alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Yakin Rezeki Tidak Akan Tertukar

Saman, Lansia Penjual Bubur Campur di Jalan PB Sudirman Usia boleh saja tua, namun semangat harus terus muda dan membara. Itulah prinsip yang dipegang Saman, penjual bubur campur di Jalan PB Sudirman, Tompokersan. Baginya, keseriusan dalam berusaha akan membukakan pintu rezeki dari mana saja.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jenang grendul atau jenang sapar menjadi bagian tak terpisahkan dari bubur. Sebab, kehadirannya membuat bubur menjadi lebih nikmat. Apalagi dikonsumsi saat bulan Safar, kenikmatan tiada tara. Itulah yang dijual Saman. Lelaki berusia 69 tahun tersebut tetap setia menjualnya.

Topi hitam melekat di kepalanya. Tangannya cekatan menuangkan adonan bubur di piring. Iya, dia sedang melayani pembeli bubur campur di gerobaknya. Selama puluhan tahun, dia masih setia berjualan. Mulai dari mi ayam hingga bubur campur. “Sejak muda saya sudah berjualan. Bermacam-macam saya coba. Terakhir ya bubur campur ini,” ucapnya, lalu menunjukkan gerobak miliknya.

Lelaki asal Gadingsari tersebut mengungkapkan, profesi pedagang ditekuni sejak lama. Awalnya, dia ditemani istrinya. Namun, beberapa tahun terakhir, dia harus berjualan sendirian. “Istri sakit kencing manis. Jadi, dia di rumah dan saya yang jualan. Kadang-kadang istri juga bantu, tetapi tidak banyak. Karena kesehatannya tidak mendukung, saya suruh istirahat saja,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, sakit yang diderita istrinya sudah lama. Namun, hingga kini belum sembuh. Karena itu, dia harus menyiapkannya sendiri. “Saya bangun pukul empat pagi. Lalu, masak hingga pukul delapan. Pukul setengah sembilan saya sudah siap di sini dengan gerobak saya,” ucapnya.

Selama enam jam dia berjualan di samping jalan. Di depan sebuah ruko tua, dia memarkir gerobaknya. Tak ada ajakan untuk membeli dagangannya. Dia yakin, rezeki seseorang tidak pernah tertukar. “Saya selalu percaya, rezeki tidak pernah tertukar. Ada yang beli, ya harus disyukuri. Kalau tidak ada yang beli, ya dibawa pulang dan dimakan bersama,” ujar bapak tiga anak tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jenang grendul atau jenang sapar menjadi bagian tak terpisahkan dari bubur. Sebab, kehadirannya membuat bubur menjadi lebih nikmat. Apalagi dikonsumsi saat bulan Safar, kenikmatan tiada tara. Itulah yang dijual Saman. Lelaki berusia 69 tahun tersebut tetap setia menjualnya.

Topi hitam melekat di kepalanya. Tangannya cekatan menuangkan adonan bubur di piring. Iya, dia sedang melayani pembeli bubur campur di gerobaknya. Selama puluhan tahun, dia masih setia berjualan. Mulai dari mi ayam hingga bubur campur. “Sejak muda saya sudah berjualan. Bermacam-macam saya coba. Terakhir ya bubur campur ini,” ucapnya, lalu menunjukkan gerobak miliknya.

Lelaki asal Gadingsari tersebut mengungkapkan, profesi pedagang ditekuni sejak lama. Awalnya, dia ditemani istrinya. Namun, beberapa tahun terakhir, dia harus berjualan sendirian. “Istri sakit kencing manis. Jadi, dia di rumah dan saya yang jualan. Kadang-kadang istri juga bantu, tetapi tidak banyak. Karena kesehatannya tidak mendukung, saya suruh istirahat saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sakit yang diderita istrinya sudah lama. Namun, hingga kini belum sembuh. Karena itu, dia harus menyiapkannya sendiri. “Saya bangun pukul empat pagi. Lalu, masak hingga pukul delapan. Pukul setengah sembilan saya sudah siap di sini dengan gerobak saya,” ucapnya.

Selama enam jam dia berjualan di samping jalan. Di depan sebuah ruko tua, dia memarkir gerobaknya. Tak ada ajakan untuk membeli dagangannya. Dia yakin, rezeki seseorang tidak pernah tertukar. “Saya selalu percaya, rezeki tidak pernah tertukar. Ada yang beli, ya harus disyukuri. Kalau tidak ada yang beli, ya dibawa pulang dan dimakan bersama,” ujar bapak tiga anak tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jenang grendul atau jenang sapar menjadi bagian tak terpisahkan dari bubur. Sebab, kehadirannya membuat bubur menjadi lebih nikmat. Apalagi dikonsumsi saat bulan Safar, kenikmatan tiada tara. Itulah yang dijual Saman. Lelaki berusia 69 tahun tersebut tetap setia menjualnya.

Topi hitam melekat di kepalanya. Tangannya cekatan menuangkan adonan bubur di piring. Iya, dia sedang melayani pembeli bubur campur di gerobaknya. Selama puluhan tahun, dia masih setia berjualan. Mulai dari mi ayam hingga bubur campur. “Sejak muda saya sudah berjualan. Bermacam-macam saya coba. Terakhir ya bubur campur ini,” ucapnya, lalu menunjukkan gerobak miliknya.

Lelaki asal Gadingsari tersebut mengungkapkan, profesi pedagang ditekuni sejak lama. Awalnya, dia ditemani istrinya. Namun, beberapa tahun terakhir, dia harus berjualan sendirian. “Istri sakit kencing manis. Jadi, dia di rumah dan saya yang jualan. Kadang-kadang istri juga bantu, tetapi tidak banyak. Karena kesehatannya tidak mendukung, saya suruh istirahat saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sakit yang diderita istrinya sudah lama. Namun, hingga kini belum sembuh. Karena itu, dia harus menyiapkannya sendiri. “Saya bangun pukul empat pagi. Lalu, masak hingga pukul delapan. Pukul setengah sembilan saya sudah siap di sini dengan gerobak saya,” ucapnya.

Selama enam jam dia berjualan di samping jalan. Di depan sebuah ruko tua, dia memarkir gerobaknya. Tak ada ajakan untuk membeli dagangannya. Dia yakin, rezeki seseorang tidak pernah tertukar. “Saya selalu percaya, rezeki tidak pernah tertukar. Ada yang beli, ya harus disyukuri. Kalau tidak ada yang beli, ya dibawa pulang dan dimakan bersama,” ujar bapak tiga anak tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/