alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Tradisi Jenang Sapar Masuk Kota

Dilarang Pakai Sendok, Cara Menyantapnya Pakai Sudi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada saja cara warga perkotaan menghidupkan tradisi guyub dan saling gotong royong. Selain setiap hari rutin melakukan bersih-bersih lingkungan perkampungan, kemarin warga RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan menggelar Festival Sapar sebagai bentuk kerukunan.

Selamatan jenang sapar ini merupakan salah satu tradisi yang terus dilestarikan secara turun-menurun. Hampir setiap tahun, warga setempat membuat jajanan khas yang berbentuk bulat-bulat kecil ini. Setelah matang, jajanan itu diwadahi takir macam mangkok yang terbuat dari daun pisang. Cara menyantapnya juga tidak boleh pakai sendok. Melainkan pakai sudi alias sendok dari daun.

Ketua RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan Lumajang, Siswoto mengatakan, festival selamatan tersebut dilakukan dari membuat adonan mentah hingga matang. Setelah matang, seluruh ibu-ibu berkumpul dan memanjatkan doa, kemudian menyantap hidangan itu bersama-sama.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kita sengaja pakai yang sehat semua, kita pilih bahan-bahan tanpa campuran obat dan kimia. Kita olah dan masak sendiri, kita makan bersama seluruh warga di lingkungan sini. Ini adalah budaya Jawa yang seharusnya dilestarikan. Karena semua bisa mengetahui tetangga-tetangga sekitar,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada saja cara warga perkotaan menghidupkan tradisi guyub dan saling gotong royong. Selain setiap hari rutin melakukan bersih-bersih lingkungan perkampungan, kemarin warga RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan menggelar Festival Sapar sebagai bentuk kerukunan.

Selamatan jenang sapar ini merupakan salah satu tradisi yang terus dilestarikan secara turun-menurun. Hampir setiap tahun, warga setempat membuat jajanan khas yang berbentuk bulat-bulat kecil ini. Setelah matang, jajanan itu diwadahi takir macam mangkok yang terbuat dari daun pisang. Cara menyantapnya juga tidak boleh pakai sendok. Melainkan pakai sudi alias sendok dari daun.

Ketua RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan Lumajang, Siswoto mengatakan, festival selamatan tersebut dilakukan dari membuat adonan mentah hingga matang. Setelah matang, seluruh ibu-ibu berkumpul dan memanjatkan doa, kemudian menyantap hidangan itu bersama-sama.

“Kita sengaja pakai yang sehat semua, kita pilih bahan-bahan tanpa campuran obat dan kimia. Kita olah dan masak sendiri, kita makan bersama seluruh warga di lingkungan sini. Ini adalah budaya Jawa yang seharusnya dilestarikan. Karena semua bisa mengetahui tetangga-tetangga sekitar,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada saja cara warga perkotaan menghidupkan tradisi guyub dan saling gotong royong. Selain setiap hari rutin melakukan bersih-bersih lingkungan perkampungan, kemarin warga RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan menggelar Festival Sapar sebagai bentuk kerukunan.

Selamatan jenang sapar ini merupakan salah satu tradisi yang terus dilestarikan secara turun-menurun. Hampir setiap tahun, warga setempat membuat jajanan khas yang berbentuk bulat-bulat kecil ini. Setelah matang, jajanan itu diwadahi takir macam mangkok yang terbuat dari daun pisang. Cara menyantapnya juga tidak boleh pakai sendok. Melainkan pakai sudi alias sendok dari daun.

Ketua RT 4 RW 5 Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan Lumajang, Siswoto mengatakan, festival selamatan tersebut dilakukan dari membuat adonan mentah hingga matang. Setelah matang, seluruh ibu-ibu berkumpul dan memanjatkan doa, kemudian menyantap hidangan itu bersama-sama.

“Kita sengaja pakai yang sehat semua, kita pilih bahan-bahan tanpa campuran obat dan kimia. Kita olah dan masak sendiri, kita makan bersama seluruh warga di lingkungan sini. Ini adalah budaya Jawa yang seharusnya dilestarikan. Karena semua bisa mengetahui tetangga-tetangga sekitar,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/