alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

50% Pengungsi Gunung Semeru Terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Atas

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pascabencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, ribuan orang mengeluhkan sejumlah penyakit. Lebih dari 50 persen orang yang mengungsi terpapar infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Mereka berbondong-bondong memeriksakan diri ke layanan fasilitas kesehatan.

Informasi yang berhasil dihimpun tim Radar Semeru, sebanyak 2.073 orang menjalani rawat jalan di puskesmas dan posko kesehatan. Diagnosis tiga penyakit terbanyak adalah ISPA, myalgia, dan cephalgia. Meski demikian, 146 tim medis sudah disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Lumajang dr Bayu Wibowo mengatakan, ISPA menjadi penyakit yang banyak dikeluhkan oleh para pengungsi. Sedikitnya, 400 orang meminta penanganan penyakit tersebut setiap hari. Baik di puskesmas maupun posko pengungsian. Oleh karena itu, kunjungan terbanyak di fasilitas kesehatan adalah penderita ISPA.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terpapar. Sebab, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, jumlah anak-anak yang mengungsi mencapai 1.633 jiwa. “Oleh karena itu, masyarakat yang mengungsi juga harus memperhatikan kesehatannya. Jika mengalami gejala ISPA, langsung periksa, minum obat, dan istirahat yang cukup. Paling penting juga harus selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

dr Bayu menjelaskan, normalnya ISPA terjadi dalam 3-5 hari. Jika lebih, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri lebih lanjut ke faskes atau posko kesehatan yang ada di tempat pengungsian. Sebab, ribuan tenaga kesehatan (nakes) siap melayani masyarakat 24 jam.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pascabencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, ribuan orang mengeluhkan sejumlah penyakit. Lebih dari 50 persen orang yang mengungsi terpapar infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Mereka berbondong-bondong memeriksakan diri ke layanan fasilitas kesehatan.

Informasi yang berhasil dihimpun tim Radar Semeru, sebanyak 2.073 orang menjalani rawat jalan di puskesmas dan posko kesehatan. Diagnosis tiga penyakit terbanyak adalah ISPA, myalgia, dan cephalgia. Meski demikian, 146 tim medis sudah disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Lumajang dr Bayu Wibowo mengatakan, ISPA menjadi penyakit yang banyak dikeluhkan oleh para pengungsi. Sedikitnya, 400 orang meminta penanganan penyakit tersebut setiap hari. Baik di puskesmas maupun posko pengungsian. Oleh karena itu, kunjungan terbanyak di fasilitas kesehatan adalah penderita ISPA.

Sementara itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terpapar. Sebab, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, jumlah anak-anak yang mengungsi mencapai 1.633 jiwa. “Oleh karena itu, masyarakat yang mengungsi juga harus memperhatikan kesehatannya. Jika mengalami gejala ISPA, langsung periksa, minum obat, dan istirahat yang cukup. Paling penting juga harus selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

dr Bayu menjelaskan, normalnya ISPA terjadi dalam 3-5 hari. Jika lebih, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri lebih lanjut ke faskes atau posko kesehatan yang ada di tempat pengungsian. Sebab, ribuan tenaga kesehatan (nakes) siap melayani masyarakat 24 jam.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pascabencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, ribuan orang mengeluhkan sejumlah penyakit. Lebih dari 50 persen orang yang mengungsi terpapar infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Mereka berbondong-bondong memeriksakan diri ke layanan fasilitas kesehatan.

Informasi yang berhasil dihimpun tim Radar Semeru, sebanyak 2.073 orang menjalani rawat jalan di puskesmas dan posko kesehatan. Diagnosis tiga penyakit terbanyak adalah ISPA, myalgia, dan cephalgia. Meski demikian, 146 tim medis sudah disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Lumajang dr Bayu Wibowo mengatakan, ISPA menjadi penyakit yang banyak dikeluhkan oleh para pengungsi. Sedikitnya, 400 orang meminta penanganan penyakit tersebut setiap hari. Baik di puskesmas maupun posko pengungsian. Oleh karena itu, kunjungan terbanyak di fasilitas kesehatan adalah penderita ISPA.

Sementara itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terpapar. Sebab, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, jumlah anak-anak yang mengungsi mencapai 1.633 jiwa. “Oleh karena itu, masyarakat yang mengungsi juga harus memperhatikan kesehatannya. Jika mengalami gejala ISPA, langsung periksa, minum obat, dan istirahat yang cukup. Paling penting juga harus selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

dr Bayu menjelaskan, normalnya ISPA terjadi dalam 3-5 hari. Jika lebih, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri lebih lanjut ke faskes atau posko kesehatan yang ada di tempat pengungsian. Sebab, ribuan tenaga kesehatan (nakes) siap melayani masyarakat 24 jam.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/