alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Janji Pendirian BUM-Tren Kurang Serius

Efektif. Sebab, menunggunya lebih lama. “Ada yang mengurus di kecamatan sampai 2 bulan,” ujarnya. Sehingga banyak warga yang mengeluh yang sering dijumpai di sosial media dan di lapangan. Eko sapaanya, menyebutkan, ada 20 janji politik dan baru berjalan 2 tahun. Masih ada waktu 3 tahun ke depan untuk membenahi kekurangan tersebut. Hal lain yang menjanggal ada

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Janji politik Thoriq-Indah untuk mendirikan Badan Usaha Milik Pesantren (BUM-Tren) memang sangat bagus. Program itu diyakini dapat mendorong kemandirian ekonomi. Tapi sayang, penerapannya masih kurang serius.

Tak semua pesantren bisa memahami kemauan Pemkab Lumajang untuk mendirikan BUM-Tren. Sehingga bukan pendekatan ala birokrasi yang harus dilakukan, tetapi pendekatan ala kiai.

Dr Abdul Wadud Nafis, dosen IAIN Jember, mengapresiasi perhatian pemerintah pada pesantren agar bisa lebih sejahtera. Sebab, pesantren memang harus memiliki kompetensi lain selain mengaji dan menghafal kitab. Terutama kompetensi paling penting adalah berwirausaha.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Janji politik Thoriq-Indah untuk mendirikan Badan Usaha Milik Pesantren (BUM-Tren) memang sangat bagus. Program itu diyakini dapat mendorong kemandirian ekonomi. Tapi sayang, penerapannya masih kurang serius.

Tak semua pesantren bisa memahami kemauan Pemkab Lumajang untuk mendirikan BUM-Tren. Sehingga bukan pendekatan ala birokrasi yang harus dilakukan, tetapi pendekatan ala kiai.

Dr Abdul Wadud Nafis, dosen IAIN Jember, mengapresiasi perhatian pemerintah pada pesantren agar bisa lebih sejahtera. Sebab, pesantren memang harus memiliki kompetensi lain selain mengaji dan menghafal kitab. Terutama kompetensi paling penting adalah berwirausaha.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Janji politik Thoriq-Indah untuk mendirikan Badan Usaha Milik Pesantren (BUM-Tren) memang sangat bagus. Program itu diyakini dapat mendorong kemandirian ekonomi. Tapi sayang, penerapannya masih kurang serius.

Tak semua pesantren bisa memahami kemauan Pemkab Lumajang untuk mendirikan BUM-Tren. Sehingga bukan pendekatan ala birokrasi yang harus dilakukan, tetapi pendekatan ala kiai.

Dr Abdul Wadud Nafis, dosen IAIN Jember, mengapresiasi perhatian pemerintah pada pesantren agar bisa lebih sejahtera. Sebab, pesantren memang harus memiliki kompetensi lain selain mengaji dan menghafal kitab. Terutama kompetensi paling penting adalah berwirausaha.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/