alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Nasib PLTMH Gunung Sawur di Tengah Meluasnya Jaringan Listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Gunung Sawur tetap beroperasi di Dusun Poncosumo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Usianya sudah 30 tahun. Meski demikian, PLTMH itu tetap konsisten menghidupi listrik ratusan rumah di dusun tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu aliran sungai itu cukup deras mengalir. Dari ketinggian, jumlah debit air per detiknya terus mengalir ke bawah bangunan. Aliran itu memutar poros turbin mesin. Energi mekanik dihasilkan. Selanjutnya energi itu menggerakkan generator dan menghasilkan aliran listrik.

BACA JUGA : Peternak Sapi Lumajang Diimbau Jangan Panik hingga Jual Murah Lembunya

Begitulah penjelasan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Sucipto. Sebagai pengelola, dia tahu betul kendala dan penanganan mesin saat bermasalah. Termasuk penanganan jaringan listrik yang mengalir ke rumah warga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak 30 tahun lalu, warga Dusun Poncosumo, sudah menggunakan listrik dari sungai itu. Awalnya hanya beberapa rumah tangga. Namun, jumlah itu terus bertambah hingga stagnan pada 115 kepala rumah tangga.

“Dari jumlah itu tidak semuanya menggunakan listrik dari PLTMH. Karena pelanggan yang benar-benar menggunakan PLTMH sebagai sumber utama hanya 50 saja. Sisanya, mereka menggunakan dua sumber. Dari PLTMH dan PLN,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat menggunakan dua aliran listrik. Pertama, daya listrik yang disalurkan PLTMH tidak bisa selalu stabil. Hal itu tergantung besar kecilnya aliran sungai. Jika aliran deras, potensi gangguan listrik justru semakin besar. Sebab, aliran itu membawa sampah, sehingga sampah itu menutupi filter mesin.

Antisipasi itu tetap dilakukan. Salah satunya dengan pembersihan sungai secara rutin pagi dan sore hari. Akan tetapi, gangguan itu juga tidak bisa dihindarkan saat musim hujan. Sementara, saat musim kemarau, daya listrik cenderung stabil karena minim gangguan.

Selanjutnya, beban listrik PLTMH tidak besar. Oleh karena itu, tidak semua elektronik bisa menggunakannya. “Barang elektronik yang membutuhkan daya besar harus menambah peranti. Masyarakat yang tetap bertahan dengan PLTMH biasanya tidak menggunakan barang elektronik dengan daya besar,” tambahnya. (kin/c2/fid)

Wacanakan Jadi Mini Hidro

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu aliran sungai itu cukup deras mengalir. Dari ketinggian, jumlah debit air per detiknya terus mengalir ke bawah bangunan. Aliran itu memutar poros turbin mesin. Energi mekanik dihasilkan. Selanjutnya energi itu menggerakkan generator dan menghasilkan aliran listrik.

BACA JUGA : Peternak Sapi Lumajang Diimbau Jangan Panik hingga Jual Murah Lembunya

Begitulah penjelasan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Sucipto. Sebagai pengelola, dia tahu betul kendala dan penanganan mesin saat bermasalah. Termasuk penanganan jaringan listrik yang mengalir ke rumah warga.

Sejak 30 tahun lalu, warga Dusun Poncosumo, sudah menggunakan listrik dari sungai itu. Awalnya hanya beberapa rumah tangga. Namun, jumlah itu terus bertambah hingga stagnan pada 115 kepala rumah tangga.

“Dari jumlah itu tidak semuanya menggunakan listrik dari PLTMH. Karena pelanggan yang benar-benar menggunakan PLTMH sebagai sumber utama hanya 50 saja. Sisanya, mereka menggunakan dua sumber. Dari PLTMH dan PLN,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat menggunakan dua aliran listrik. Pertama, daya listrik yang disalurkan PLTMH tidak bisa selalu stabil. Hal itu tergantung besar kecilnya aliran sungai. Jika aliran deras, potensi gangguan listrik justru semakin besar. Sebab, aliran itu membawa sampah, sehingga sampah itu menutupi filter mesin.

Antisipasi itu tetap dilakukan. Salah satunya dengan pembersihan sungai secara rutin pagi dan sore hari. Akan tetapi, gangguan itu juga tidak bisa dihindarkan saat musim hujan. Sementara, saat musim kemarau, daya listrik cenderung stabil karena minim gangguan.

Selanjutnya, beban listrik PLTMH tidak besar. Oleh karena itu, tidak semua elektronik bisa menggunakannya. “Barang elektronik yang membutuhkan daya besar harus menambah peranti. Masyarakat yang tetap bertahan dengan PLTMH biasanya tidak menggunakan barang elektronik dengan daya besar,” tambahnya. (kin/c2/fid)

Wacanakan Jadi Mini Hidro

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu aliran sungai itu cukup deras mengalir. Dari ketinggian, jumlah debit air per detiknya terus mengalir ke bawah bangunan. Aliran itu memutar poros turbin mesin. Energi mekanik dihasilkan. Selanjutnya energi itu menggerakkan generator dan menghasilkan aliran listrik.

BACA JUGA : Peternak Sapi Lumajang Diimbau Jangan Panik hingga Jual Murah Lembunya

Begitulah penjelasan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Sucipto. Sebagai pengelola, dia tahu betul kendala dan penanganan mesin saat bermasalah. Termasuk penanganan jaringan listrik yang mengalir ke rumah warga.

Sejak 30 tahun lalu, warga Dusun Poncosumo, sudah menggunakan listrik dari sungai itu. Awalnya hanya beberapa rumah tangga. Namun, jumlah itu terus bertambah hingga stagnan pada 115 kepala rumah tangga.

“Dari jumlah itu tidak semuanya menggunakan listrik dari PLTMH. Karena pelanggan yang benar-benar menggunakan PLTMH sebagai sumber utama hanya 50 saja. Sisanya, mereka menggunakan dua sumber. Dari PLTMH dan PLN,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat menggunakan dua aliran listrik. Pertama, daya listrik yang disalurkan PLTMH tidak bisa selalu stabil. Hal itu tergantung besar kecilnya aliran sungai. Jika aliran deras, potensi gangguan listrik justru semakin besar. Sebab, aliran itu membawa sampah, sehingga sampah itu menutupi filter mesin.

Antisipasi itu tetap dilakukan. Salah satunya dengan pembersihan sungai secara rutin pagi dan sore hari. Akan tetapi, gangguan itu juga tidak bisa dihindarkan saat musim hujan. Sementara, saat musim kemarau, daya listrik cenderung stabil karena minim gangguan.

Selanjutnya, beban listrik PLTMH tidak besar. Oleh karena itu, tidak semua elektronik bisa menggunakannya. “Barang elektronik yang membutuhkan daya besar harus menambah peranti. Masyarakat yang tetap bertahan dengan PLTMH biasanya tidak menggunakan barang elektronik dengan daya besar,” tambahnya. (kin/c2/fid)

Wacanakan Jadi Mini Hidro

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/