alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Diakui Sering Asal Comot Atlet

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh silat Lumajang, Imam Soedja’i. Kiprah ketokohannya di dunia silat sampai dijadikan nama jalan di Lumajang. Tapi, bagaimana dengan generasi berikutnya dalam memperjuangkan silat? Ternyata banyak yang bilang masih nihil.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID– Tiga belas cabang olah raga (cabor) Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) VII Jawa Timur akan dipertandingkan di Kabupaten Lumajang. Salah satunya adalah pencak silat. Namun, siapa sangka, sebagai salah satu tempat lahirnya cabor tersebut, Lumajang belum pernah merasakan medali dalam Porprov.

Muhammad Saiful, Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lumajang, membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, pencak silat Lumajang belum menyumbangkan medali juara. Padahal di mata dunia, pencak silat sudah menjadi budaya yang mengharumkan nama Indonesia. “Seharusnya di Lumajang juga bisa. Tapi, ini miris sekali,” katanya.

Dia menjelaskan, program yang dilakukan IPSI sudah menyasar lapisan paling bawah. Antusiasme atlet, pelatih, dan sejumlah pihak mulai terlihat. Penguatan sinergi antarpihak juga mendukung kesuksesan silat di ajang Porprov ke depan. “Kita terbuka ke seluruh pihak. Terutama dari organisasi silat yang ada di Lumajang. Kita menyambut hangat jika ingin bergabung,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saiful mengungkapkan, dalam beberapa kejuaraan silat bergengsi, pihaknya tidak melakukan penyeleksian secara ketat. Pemilihan dilakukan dengan cara tunjuk. Sehingga hanya perguruan silat ternama yang bertanding. Atlet pun dipilih dengan subjektif. “Asal comot. Jadi, tidak objektif,” ungkapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID– Tiga belas cabang olah raga (cabor) Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) VII Jawa Timur akan dipertandingkan di Kabupaten Lumajang. Salah satunya adalah pencak silat. Namun, siapa sangka, sebagai salah satu tempat lahirnya cabor tersebut, Lumajang belum pernah merasakan medali dalam Porprov.

Muhammad Saiful, Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lumajang, membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, pencak silat Lumajang belum menyumbangkan medali juara. Padahal di mata dunia, pencak silat sudah menjadi budaya yang mengharumkan nama Indonesia. “Seharusnya di Lumajang juga bisa. Tapi, ini miris sekali,” katanya.

Dia menjelaskan, program yang dilakukan IPSI sudah menyasar lapisan paling bawah. Antusiasme atlet, pelatih, dan sejumlah pihak mulai terlihat. Penguatan sinergi antarpihak juga mendukung kesuksesan silat di ajang Porprov ke depan. “Kita terbuka ke seluruh pihak. Terutama dari organisasi silat yang ada di Lumajang. Kita menyambut hangat jika ingin bergabung,” jelasnya.

Saiful mengungkapkan, dalam beberapa kejuaraan silat bergengsi, pihaknya tidak melakukan penyeleksian secara ketat. Pemilihan dilakukan dengan cara tunjuk. Sehingga hanya perguruan silat ternama yang bertanding. Atlet pun dipilih dengan subjektif. “Asal comot. Jadi, tidak objektif,” ungkapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID– Tiga belas cabang olah raga (cabor) Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) VII Jawa Timur akan dipertandingkan di Kabupaten Lumajang. Salah satunya adalah pencak silat. Namun, siapa sangka, sebagai salah satu tempat lahirnya cabor tersebut, Lumajang belum pernah merasakan medali dalam Porprov.

Muhammad Saiful, Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lumajang, membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, pencak silat Lumajang belum menyumbangkan medali juara. Padahal di mata dunia, pencak silat sudah menjadi budaya yang mengharumkan nama Indonesia. “Seharusnya di Lumajang juga bisa. Tapi, ini miris sekali,” katanya.

Dia menjelaskan, program yang dilakukan IPSI sudah menyasar lapisan paling bawah. Antusiasme atlet, pelatih, dan sejumlah pihak mulai terlihat. Penguatan sinergi antarpihak juga mendukung kesuksesan silat di ajang Porprov ke depan. “Kita terbuka ke seluruh pihak. Terutama dari organisasi silat yang ada di Lumajang. Kita menyambut hangat jika ingin bergabung,” jelasnya.

Saiful mengungkapkan, dalam beberapa kejuaraan silat bergengsi, pihaknya tidak melakukan penyeleksian secara ketat. Pemilihan dilakukan dengan cara tunjuk. Sehingga hanya perguruan silat ternama yang bertanding. Atlet pun dipilih dengan subjektif. “Asal comot. Jadi, tidak objektif,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/