alexametrics
27.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Satu KK Dapat Satu Hunian Sementara untuk Pengungsi Erupsi Gunung Semeru

Rupanya penyediaan hunian sementara (huntara) untuk korban terdampak bukan berdasar rumah warga yang rusak akibat erupsi Gunung Semeru. Tetapi, semakin banyak KK dalam satu rumah, semakin banyak pula mereka dapat huntara.

Mobile_AP_Rectangle 1

Teknis pengerjaan ribuan huntara ini telah diatur detail oleh Pemkab Lumajang. Selain memetakan garapan masing-masing relawan dan non-governmental organization (NGO), Pemkab Lumajang juga tengah mengatur tahapan pengungsi menempati ke huntara. Tahapan masuk relokasi kemungkinan besar dilakukan per dusun.

Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko mengatakan, ada tiga segmen yang bergerak dalam proses pembangunan huntara. Relawan beserta NGO, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Pemkab Lumajang. Masing-masing memiliki porsi kewenangan dan peran sendiri-sendiri.

“Prinsip kerja kami itu paralel. Artinya, NGO fokus dalam pembangunan huntara sesuai contoh standar. Kementerian PU akan fokus untuk pembangunan fasum seperti jalan, drainase, jaringan air bersih, pasar, dan sekolah. Nah, pemkab akan fokus di operasional dan mencukupi hal-hal yang kurang,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nugroho melanjutkan, saat ini fasum yang tengah dikerjakan adalah pembangunan jaringan listrik dan jaringan air. Sebab, kedua hal ini menjadi kebutuhan dasar dalam pembangunan huntara. Sebab, rencananya sebelum Hari Raya Idul Fitri seluruh proses pembangunan huntara selesai.

Walaupun saat Lebaran tersebut pihaknya menyadari bakal ada kekurangan. Namun, paling tidak saat itu seluruh sarana dan prasarana yang mendukung memadai. “Di surat keputusan bupati, kami menyiapkan sekitar 1.951 huntara untuk warga terdampak,” tambahnya.

Rencananya, seluruh warga pengungsi itu bakal dipindah per dusun. Bergantung kecepatan NGO yang menggarap satu blok untuk klaster tertentu. “Nanti masuknya juga paralel. Kalau huntaranya sudah, nanti kami arahkan per klester atau klaster dusun,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

- Advertisement -

Teknis pengerjaan ribuan huntara ini telah diatur detail oleh Pemkab Lumajang. Selain memetakan garapan masing-masing relawan dan non-governmental organization (NGO), Pemkab Lumajang juga tengah mengatur tahapan pengungsi menempati ke huntara. Tahapan masuk relokasi kemungkinan besar dilakukan per dusun.

Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko mengatakan, ada tiga segmen yang bergerak dalam proses pembangunan huntara. Relawan beserta NGO, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Pemkab Lumajang. Masing-masing memiliki porsi kewenangan dan peran sendiri-sendiri.

“Prinsip kerja kami itu paralel. Artinya, NGO fokus dalam pembangunan huntara sesuai contoh standar. Kementerian PU akan fokus untuk pembangunan fasum seperti jalan, drainase, jaringan air bersih, pasar, dan sekolah. Nah, pemkab akan fokus di operasional dan mencukupi hal-hal yang kurang,” katanya.

Nugroho melanjutkan, saat ini fasum yang tengah dikerjakan adalah pembangunan jaringan listrik dan jaringan air. Sebab, kedua hal ini menjadi kebutuhan dasar dalam pembangunan huntara. Sebab, rencananya sebelum Hari Raya Idul Fitri seluruh proses pembangunan huntara selesai.

Walaupun saat Lebaran tersebut pihaknya menyadari bakal ada kekurangan. Namun, paling tidak saat itu seluruh sarana dan prasarana yang mendukung memadai. “Di surat keputusan bupati, kami menyiapkan sekitar 1.951 huntara untuk warga terdampak,” tambahnya.

Rencananya, seluruh warga pengungsi itu bakal dipindah per dusun. Bergantung kecepatan NGO yang menggarap satu blok untuk klaster tertentu. “Nanti masuknya juga paralel. Kalau huntaranya sudah, nanti kami arahkan per klester atau klaster dusun,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

Teknis pengerjaan ribuan huntara ini telah diatur detail oleh Pemkab Lumajang. Selain memetakan garapan masing-masing relawan dan non-governmental organization (NGO), Pemkab Lumajang juga tengah mengatur tahapan pengungsi menempati ke huntara. Tahapan masuk relokasi kemungkinan besar dilakukan per dusun.

Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko mengatakan, ada tiga segmen yang bergerak dalam proses pembangunan huntara. Relawan beserta NGO, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Pemkab Lumajang. Masing-masing memiliki porsi kewenangan dan peran sendiri-sendiri.

“Prinsip kerja kami itu paralel. Artinya, NGO fokus dalam pembangunan huntara sesuai contoh standar. Kementerian PU akan fokus untuk pembangunan fasum seperti jalan, drainase, jaringan air bersih, pasar, dan sekolah. Nah, pemkab akan fokus di operasional dan mencukupi hal-hal yang kurang,” katanya.

Nugroho melanjutkan, saat ini fasum yang tengah dikerjakan adalah pembangunan jaringan listrik dan jaringan air. Sebab, kedua hal ini menjadi kebutuhan dasar dalam pembangunan huntara. Sebab, rencananya sebelum Hari Raya Idul Fitri seluruh proses pembangunan huntara selesai.

Walaupun saat Lebaran tersebut pihaknya menyadari bakal ada kekurangan. Namun, paling tidak saat itu seluruh sarana dan prasarana yang mendukung memadai. “Di surat keputusan bupati, kami menyiapkan sekitar 1.951 huntara untuk warga terdampak,” tambahnya.

Rencananya, seluruh warga pengungsi itu bakal dipindah per dusun. Bergantung kecepatan NGO yang menggarap satu blok untuk klaster tertentu. “Nanti masuknya juga paralel. Kalau huntaranya sudah, nanti kami arahkan per klester atau klaster dusun,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/