alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Sempat Ditentang Warga Setempat

Cerita di Balik Wisata Kali Sejuk Purwosono\ Memang, memulai sesuatu yang baik sekaligus baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Begitu juga yang dirasakan Kepala Desa Purwosono, Sumbersuko, dalam mengubah sungai kotor menjadi tempat wisata. Banyak masyarakat yang menentang. Bahkan, tidak sedikit pula yang tidak percaya dapat menghasilkan pundi-pundi keuntungan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak pernah ada yang menyangka, aliran sungai yang penuh dengan sampah itu mendatangkan berkah. Iya, aliran sungai yang berada di Dusun Darungan, Purwosono, tersebut kini ramai didatangi pengunjung. Padahal, dulunya masyarakat enggan untuk mendatanginya. Sebab, selain tidak enak dilihat, tumpukan sampah tersebut menimbulkan aroma tidak sedap.

Namun, hal tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Pemerintah desa melihat kondisi tersebut sebagai sebuah peluang. Program Berlian (Bersih Kali dan Bantaran) dijalankan. Aliran sungai yang kotor disulap menjadi jernih dan bersih. “Banyak yang bilang Kali Sejuk itu disulap. Padahal, kami gotong royong membersihkannya hingga sebulan,” kata Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono.

Dia menjelaskan, awalnya pihaknya berkomitmen open defecation free (ODF) atau berhenti buang air besar sembarangan (BABS). Akan tetapi, setelah dilakukan pembersihan, peluang pemberdayaan masyarakat terpampang. Aliran sungai bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sekitar dan desa.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Awalnya, ini komitmen ODF di momen Hari Sampah Nasional. Kami ada greget untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di aliran sungai di Dusun Darungan. Setelah dibersihkan, ternyata kami melihat ada potensi besar jika bisa dikelola dengan benar. Akhirnya, kami lakukan pemberdayaan untuk ekonomi masyarakat sekitar dengan mendirikan warung di sekitar sungai,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak pernah ada yang menyangka, aliran sungai yang penuh dengan sampah itu mendatangkan berkah. Iya, aliran sungai yang berada di Dusun Darungan, Purwosono, tersebut kini ramai didatangi pengunjung. Padahal, dulunya masyarakat enggan untuk mendatanginya. Sebab, selain tidak enak dilihat, tumpukan sampah tersebut menimbulkan aroma tidak sedap.

Namun, hal tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Pemerintah desa melihat kondisi tersebut sebagai sebuah peluang. Program Berlian (Bersih Kali dan Bantaran) dijalankan. Aliran sungai yang kotor disulap menjadi jernih dan bersih. “Banyak yang bilang Kali Sejuk itu disulap. Padahal, kami gotong royong membersihkannya hingga sebulan,” kata Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono.

Dia menjelaskan, awalnya pihaknya berkomitmen open defecation free (ODF) atau berhenti buang air besar sembarangan (BABS). Akan tetapi, setelah dilakukan pembersihan, peluang pemberdayaan masyarakat terpampang. Aliran sungai bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sekitar dan desa.

“Awalnya, ini komitmen ODF di momen Hari Sampah Nasional. Kami ada greget untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di aliran sungai di Dusun Darungan. Setelah dibersihkan, ternyata kami melihat ada potensi besar jika bisa dikelola dengan benar. Akhirnya, kami lakukan pemberdayaan untuk ekonomi masyarakat sekitar dengan mendirikan warung di sekitar sungai,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak pernah ada yang menyangka, aliran sungai yang penuh dengan sampah itu mendatangkan berkah. Iya, aliran sungai yang berada di Dusun Darungan, Purwosono, tersebut kini ramai didatangi pengunjung. Padahal, dulunya masyarakat enggan untuk mendatanginya. Sebab, selain tidak enak dilihat, tumpukan sampah tersebut menimbulkan aroma tidak sedap.

Namun, hal tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Pemerintah desa melihat kondisi tersebut sebagai sebuah peluang. Program Berlian (Bersih Kali dan Bantaran) dijalankan. Aliran sungai yang kotor disulap menjadi jernih dan bersih. “Banyak yang bilang Kali Sejuk itu disulap. Padahal, kami gotong royong membersihkannya hingga sebulan,” kata Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono.

Dia menjelaskan, awalnya pihaknya berkomitmen open defecation free (ODF) atau berhenti buang air besar sembarangan (BABS). Akan tetapi, setelah dilakukan pembersihan, peluang pemberdayaan masyarakat terpampang. Aliran sungai bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sekitar dan desa.

“Awalnya, ini komitmen ODF di momen Hari Sampah Nasional. Kami ada greget untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di aliran sungai di Dusun Darungan. Setelah dibersihkan, ternyata kami melihat ada potensi besar jika bisa dikelola dengan benar. Akhirnya, kami lakukan pemberdayaan untuk ekonomi masyarakat sekitar dengan mendirikan warung di sekitar sungai,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/