alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Berkomitmen untuk Berbuat Tanpa Berharap

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keberadan ambulans dengan suara sirine yang meraung-raung di jalanan masih sering disepelekan. Padahal, sirine yang menyala tersebut menandakan situasi yang genting. Namun, masyarakat seakan tak peduli. Urusan jalan, semua punya hak sama. Tak ada yang istimewa meski di dalam ambulans nyawa seorang pasien dipertaruhkan.

“Pada 2016, ibu terkena serangan jantung. Dirujuk dari Rumah Sakit Djatiroto ke Jember. Tetapi, saat di Jubung, Jember, ambulans terjebak macet. Ibu meninggal di tengah kemacetan,” ucap Bayu Juartono memulai ceritanya yang memilukan.

Tatapannya nanar ke arah meja. Wajah lelaki berjaket merah dengan logo IEA Lumajang itu masih memperlihatkan penyesalan. “Saya berdosa besar. Karena kerja, saya tidak bisa mengantar ibu saya ke rumah sakit,” ujarnya lalu memperbaiki posisi duduk.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lelaki yang akrab disapa Bayu tersebut menjelaskan, pengalaman kehilangan nyawa orang tersayang menggunggah hatinya untuk mendirikan komunitas Indonesian Escorting Ambulance (IAE) Lumajang. Sebuah komunitas yang sering dicaci maki selama melakukan tugas kemanusiaan, mendampingi mobil ambulans, dan membuka jalan di tengah kemacetan.

“Kami sering dicap aneh-aneh, mulai dimarahi hingga dipisuhi (diumpat, Red) di jalanan. Kami tidak peduli. Yang ada di benak kami hanya satu, bagaimana pasien atau jenazah dalam mobil ambulans sampai tujuan dengan tepat waktu. Sebab, kami tidak ingin mereka atau keluarga mereka memiliki pengalaman pahit seperti yang saya alami,” kata lelaki asal Jatiroto tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keberadan ambulans dengan suara sirine yang meraung-raung di jalanan masih sering disepelekan. Padahal, sirine yang menyala tersebut menandakan situasi yang genting. Namun, masyarakat seakan tak peduli. Urusan jalan, semua punya hak sama. Tak ada yang istimewa meski di dalam ambulans nyawa seorang pasien dipertaruhkan.

“Pada 2016, ibu terkena serangan jantung. Dirujuk dari Rumah Sakit Djatiroto ke Jember. Tetapi, saat di Jubung, Jember, ambulans terjebak macet. Ibu meninggal di tengah kemacetan,” ucap Bayu Juartono memulai ceritanya yang memilukan.

Tatapannya nanar ke arah meja. Wajah lelaki berjaket merah dengan logo IEA Lumajang itu masih memperlihatkan penyesalan. “Saya berdosa besar. Karena kerja, saya tidak bisa mengantar ibu saya ke rumah sakit,” ujarnya lalu memperbaiki posisi duduk.

Lelaki yang akrab disapa Bayu tersebut menjelaskan, pengalaman kehilangan nyawa orang tersayang menggunggah hatinya untuk mendirikan komunitas Indonesian Escorting Ambulance (IAE) Lumajang. Sebuah komunitas yang sering dicaci maki selama melakukan tugas kemanusiaan, mendampingi mobil ambulans, dan membuka jalan di tengah kemacetan.

“Kami sering dicap aneh-aneh, mulai dimarahi hingga dipisuhi (diumpat, Red) di jalanan. Kami tidak peduli. Yang ada di benak kami hanya satu, bagaimana pasien atau jenazah dalam mobil ambulans sampai tujuan dengan tepat waktu. Sebab, kami tidak ingin mereka atau keluarga mereka memiliki pengalaman pahit seperti yang saya alami,” kata lelaki asal Jatiroto tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keberadan ambulans dengan suara sirine yang meraung-raung di jalanan masih sering disepelekan. Padahal, sirine yang menyala tersebut menandakan situasi yang genting. Namun, masyarakat seakan tak peduli. Urusan jalan, semua punya hak sama. Tak ada yang istimewa meski di dalam ambulans nyawa seorang pasien dipertaruhkan.

“Pada 2016, ibu terkena serangan jantung. Dirujuk dari Rumah Sakit Djatiroto ke Jember. Tetapi, saat di Jubung, Jember, ambulans terjebak macet. Ibu meninggal di tengah kemacetan,” ucap Bayu Juartono memulai ceritanya yang memilukan.

Tatapannya nanar ke arah meja. Wajah lelaki berjaket merah dengan logo IEA Lumajang itu masih memperlihatkan penyesalan. “Saya berdosa besar. Karena kerja, saya tidak bisa mengantar ibu saya ke rumah sakit,” ujarnya lalu memperbaiki posisi duduk.

Lelaki yang akrab disapa Bayu tersebut menjelaskan, pengalaman kehilangan nyawa orang tersayang menggunggah hatinya untuk mendirikan komunitas Indonesian Escorting Ambulance (IAE) Lumajang. Sebuah komunitas yang sering dicaci maki selama melakukan tugas kemanusiaan, mendampingi mobil ambulans, dan membuka jalan di tengah kemacetan.

“Kami sering dicap aneh-aneh, mulai dimarahi hingga dipisuhi (diumpat, Red) di jalanan. Kami tidak peduli. Yang ada di benak kami hanya satu, bagaimana pasien atau jenazah dalam mobil ambulans sampai tujuan dengan tepat waktu. Sebab, kami tidak ingin mereka atau keluarga mereka memiliki pengalaman pahit seperti yang saya alami,” kata lelaki asal Jatiroto tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/