alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Tertekan, Foto Lama Diunggah Lagi

Korban dan Keluarga Takut Lapor Polisi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jangan mudah percaya kepada seseorang yang tidak dikenal di sosial media. Apalagi sampai mengirimkan foto diri tanpa busana. Sebab, hal tersebut membuka peluang pelaku kejahatan lebih leluasa. Menyimpan foto dan digunakan sebagai ancaman di masa mendatang.

Seperti yang dialami oleh SG, pelajar kelas 12 di salah satu SMA swasta di Lumajang. Dia menjadi korban penyebaran foto porno oleh teman medsos yang tidak dikenalnya. Menurut Ari, teman korban, penyebaran foto terjadi pada tahun 2017. Saat itu, korban masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

“Awalnya, mereka berteman di Facebook. Tetapi, teman saya tidak mengenalnya. Nah, pelaku meminta teman saya untuk foto biasa, lalu tanpa busana dan mengirim kepadanya. Karena usianya masih SMP dan belum memahami, dia mengirim foto itu tanpa curiga sedikit pun,” ujar Ari kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pelaku, lanjut dia, meminta foto lain dari korban dengan ancaman menyebarkan foto pertama ke teman-temannya. Karena takut, korban menurutinya. Setelah beberapa kali mengirim, korban sadar hal tersebut tidak benar. Akhirnya, dia berhenti mengirim ke pelaku dan memutuskan menutup akun Facebook-nya. “Saking takutnya, sampai sekarang dia tidak pernah menggunakan akun Facebook,” katanya.

Hal tersebut membuat korban trauma. Sebab, hinaan dan rundungan datang bertubi-tubi. Menurut Ari, korban dan keluarga takut untuk melaporkan ke pihak kepolisian. “Tetangga, teman, dan banyak orang sudah tahu kasus ini. Tetapi, saat itu mereka tidak mau menempuh jalur hukum karena takut. Akhirnya, dipendam sampai sekarang,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jangan mudah percaya kepada seseorang yang tidak dikenal di sosial media. Apalagi sampai mengirimkan foto diri tanpa busana. Sebab, hal tersebut membuka peluang pelaku kejahatan lebih leluasa. Menyimpan foto dan digunakan sebagai ancaman di masa mendatang.

Seperti yang dialami oleh SG, pelajar kelas 12 di salah satu SMA swasta di Lumajang. Dia menjadi korban penyebaran foto porno oleh teman medsos yang tidak dikenalnya. Menurut Ari, teman korban, penyebaran foto terjadi pada tahun 2017. Saat itu, korban masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

“Awalnya, mereka berteman di Facebook. Tetapi, teman saya tidak mengenalnya. Nah, pelaku meminta teman saya untuk foto biasa, lalu tanpa busana dan mengirim kepadanya. Karena usianya masih SMP dan belum memahami, dia mengirim foto itu tanpa curiga sedikit pun,” ujar Ari kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Pelaku, lanjut dia, meminta foto lain dari korban dengan ancaman menyebarkan foto pertama ke teman-temannya. Karena takut, korban menurutinya. Setelah beberapa kali mengirim, korban sadar hal tersebut tidak benar. Akhirnya, dia berhenti mengirim ke pelaku dan memutuskan menutup akun Facebook-nya. “Saking takutnya, sampai sekarang dia tidak pernah menggunakan akun Facebook,” katanya.

Hal tersebut membuat korban trauma. Sebab, hinaan dan rundungan datang bertubi-tubi. Menurut Ari, korban dan keluarga takut untuk melaporkan ke pihak kepolisian. “Tetangga, teman, dan banyak orang sudah tahu kasus ini. Tetapi, saat itu mereka tidak mau menempuh jalur hukum karena takut. Akhirnya, dipendam sampai sekarang,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jangan mudah percaya kepada seseorang yang tidak dikenal di sosial media. Apalagi sampai mengirimkan foto diri tanpa busana. Sebab, hal tersebut membuka peluang pelaku kejahatan lebih leluasa. Menyimpan foto dan digunakan sebagai ancaman di masa mendatang.

Seperti yang dialami oleh SG, pelajar kelas 12 di salah satu SMA swasta di Lumajang. Dia menjadi korban penyebaran foto porno oleh teman medsos yang tidak dikenalnya. Menurut Ari, teman korban, penyebaran foto terjadi pada tahun 2017. Saat itu, korban masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

“Awalnya, mereka berteman di Facebook. Tetapi, teman saya tidak mengenalnya. Nah, pelaku meminta teman saya untuk foto biasa, lalu tanpa busana dan mengirim kepadanya. Karena usianya masih SMP dan belum memahami, dia mengirim foto itu tanpa curiga sedikit pun,” ujar Ari kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Pelaku, lanjut dia, meminta foto lain dari korban dengan ancaman menyebarkan foto pertama ke teman-temannya. Karena takut, korban menurutinya. Setelah beberapa kali mengirim, korban sadar hal tersebut tidak benar. Akhirnya, dia berhenti mengirim ke pelaku dan memutuskan menutup akun Facebook-nya. “Saking takutnya, sampai sekarang dia tidak pernah menggunakan akun Facebook,” katanya.

Hal tersebut membuat korban trauma. Sebab, hinaan dan rundungan datang bertubi-tubi. Menurut Ari, korban dan keluarga takut untuk melaporkan ke pihak kepolisian. “Tetangga, teman, dan banyak orang sudah tahu kasus ini. Tetapi, saat itu mereka tidak mau menempuh jalur hukum karena takut. Akhirnya, dipendam sampai sekarang,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/