alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

BMKG Ukur Struktur Tanah

Sebagai Rekomendasi Menentukan Mitigasi Bencana

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Upaya demi upaya terus dilakukan pemerintah guna mengantisipasi kerusakan dan bertambahnya korban jiwa akibat gempa. Salah satunya dengan melakukan pengukuran struktur tanah menggunakan metode multichannel analysis of surface wave (MAWS).

Kerusakan rumah yang terjadi di Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari, akibat gempa tidak merata. Salah satu kawasan yang terdampak paling parah adalah Dusun Iburojo. Oleh sebab itu, tim pengamat meteorologi geofisika (PMG) dari badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) dikerahkan untuk mengukur struktur tanah.

Tofa Musrohim, salah satu PMG dari BMKG Pasuruan, mengatakan, tim yang dikerahkan untuk mengukur tanah di lokasi terdampak sebanyak enam orang. Mereka berasal dari BMKG Pasuruan dan pusat. “Tim berasal dari BMKG pusat atau Jakarta. Ada juga yang dari Pasuruan,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kecepatan batuan pada kedalaman 30 meter. “Itu untuk memetakan karakteristik bebatuan di sini. Batuan atau tanah itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada lunak, sedang, dan keras. Itu yang akan kami cari nantinya,” jelasnya.

Tofa mengungkapkan, kerusakan bangunan akibat gempa bumi berbeda dari satu kawasan dengan kawasan lain. “Kerusakannya berbeda. Di Dusun Iborojo kerusakan parah. Sedangkan di sekitar balai desa sini sangat kecil. Nah, apakah rumah-rumah di sana merupakan bangunan berstruktur atau tidak? Padahal gempanya sama, tapi kerusakan berbeda,” ungkapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Upaya demi upaya terus dilakukan pemerintah guna mengantisipasi kerusakan dan bertambahnya korban jiwa akibat gempa. Salah satunya dengan melakukan pengukuran struktur tanah menggunakan metode multichannel analysis of surface wave (MAWS).

Kerusakan rumah yang terjadi di Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari, akibat gempa tidak merata. Salah satu kawasan yang terdampak paling parah adalah Dusun Iburojo. Oleh sebab itu, tim pengamat meteorologi geofisika (PMG) dari badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) dikerahkan untuk mengukur struktur tanah.

Tofa Musrohim, salah satu PMG dari BMKG Pasuruan, mengatakan, tim yang dikerahkan untuk mengukur tanah di lokasi terdampak sebanyak enam orang. Mereka berasal dari BMKG Pasuruan dan pusat. “Tim berasal dari BMKG pusat atau Jakarta. Ada juga yang dari Pasuruan,” katanya.

Dia menjelaskan, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kecepatan batuan pada kedalaman 30 meter. “Itu untuk memetakan karakteristik bebatuan di sini. Batuan atau tanah itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada lunak, sedang, dan keras. Itu yang akan kami cari nantinya,” jelasnya.

Tofa mengungkapkan, kerusakan bangunan akibat gempa bumi berbeda dari satu kawasan dengan kawasan lain. “Kerusakannya berbeda. Di Dusun Iborojo kerusakan parah. Sedangkan di sekitar balai desa sini sangat kecil. Nah, apakah rumah-rumah di sana merupakan bangunan berstruktur atau tidak? Padahal gempanya sama, tapi kerusakan berbeda,” ungkapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Upaya demi upaya terus dilakukan pemerintah guna mengantisipasi kerusakan dan bertambahnya korban jiwa akibat gempa. Salah satunya dengan melakukan pengukuran struktur tanah menggunakan metode multichannel analysis of surface wave (MAWS).

Kerusakan rumah yang terjadi di Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari, akibat gempa tidak merata. Salah satu kawasan yang terdampak paling parah adalah Dusun Iburojo. Oleh sebab itu, tim pengamat meteorologi geofisika (PMG) dari badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) dikerahkan untuk mengukur struktur tanah.

Tofa Musrohim, salah satu PMG dari BMKG Pasuruan, mengatakan, tim yang dikerahkan untuk mengukur tanah di lokasi terdampak sebanyak enam orang. Mereka berasal dari BMKG Pasuruan dan pusat. “Tim berasal dari BMKG pusat atau Jakarta. Ada juga yang dari Pasuruan,” katanya.

Dia menjelaskan, pengukuran dilakukan untuk mengetahui kecepatan batuan pada kedalaman 30 meter. “Itu untuk memetakan karakteristik bebatuan di sini. Batuan atau tanah itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada lunak, sedang, dan keras. Itu yang akan kami cari nantinya,” jelasnya.

Tofa mengungkapkan, kerusakan bangunan akibat gempa bumi berbeda dari satu kawasan dengan kawasan lain. “Kerusakannya berbeda. Di Dusun Iborojo kerusakan parah. Sedangkan di sekitar balai desa sini sangat kecil. Nah, apakah rumah-rumah di sana merupakan bangunan berstruktur atau tidak? Padahal gempanya sama, tapi kerusakan berbeda,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/