alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Hadfana Tak Terima Disebut Intoleran

Terdakwa Dinilai Merugikan dan Bikin Kegaduhan

Mobile_AP_Rectangle 1

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Hadfana Firdaus kembali menjalani sidang telekonferensi melalui Lapas Kelas II B Lumajang, Selasa (12/04) kemarin. Kali ini sejumlah saksi bersama pelapor dihadirkan untuk memberikan sejumlah keterangan. Mereka diperiksa terkait laporannya terhadap tindakan terdakwa yang dinilai merugikan serta bikin kegaduhan.

Sekitar pukul 11.00, satu per satu diperiksa. Mulanya Ketua FKUB Lumajang Asir diperiksa sebagai saksi, berikutnya Ketua PC GP Ansor Lumajang Abdul Mughits Naufal diperiksa sebagai pelapor bersama dua orang saksi lainnya di Kejaksaan Negeri Lumajang. Dalam pemeriksaan itu, ada beberapa perbedaan pandangan.

Dalam fakta persidangan, Asir mengatakan, setelah terjadi aksi penendangan sesajen, seluruh pengurus beserta perwakilan semua agama melakukan rapat. Hasilnya, mereka bersepakat menganggap tindakan itu telah mengancam kerukunan antarumat beragama. Bahkan, penendangan sesajen itu dinilai sebagai tindakan intoleran yang membahayakan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Itu adalah tindakan yang merugikan, bukan hanya pada umat lain. Dalam agama saya sendiri pun itu dilarang. Islam melarang mengganggu tradisi, adat, maupun budaya agama lain. Jadi, hasil rapat internal menilai itu tindakan intoleran,” katanya. Hadfana Firdaus pun membantah bahwa itu tindakan spontan, bukan intoleran.

- Advertisement -

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Hadfana Firdaus kembali menjalani sidang telekonferensi melalui Lapas Kelas II B Lumajang, Selasa (12/04) kemarin. Kali ini sejumlah saksi bersama pelapor dihadirkan untuk memberikan sejumlah keterangan. Mereka diperiksa terkait laporannya terhadap tindakan terdakwa yang dinilai merugikan serta bikin kegaduhan.

Sekitar pukul 11.00, satu per satu diperiksa. Mulanya Ketua FKUB Lumajang Asir diperiksa sebagai saksi, berikutnya Ketua PC GP Ansor Lumajang Abdul Mughits Naufal diperiksa sebagai pelapor bersama dua orang saksi lainnya di Kejaksaan Negeri Lumajang. Dalam pemeriksaan itu, ada beberapa perbedaan pandangan.

Dalam fakta persidangan, Asir mengatakan, setelah terjadi aksi penendangan sesajen, seluruh pengurus beserta perwakilan semua agama melakukan rapat. Hasilnya, mereka bersepakat menganggap tindakan itu telah mengancam kerukunan antarumat beragama. Bahkan, penendangan sesajen itu dinilai sebagai tindakan intoleran yang membahayakan.

“Itu adalah tindakan yang merugikan, bukan hanya pada umat lain. Dalam agama saya sendiri pun itu dilarang. Islam melarang mengganggu tradisi, adat, maupun budaya agama lain. Jadi, hasil rapat internal menilai itu tindakan intoleran,” katanya. Hadfana Firdaus pun membantah bahwa itu tindakan spontan, bukan intoleran.

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Hadfana Firdaus kembali menjalani sidang telekonferensi melalui Lapas Kelas II B Lumajang, Selasa (12/04) kemarin. Kali ini sejumlah saksi bersama pelapor dihadirkan untuk memberikan sejumlah keterangan. Mereka diperiksa terkait laporannya terhadap tindakan terdakwa yang dinilai merugikan serta bikin kegaduhan.

Sekitar pukul 11.00, satu per satu diperiksa. Mulanya Ketua FKUB Lumajang Asir diperiksa sebagai saksi, berikutnya Ketua PC GP Ansor Lumajang Abdul Mughits Naufal diperiksa sebagai pelapor bersama dua orang saksi lainnya di Kejaksaan Negeri Lumajang. Dalam pemeriksaan itu, ada beberapa perbedaan pandangan.

Dalam fakta persidangan, Asir mengatakan, setelah terjadi aksi penendangan sesajen, seluruh pengurus beserta perwakilan semua agama melakukan rapat. Hasilnya, mereka bersepakat menganggap tindakan itu telah mengancam kerukunan antarumat beragama. Bahkan, penendangan sesajen itu dinilai sebagai tindakan intoleran yang membahayakan.

“Itu adalah tindakan yang merugikan, bukan hanya pada umat lain. Dalam agama saya sendiri pun itu dilarang. Islam melarang mengganggu tradisi, adat, maupun budaya agama lain. Jadi, hasil rapat internal menilai itu tindakan intoleran,” katanya. Hadfana Firdaus pun membantah bahwa itu tindakan spontan, bukan intoleran.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/