alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Tetap Pertahankan Karyawan dan Ukuran Krupuk

Meski Terjadi Kelangkaan Minyak Goreng

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Harga minyak goreng curah di Lumajang masih belum menunjukkan kestabilan. Meski pemerintah sudah menetapkan satu harga untuk minyak goreng, jenis curah masih stagnan di harga Rp 16-18 ribu per kilogram. Harga yang masih cukup mahal itu membuat para pengusaha kerupuk dilema. Sebab, mereka tidak hanya mempertahankan usaha. Melainkan juga mempertahankan para karyawannya.

Baca Juga : Belum Lulus, Siswa SMK PPN 1 Tegalampel Diminati Perusahaan Pertanian

Seperti yang dialami salah satu pengusaha kerupuk asal Desa Sarikemuning, Kecamatan Senduro, Siti Aminah. Dia memilih tetap bertahan di tengah kondisi minyak goreng langka dan mahal. Meski pendapatannya menurun, usaha turun-temurun itu tetap harus berjalan. Sebab, dia memiliki enam karyawan yang membantunya memproduksi kerupuk setiap hari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yu Minah, sapaan akrabnya, mengatakan, sejak minyak goreng sulit didapatkan, dia berusaha mencari jalan keluar. Bersama suaminya, dia tetap mempertahankan enam karyawannya memproduksi kerupuk. Akan tetapi, karena jumlah minyak yang didapat tidak selalu sama, jam kerja karyawannya juga tak menentu. “Biasanya mereka pulang sore. Tetapi, jika hanya dapat 45 liter dan selesai goreng siang hari, ya, karyawan langsung pulang,” katanya.

Meski demikian, jumlah produksi kerupuk masih tetap sama. Dalam sehari, dia bisa memproduksi sebanyak seratus kilogram kerupuk. Oleh karena itu, dia membutuhkan sedikitnya 75 kilogram minyak goreng curah.

“Karena dibatasi belanja minyaknya, saya ajak karyawan atau tetangga membeli minyak. Selain itu, saya juga mengenakan pakaian yang berbeda untuk membeli minyak agar tidak diketahui pegawai atau pemilik toko. Kalau tidak begitu, ya, tidak bisa menggoreng kerupuk dalam jumlah banyak,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Harga minyak goreng curah di Lumajang masih belum menunjukkan kestabilan. Meski pemerintah sudah menetapkan satu harga untuk minyak goreng, jenis curah masih stagnan di harga Rp 16-18 ribu per kilogram. Harga yang masih cukup mahal itu membuat para pengusaha kerupuk dilema. Sebab, mereka tidak hanya mempertahankan usaha. Melainkan juga mempertahankan para karyawannya.

Baca Juga : Belum Lulus, Siswa SMK PPN 1 Tegalampel Diminati Perusahaan Pertanian

Seperti yang dialami salah satu pengusaha kerupuk asal Desa Sarikemuning, Kecamatan Senduro, Siti Aminah. Dia memilih tetap bertahan di tengah kondisi minyak goreng langka dan mahal. Meski pendapatannya menurun, usaha turun-temurun itu tetap harus berjalan. Sebab, dia memiliki enam karyawan yang membantunya memproduksi kerupuk setiap hari.

Yu Minah, sapaan akrabnya, mengatakan, sejak minyak goreng sulit didapatkan, dia berusaha mencari jalan keluar. Bersama suaminya, dia tetap mempertahankan enam karyawannya memproduksi kerupuk. Akan tetapi, karena jumlah minyak yang didapat tidak selalu sama, jam kerja karyawannya juga tak menentu. “Biasanya mereka pulang sore. Tetapi, jika hanya dapat 45 liter dan selesai goreng siang hari, ya, karyawan langsung pulang,” katanya.

Meski demikian, jumlah produksi kerupuk masih tetap sama. Dalam sehari, dia bisa memproduksi sebanyak seratus kilogram kerupuk. Oleh karena itu, dia membutuhkan sedikitnya 75 kilogram minyak goreng curah.

“Karena dibatasi belanja minyaknya, saya ajak karyawan atau tetangga membeli minyak. Selain itu, saya juga mengenakan pakaian yang berbeda untuk membeli minyak agar tidak diketahui pegawai atau pemilik toko. Kalau tidak begitu, ya, tidak bisa menggoreng kerupuk dalam jumlah banyak,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Harga minyak goreng curah di Lumajang masih belum menunjukkan kestabilan. Meski pemerintah sudah menetapkan satu harga untuk minyak goreng, jenis curah masih stagnan di harga Rp 16-18 ribu per kilogram. Harga yang masih cukup mahal itu membuat para pengusaha kerupuk dilema. Sebab, mereka tidak hanya mempertahankan usaha. Melainkan juga mempertahankan para karyawannya.

Baca Juga : Belum Lulus, Siswa SMK PPN 1 Tegalampel Diminati Perusahaan Pertanian

Seperti yang dialami salah satu pengusaha kerupuk asal Desa Sarikemuning, Kecamatan Senduro, Siti Aminah. Dia memilih tetap bertahan di tengah kondisi minyak goreng langka dan mahal. Meski pendapatannya menurun, usaha turun-temurun itu tetap harus berjalan. Sebab, dia memiliki enam karyawan yang membantunya memproduksi kerupuk setiap hari.

Yu Minah, sapaan akrabnya, mengatakan, sejak minyak goreng sulit didapatkan, dia berusaha mencari jalan keluar. Bersama suaminya, dia tetap mempertahankan enam karyawannya memproduksi kerupuk. Akan tetapi, karena jumlah minyak yang didapat tidak selalu sama, jam kerja karyawannya juga tak menentu. “Biasanya mereka pulang sore. Tetapi, jika hanya dapat 45 liter dan selesai goreng siang hari, ya, karyawan langsung pulang,” katanya.

Meski demikian, jumlah produksi kerupuk masih tetap sama. Dalam sehari, dia bisa memproduksi sebanyak seratus kilogram kerupuk. Oleh karena itu, dia membutuhkan sedikitnya 75 kilogram minyak goreng curah.

“Karena dibatasi belanja minyaknya, saya ajak karyawan atau tetangga membeli minyak. Selain itu, saya juga mengenakan pakaian yang berbeda untuk membeli minyak agar tidak diketahui pegawai atau pemilik toko. Kalau tidak begitu, ya, tidak bisa menggoreng kerupuk dalam jumlah banyak,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/