alexametrics
23.8 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Pembatik Juga Ada Uji Kompetensinya, Apa Saja?

Melalui Uji Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Batik tulis masih banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Terutama batik tulis Lumajang yang memiliki banyak motif. Namun, di balik pembuatan batik tulis tersebut, para pembatik, baik pekerja maupun pelaku usaha, tidak hanya sudah berpengalaman membatik. Melainkan juga harus terverifikasi sebagai pembatik yang berkompeten.

Oleh sebab itu, sebanyak 50 pembatik mengikuti uji kompetensi batik tulis di Desa Kebonagung, Sukodono. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 30 orang mengikuti uji kompetensi pada Senin, awal pekan lalu. Sementara, sisanya mengikuti ujian, kemarin.

Naimah, salah satu peserta uji kompetensi, mengungkapkan, dirinya sempat kesulitan menjawab pertanyaan penguji. Meski sudah lima tahun menjalani usaha batik tulis, perempuan asal Desa Tawonsongo, Pasrujambe, tersebut belum mengenal batik secara dalam dan luas. “Bingung membedakan alat dan bahan batiknya. Tetapi, saya niatkan belajar di sini. Karena saya ingin keterampilan membatik dan potensi usaha batik bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Widiharso, Asesor Batik dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), mengatakan, uji kompetensi dilakukan untuk meningkatkan mutu sumber daya pelaku batik. Hal tersebut mencakup tiga kompetensi yang diuji. Yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

“Pengetahuan itu meliputi pengetahuan membatik, pengetahuan kesehariannya, dan hal lain yang mencakup pekerjaan. Kedua adalah keterampilan. Mereka akan unjuk kerja atau demonstrasi membatik sesuai kaidah-kaidah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI, Red). Ketiga adalah sikap kerja para pelaku batik,” katanya.

Seseorang, lanjut Widi, dikatakan berkompeten apabila tiga hal tersebut terwujud menjadi satu. “Misalnya pengetahuan bagus, keterampilannya tidak, maka tidak berkompeten. Atau keterampilannya bagus, tetapi sikapnya merugikan lingkungan kerja, juga tidak termasuk,” lanjutnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Batik tulis masih banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Terutama batik tulis Lumajang yang memiliki banyak motif. Namun, di balik pembuatan batik tulis tersebut, para pembatik, baik pekerja maupun pelaku usaha, tidak hanya sudah berpengalaman membatik. Melainkan juga harus terverifikasi sebagai pembatik yang berkompeten.

Oleh sebab itu, sebanyak 50 pembatik mengikuti uji kompetensi batik tulis di Desa Kebonagung, Sukodono. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 30 orang mengikuti uji kompetensi pada Senin, awal pekan lalu. Sementara, sisanya mengikuti ujian, kemarin.

Naimah, salah satu peserta uji kompetensi, mengungkapkan, dirinya sempat kesulitan menjawab pertanyaan penguji. Meski sudah lima tahun menjalani usaha batik tulis, perempuan asal Desa Tawonsongo, Pasrujambe, tersebut belum mengenal batik secara dalam dan luas. “Bingung membedakan alat dan bahan batiknya. Tetapi, saya niatkan belajar di sini. Karena saya ingin keterampilan membatik dan potensi usaha batik bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Widiharso, Asesor Batik dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), mengatakan, uji kompetensi dilakukan untuk meningkatkan mutu sumber daya pelaku batik. Hal tersebut mencakup tiga kompetensi yang diuji. Yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

“Pengetahuan itu meliputi pengetahuan membatik, pengetahuan kesehariannya, dan hal lain yang mencakup pekerjaan. Kedua adalah keterampilan. Mereka akan unjuk kerja atau demonstrasi membatik sesuai kaidah-kaidah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI, Red). Ketiga adalah sikap kerja para pelaku batik,” katanya.

Seseorang, lanjut Widi, dikatakan berkompeten apabila tiga hal tersebut terwujud menjadi satu. “Misalnya pengetahuan bagus, keterampilannya tidak, maka tidak berkompeten. Atau keterampilannya bagus, tetapi sikapnya merugikan lingkungan kerja, juga tidak termasuk,” lanjutnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Batik tulis masih banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Terutama batik tulis Lumajang yang memiliki banyak motif. Namun, di balik pembuatan batik tulis tersebut, para pembatik, baik pekerja maupun pelaku usaha, tidak hanya sudah berpengalaman membatik. Melainkan juga harus terverifikasi sebagai pembatik yang berkompeten.

Oleh sebab itu, sebanyak 50 pembatik mengikuti uji kompetensi batik tulis di Desa Kebonagung, Sukodono. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 30 orang mengikuti uji kompetensi pada Senin, awal pekan lalu. Sementara, sisanya mengikuti ujian, kemarin.

Naimah, salah satu peserta uji kompetensi, mengungkapkan, dirinya sempat kesulitan menjawab pertanyaan penguji. Meski sudah lima tahun menjalani usaha batik tulis, perempuan asal Desa Tawonsongo, Pasrujambe, tersebut belum mengenal batik secara dalam dan luas. “Bingung membedakan alat dan bahan batiknya. Tetapi, saya niatkan belajar di sini. Karena saya ingin keterampilan membatik dan potensi usaha batik bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Widiharso, Asesor Batik dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), mengatakan, uji kompetensi dilakukan untuk meningkatkan mutu sumber daya pelaku batik. Hal tersebut mencakup tiga kompetensi yang diuji. Yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

“Pengetahuan itu meliputi pengetahuan membatik, pengetahuan kesehariannya, dan hal lain yang mencakup pekerjaan. Kedua adalah keterampilan. Mereka akan unjuk kerja atau demonstrasi membatik sesuai kaidah-kaidah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI, Red). Ketiga adalah sikap kerja para pelaku batik,” katanya.

Seseorang, lanjut Widi, dikatakan berkompeten apabila tiga hal tersebut terwujud menjadi satu. “Misalnya pengetahuan bagus, keterampilannya tidak, maka tidak berkompeten. Atau keterampilannya bagus, tetapi sikapnya merugikan lingkungan kerja, juga tidak termasuk,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/