alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Kerja Bakti Dibayar Rp 50 per Orang

Kali Curah Menjangan Dipenuhi Walet

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dangkalnya sungai dapat disebabkan banyak faktor. Salah satunya walet yang memenuhi aliran. Hal ini tentu meresahkan. Sebab, di musim hujan, debit air yang naik akan membuat banjir. Sementara saat kemarau, air tidak dapat mengalir hingga ke hilir.

Seperti yang terlihat di Kali Curah Menjangan, Desa Selok Gondang, Sukodono. Walet memenuhi sepanjang aliran. Akibatnya, kali menjadi dangkal dan air tidak mengalir lancar. “Sudah lama kondisinya seperti itu. Dikeruk berkali-kali juga akan tetap sama. Walet-nya banyak,” ucap Mufad Samsul Anam, warga setempat.

Mufad mengatakan, walet tersebut berasal dari hulu sungai yang terbawa arus. Oleh sebab itu, letak desa yang lebih rendah menjadi tempat mengendapnya walet. “Posisi kami di daerah hilir. Sedangkan walet itu terbawa arus dari hulu sungai. Akhirnya, kami kerja bakti untuk mengeruknya,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengungkapkan, kerja bakti tersebut dilakukan sebagai upaya bersama mencegah banjir saat debit sungai penuh. “Kerja bakti ini didanai oleh desa. Setiap orang yang ikut dibayar Rp 50 ribu. Kalau tidak dibayar, warga tidak mau kerja bakti. Mentok, warga akan bersih-bersih di sekitar rumahnya. Tetapi, kalau dibayar, pengerukan dilakukan maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Selok Gondang Masturi mengatakan, kerja bakti dilakukan selama empat hari. Pihaknya mengerahkan puluhan orang untuk mengeruk walet di sungai. “Puluhan warga ikut kerja bakti. Kami melakukannya selama empat hari. Mulai hari Selasa hingga Jumat lalu,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dangkalnya sungai dapat disebabkan banyak faktor. Salah satunya walet yang memenuhi aliran. Hal ini tentu meresahkan. Sebab, di musim hujan, debit air yang naik akan membuat banjir. Sementara saat kemarau, air tidak dapat mengalir hingga ke hilir.

Seperti yang terlihat di Kali Curah Menjangan, Desa Selok Gondang, Sukodono. Walet memenuhi sepanjang aliran. Akibatnya, kali menjadi dangkal dan air tidak mengalir lancar. “Sudah lama kondisinya seperti itu. Dikeruk berkali-kali juga akan tetap sama. Walet-nya banyak,” ucap Mufad Samsul Anam, warga setempat.

Mufad mengatakan, walet tersebut berasal dari hulu sungai yang terbawa arus. Oleh sebab itu, letak desa yang lebih rendah menjadi tempat mengendapnya walet. “Posisi kami di daerah hilir. Sedangkan walet itu terbawa arus dari hulu sungai. Akhirnya, kami kerja bakti untuk mengeruknya,” katanya.

Dia mengungkapkan, kerja bakti tersebut dilakukan sebagai upaya bersama mencegah banjir saat debit sungai penuh. “Kerja bakti ini didanai oleh desa. Setiap orang yang ikut dibayar Rp 50 ribu. Kalau tidak dibayar, warga tidak mau kerja bakti. Mentok, warga akan bersih-bersih di sekitar rumahnya. Tetapi, kalau dibayar, pengerukan dilakukan maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Selok Gondang Masturi mengatakan, kerja bakti dilakukan selama empat hari. Pihaknya mengerahkan puluhan orang untuk mengeruk walet di sungai. “Puluhan warga ikut kerja bakti. Kami melakukannya selama empat hari. Mulai hari Selasa hingga Jumat lalu,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dangkalnya sungai dapat disebabkan banyak faktor. Salah satunya walet yang memenuhi aliran. Hal ini tentu meresahkan. Sebab, di musim hujan, debit air yang naik akan membuat banjir. Sementara saat kemarau, air tidak dapat mengalir hingga ke hilir.

Seperti yang terlihat di Kali Curah Menjangan, Desa Selok Gondang, Sukodono. Walet memenuhi sepanjang aliran. Akibatnya, kali menjadi dangkal dan air tidak mengalir lancar. “Sudah lama kondisinya seperti itu. Dikeruk berkali-kali juga akan tetap sama. Walet-nya banyak,” ucap Mufad Samsul Anam, warga setempat.

Mufad mengatakan, walet tersebut berasal dari hulu sungai yang terbawa arus. Oleh sebab itu, letak desa yang lebih rendah menjadi tempat mengendapnya walet. “Posisi kami di daerah hilir. Sedangkan walet itu terbawa arus dari hulu sungai. Akhirnya, kami kerja bakti untuk mengeruknya,” katanya.

Dia mengungkapkan, kerja bakti tersebut dilakukan sebagai upaya bersama mencegah banjir saat debit sungai penuh. “Kerja bakti ini didanai oleh desa. Setiap orang yang ikut dibayar Rp 50 ribu. Kalau tidak dibayar, warga tidak mau kerja bakti. Mentok, warga akan bersih-bersih di sekitar rumahnya. Tetapi, kalau dibayar, pengerukan dilakukan maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Selok Gondang Masturi mengatakan, kerja bakti dilakukan selama empat hari. Pihaknya mengerahkan puluhan orang untuk mengeruk walet di sungai. “Puluhan warga ikut kerja bakti. Kami melakukannya selama empat hari. Mulai hari Selasa hingga Jumat lalu,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/