujud. Sebab, hal itu sangat mendukung pelaksanaan pendidikan di wilayahnya. Khususnya, di Desa Argosari.

Sementara itu, di SD Negeri 01 Argosari, masalah serupa juga dikeluhkan. Akibatnya, pelaksanaan ANBK menyebar di empat titik. Satu siswa di atap kamar mandi, sisanya di atas bukit sekitar rumah warga hingga perbatasan Lumajang-Probolinggo. Namun, saat pelaksanaan sesi dua atau siang, hujan mengguyur cukup deras dan listrik padam. Akibatnya, pelaksanaan ANBK dilakukan di dalam ruang guru.

“Pertama, kondisi cuaca sering hujan sehingga sinyal sulit. Kalau kondisi cerah, siswa bisa mengerjakan di tempat lain. Selain itu, listrik juga sering padam seperti sekarang (kemarin, Red). Jadi, elektronik tidak bisa digunakan. Anak-anak bergantian mengerjakan ANBK karena salah satu laptop mati,” pungkas Eko Prayogo, wali kelas V SDN 01 Argosari.

 

 

Perlu Suntikan Bantuan Sarpras

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari pertama pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) jenjang sekolah dasar (SD) sederajat terbilang lancar. Namun, di kawasan sekolah pinggiran seperti di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, tidak selalu berjalan mulus. Pelaksanaannya terhambat oleh sinyal dan listrik padam.

Kepala Sekolah SDN 02 Argosari, Kecamatan Senduro, Abdul Adim mengungkapkan bahwa sebelum pelaksanaan, pihaknya melakukan survei lokasi. Sebab, sinyal di lingkungan sekolah sangat tidak mendukung. Bahkan, sekadar membuka media sosial saja kesulitan. Dengan begitu, selama dua pekan beragam uji coba dilakukan.

“Dua pekan sebelum ANBK, kami petakan untuk mencari sinyal. Hasilnya, ada salah satu rumah warga yang menjadi titik sinyal paling kuat. Sehingga pelaksanaannya diputuskan di teras rumah warga Dusun Gedok, Desa Argosari. Jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah. Jarak ini juga berada di pertengahan jalur menuju kawasan wisata B29 Argosari,” katanya.

Di ketinggian sekitar 2,4 ribu meter di atas permukaan laut, para siswa masih bersemangat. Meski terlihat kesulitan mengerjakan soal, mereka tetap menyelesaikan ANBK di tengah sulitnya sinyak karena kabut. “Terus terang, di lingkungan sekolah sinyal tidak ada (lemah, Red). Jadi, pelaksanaan seratus persen tidak bisa di sekolah,” tambahnya.

Dia berharap, rencana pembangunan tower penguat sinyal dari pemerintah terwujud. Sebab, hal itu sangat mendukung pelaksanaan pendidikan di wilayahnya. Khususnya, di Desa Argosari.

Sementara itu, di SD Negeri 01 Argosari, masalah serupa juga dikeluhkan. Akibatnya, pelaksanaan ANBK menyebar di empat titik. Satu siswa di atap kamar mandi, sisanya di atas bukit sekitar rumah warga hingga perbatasan Lumajang-Probolinggo. Namun, saat pelaksanaan sesi dua atau siang, hujan mengguyur cukup deras dan listrik padam. Akibatnya, pelaksanaan ANBK dilakukan di dalam ruang guru.

“Pertama, kondisi cuaca sering hujan sehingga sinyal sulit. Kalau kondisi cerah, siswa bisa mengerjakan di tempat lain. Selain itu, listrik juga sering padam seperti sekarang (kemarin, Red). Jadi, elektronik tidak bisa digunakan. Anak-anak bergantian mengerjakan ANBK karena salah satu laptop mati,” pungkas Eko Prayogo, wali kelas V SDN 01 Argosari.

 

 

Perlu Suntikan Bantuan Sarpras

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/