alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jual Porang, Malah Buntung

Setahun lalu, tidak sedikit petani tergiur dengan nilai jual porang yang cukup tinggi. Sampai-sampai banyak yang beralih tanam porang. Namun, kini harga komoditas tersebut kabarnya semakin merosot. Tak tanggung-tanggung, turunnya mencapai Rp 4 ribu per kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Geliat petani menanam porang memang tidak bisa dibendung. Cukup banyak yang memanfaatkan lahan produktif untuk ditanami tanaman sejenis umbi-umbian tersebut. Bahkan, saat ini catatan Dinas Pertanian Lumajang sudah ada 188,3 hektare lahan tersebar di sembilan kecamatan di Lumajang.

Sebetulnya, jumlah itu belum final, masih banyak petani porang yang belum melaporkan. Seperti Subandi di Desa Kraton, Kecamatan Yosowilangun. Dia menyebutkan memiliki lahan tanaman porang seluas setengah hektare di pekarangan rumahnya. “Saya dengar harganya mahal, makanya saya coba tanam autodidak tahun 2020,” katanya.

Namun, setelah mendengar harga porang turun belakangan ini membuat dirinya khawatir merugi. Sebab, biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga tidak sedikit. Mulai dari pembelian bibit, penanaman, hingga perawatan. “Kira-kira dihitung sudah puluhan juta ada. Itu pupuknya pakai pupuk kompos,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Komoditas ekspor ini sementara memang paling banyak ditemui di Kecamatan Ranuyoso, sekitar 51,1 hektare. Kedua, Kecamatan Senduro seluas 35 hektare. Ketiga, di Kecamatan Pasrujambe sekitar 30 hektare. Sedangkan tanaman porang paling sedikit ada di Kecamatan Tempursari yang hanya 2 hektare.

Sementara itu, Ketua Serikat Pengusaha dan Petani Porang (Seppora) Nusantara Lumajang Syariful Himam mengatakan, penurunan harga tersebut memang sudah menjadi aturan perusahaan. Meski selisih berkisar Rp 4 ribu per kilogram, harga tersebut bakal tetap bertahan hingga beberapa tahun kemudian.

“Sekarang ini harga sekitar Rp 6 ribu per kilogram, beda dengan tahun sebelumnya yang bisa Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. Tetapi, sekalipun turun, petani masih mendapat untung. Jadi, jangan khawatir merugi. Karena hitung-hitungannya itu masih selisih untung cukup jauh dengan biaya produksi,” jelasnya.

Menurut dia, salah satu cara menjamin penjualan harga porang tetap stabil adalah bermitra dengan gudang. Sebab, sejak pembibitan, penanaman, hingga perawatan terus didampingi. “Saat ini baru sekitar 70 hektare lahan petani yang bergabung dengan kami. Kami yakin harga itu tetap stabil sampai panen,” pungkasnya.

 

 

Pemkab Belum Sentuh Pendampingan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Geliat petani menanam porang memang tidak bisa dibendung. Cukup banyak yang memanfaatkan lahan produktif untuk ditanami tanaman sejenis umbi-umbian tersebut. Bahkan, saat ini catatan Dinas Pertanian Lumajang sudah ada 188,3 hektare lahan tersebar di sembilan kecamatan di Lumajang.

Sebetulnya, jumlah itu belum final, masih banyak petani porang yang belum melaporkan. Seperti Subandi di Desa Kraton, Kecamatan Yosowilangun. Dia menyebutkan memiliki lahan tanaman porang seluas setengah hektare di pekarangan rumahnya. “Saya dengar harganya mahal, makanya saya coba tanam autodidak tahun 2020,” katanya.

Namun, setelah mendengar harga porang turun belakangan ini membuat dirinya khawatir merugi. Sebab, biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga tidak sedikit. Mulai dari pembelian bibit, penanaman, hingga perawatan. “Kira-kira dihitung sudah puluhan juta ada. Itu pupuknya pakai pupuk kompos,” tambahnya.

Komoditas ekspor ini sementara memang paling banyak ditemui di Kecamatan Ranuyoso, sekitar 51,1 hektare. Kedua, Kecamatan Senduro seluas 35 hektare. Ketiga, di Kecamatan Pasrujambe sekitar 30 hektare. Sedangkan tanaman porang paling sedikit ada di Kecamatan Tempursari yang hanya 2 hektare.

Sementara itu, Ketua Serikat Pengusaha dan Petani Porang (Seppora) Nusantara Lumajang Syariful Himam mengatakan, penurunan harga tersebut memang sudah menjadi aturan perusahaan. Meski selisih berkisar Rp 4 ribu per kilogram, harga tersebut bakal tetap bertahan hingga beberapa tahun kemudian.

“Sekarang ini harga sekitar Rp 6 ribu per kilogram, beda dengan tahun sebelumnya yang bisa Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. Tetapi, sekalipun turun, petani masih mendapat untung. Jadi, jangan khawatir merugi. Karena hitung-hitungannya itu masih selisih untung cukup jauh dengan biaya produksi,” jelasnya.

Menurut dia, salah satu cara menjamin penjualan harga porang tetap stabil adalah bermitra dengan gudang. Sebab, sejak pembibitan, penanaman, hingga perawatan terus didampingi. “Saat ini baru sekitar 70 hektare lahan petani yang bergabung dengan kami. Kami yakin harga itu tetap stabil sampai panen,” pungkasnya.

 

 

Pemkab Belum Sentuh Pendampingan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Geliat petani menanam porang memang tidak bisa dibendung. Cukup banyak yang memanfaatkan lahan produktif untuk ditanami tanaman sejenis umbi-umbian tersebut. Bahkan, saat ini catatan Dinas Pertanian Lumajang sudah ada 188,3 hektare lahan tersebar di sembilan kecamatan di Lumajang.

Sebetulnya, jumlah itu belum final, masih banyak petani porang yang belum melaporkan. Seperti Subandi di Desa Kraton, Kecamatan Yosowilangun. Dia menyebutkan memiliki lahan tanaman porang seluas setengah hektare di pekarangan rumahnya. “Saya dengar harganya mahal, makanya saya coba tanam autodidak tahun 2020,” katanya.

Namun, setelah mendengar harga porang turun belakangan ini membuat dirinya khawatir merugi. Sebab, biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga tidak sedikit. Mulai dari pembelian bibit, penanaman, hingga perawatan. “Kira-kira dihitung sudah puluhan juta ada. Itu pupuknya pakai pupuk kompos,” tambahnya.

Komoditas ekspor ini sementara memang paling banyak ditemui di Kecamatan Ranuyoso, sekitar 51,1 hektare. Kedua, Kecamatan Senduro seluas 35 hektare. Ketiga, di Kecamatan Pasrujambe sekitar 30 hektare. Sedangkan tanaman porang paling sedikit ada di Kecamatan Tempursari yang hanya 2 hektare.

Sementara itu, Ketua Serikat Pengusaha dan Petani Porang (Seppora) Nusantara Lumajang Syariful Himam mengatakan, penurunan harga tersebut memang sudah menjadi aturan perusahaan. Meski selisih berkisar Rp 4 ribu per kilogram, harga tersebut bakal tetap bertahan hingga beberapa tahun kemudian.

“Sekarang ini harga sekitar Rp 6 ribu per kilogram, beda dengan tahun sebelumnya yang bisa Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. Tetapi, sekalipun turun, petani masih mendapat untung. Jadi, jangan khawatir merugi. Karena hitung-hitungannya itu masih selisih untung cukup jauh dengan biaya produksi,” jelasnya.

Menurut dia, salah satu cara menjamin penjualan harga porang tetap stabil adalah bermitra dengan gudang. Sebab, sejak pembibitan, penanaman, hingga perawatan terus didampingi. “Saat ini baru sekitar 70 hektare lahan petani yang bergabung dengan kami. Kami yakin harga itu tetap stabil sampai panen,” pungkasnya.

 

 

Pemkab Belum Sentuh Pendampingan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/