alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Tolak Bala dengan Boneka, Dipercaya Bisa Mengusir Korona

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa hari ini, publik ramai dengan fenomena pagebluk yang terjadi di sejumlah daerah. Pagebluk menurut orang Jawa diartikan sebagai suatu wabah, epidemi, atau penyakit berbahaya menular. Masyarakat meyakini pagebluk dapat membuat orang meninggal secara mendadak dengan jumlah besar.

Nah, masyarakat memiliki cara tersendiri menyikapi hal tersebut. Seperti yang dilakukan warga Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Mereka beramai-ramai membuat boneka dari barang bekas dan diletakkan di depan rumah. Mereka percaya, boneka tersebut bisa menolak bala, terutama di masa pandemi ini.

Sumali, salah satu warga setempat, mengungkapkan, boneka tersebut dipasang sejak Jumat lalu. Warga serentak membuat boneka setelah melakukan salat dan doa tolak bala, serta mengadakan kegiatan keagamaan lainnya. “Kamis malam, kami bersama-sama salat dan berdoa di masjid. Pagi harinya, kami bersama-sama membuat boneka seperti ini,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Boneka tersebut mirip orang-orangan sawah. Namun, jika orang-orangan sawah diletakkan di tengah sawah untuk mengusir hama, warga memasangnya di depan rumah untuk mengusir korona. Dia mengatakan, pembuatan boneka tersebut tidak sulit. Sebab, hanya membutuhkan sejumlah barang bekas. “Bisa dengan pakaian bekas, kayu, atau barang bekas lainnya. Tidak ada ketentuan khusus,” tambahnya.

Sementara itu, H Husni, tokoh agama setempat, menjelaskan, awalnya masyarakat menganggap hal tersebut bertentangan dengan keyakinan agama. Tetapi, itu seperti budaya masyarakat masa lalu saat menghadapi pagebluk. “Kalau tahun 1960-an, orang zaman dulu juga membuat penangkal pagebluk. Namun berbeda. Dulu lebih ekstrem. Bonekanya juga terbuat dari bahan-bahan khusus. Air dalam ember juga diberi bunga-bunga. Kalau sekarang ini, masyarakat membuat dari bahan seadanya. Tetapi, itu hanya bagian dari cara saja. Sedangkan ikhtiar untuk tetap berdoa dan menjaga diri harus selalu yang utama,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa hari ini, publik ramai dengan fenomena pagebluk yang terjadi di sejumlah daerah. Pagebluk menurut orang Jawa diartikan sebagai suatu wabah, epidemi, atau penyakit berbahaya menular. Masyarakat meyakini pagebluk dapat membuat orang meninggal secara mendadak dengan jumlah besar.

Nah, masyarakat memiliki cara tersendiri menyikapi hal tersebut. Seperti yang dilakukan warga Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Mereka beramai-ramai membuat boneka dari barang bekas dan diletakkan di depan rumah. Mereka percaya, boneka tersebut bisa menolak bala, terutama di masa pandemi ini.

Sumali, salah satu warga setempat, mengungkapkan, boneka tersebut dipasang sejak Jumat lalu. Warga serentak membuat boneka setelah melakukan salat dan doa tolak bala, serta mengadakan kegiatan keagamaan lainnya. “Kamis malam, kami bersama-sama salat dan berdoa di masjid. Pagi harinya, kami bersama-sama membuat boneka seperti ini,” ungkapnya.

Boneka tersebut mirip orang-orangan sawah. Namun, jika orang-orangan sawah diletakkan di tengah sawah untuk mengusir hama, warga memasangnya di depan rumah untuk mengusir korona. Dia mengatakan, pembuatan boneka tersebut tidak sulit. Sebab, hanya membutuhkan sejumlah barang bekas. “Bisa dengan pakaian bekas, kayu, atau barang bekas lainnya. Tidak ada ketentuan khusus,” tambahnya.

Sementara itu, H Husni, tokoh agama setempat, menjelaskan, awalnya masyarakat menganggap hal tersebut bertentangan dengan keyakinan agama. Tetapi, itu seperti budaya masyarakat masa lalu saat menghadapi pagebluk. “Kalau tahun 1960-an, orang zaman dulu juga membuat penangkal pagebluk. Namun berbeda. Dulu lebih ekstrem. Bonekanya juga terbuat dari bahan-bahan khusus. Air dalam ember juga diberi bunga-bunga. Kalau sekarang ini, masyarakat membuat dari bahan seadanya. Tetapi, itu hanya bagian dari cara saja. Sedangkan ikhtiar untuk tetap berdoa dan menjaga diri harus selalu yang utama,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa hari ini, publik ramai dengan fenomena pagebluk yang terjadi di sejumlah daerah. Pagebluk menurut orang Jawa diartikan sebagai suatu wabah, epidemi, atau penyakit berbahaya menular. Masyarakat meyakini pagebluk dapat membuat orang meninggal secara mendadak dengan jumlah besar.

Nah, masyarakat memiliki cara tersendiri menyikapi hal tersebut. Seperti yang dilakukan warga Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Mereka beramai-ramai membuat boneka dari barang bekas dan diletakkan di depan rumah. Mereka percaya, boneka tersebut bisa menolak bala, terutama di masa pandemi ini.

Sumali, salah satu warga setempat, mengungkapkan, boneka tersebut dipasang sejak Jumat lalu. Warga serentak membuat boneka setelah melakukan salat dan doa tolak bala, serta mengadakan kegiatan keagamaan lainnya. “Kamis malam, kami bersama-sama salat dan berdoa di masjid. Pagi harinya, kami bersama-sama membuat boneka seperti ini,” ungkapnya.

Boneka tersebut mirip orang-orangan sawah. Namun, jika orang-orangan sawah diletakkan di tengah sawah untuk mengusir hama, warga memasangnya di depan rumah untuk mengusir korona. Dia mengatakan, pembuatan boneka tersebut tidak sulit. Sebab, hanya membutuhkan sejumlah barang bekas. “Bisa dengan pakaian bekas, kayu, atau barang bekas lainnya. Tidak ada ketentuan khusus,” tambahnya.

Sementara itu, H Husni, tokoh agama setempat, menjelaskan, awalnya masyarakat menganggap hal tersebut bertentangan dengan keyakinan agama. Tetapi, itu seperti budaya masyarakat masa lalu saat menghadapi pagebluk. “Kalau tahun 1960-an, orang zaman dulu juga membuat penangkal pagebluk. Namun berbeda. Dulu lebih ekstrem. Bonekanya juga terbuat dari bahan-bahan khusus. Air dalam ember juga diberi bunga-bunga. Kalau sekarang ini, masyarakat membuat dari bahan seadanya. Tetapi, itu hanya bagian dari cara saja. Sedangkan ikhtiar untuk tetap berdoa dan menjaga diri harus selalu yang utama,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/