alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Separuh Lapak Wisata Siti Sundari Mulai Tutup

Hanya Bertahan Tujuh Bulan, Tersisa 16 Warung

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mulusnya infrastruktur jalan akses menuju Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, rupanya tidak banyak mempertahankan minat pengunjung mendatangi ekowisata Siti Sundari di Desa Burno, Kecamatan Senduro. Konsep wisata alam yang terkesan menjadi wisata kuliner itu saat ini hanya ramai di akhir pekan saja.

Baca Juga : Kalian Berwisata? Tetap Patuh Prokes Ya!

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, ketika hari aktif, ekowisata tersebut tampak sepi. Seperti hidup segan mati tak mau. Tidak seperti sebelumnya. Bukan hanya tidak ada pengunjung yang datang, warga setempat yang membuka usaha kuliner pun banyak yang menutup lapaknya. Entah apa yang menjadi penyebab dasar ekowisata tersebut menurun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala Dusun Karanganyar, Desa Burno, Hadi Purnonomo mengatakan, kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) ekowisata tujuannya memang untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk mencari penghasilan nonkayu. Namun, hal itu tidak berjalan lama.

Di awal-awal ekowisata Siti Sundari berdiri, seluruh masyarakat yang tergabung dalam KUPS tersebut sempat mendapat pemasukan yang signifikan. Benar-benar seperti konsep perhutanan sosial yang diharapkan. Bahkan, dari penarikan parkir kendaraan yang masuk kala itu tembus Rp 9 juta dalam sehari. Namun, tujuh bulan berikutnya menurun drastis.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mulusnya infrastruktur jalan akses menuju Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, rupanya tidak banyak mempertahankan minat pengunjung mendatangi ekowisata Siti Sundari di Desa Burno, Kecamatan Senduro. Konsep wisata alam yang terkesan menjadi wisata kuliner itu saat ini hanya ramai di akhir pekan saja.

Baca Juga : Kalian Berwisata? Tetap Patuh Prokes Ya!

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, ketika hari aktif, ekowisata tersebut tampak sepi. Seperti hidup segan mati tak mau. Tidak seperti sebelumnya. Bukan hanya tidak ada pengunjung yang datang, warga setempat yang membuka usaha kuliner pun banyak yang menutup lapaknya. Entah apa yang menjadi penyebab dasar ekowisata tersebut menurun.

Kepala Dusun Karanganyar, Desa Burno, Hadi Purnonomo mengatakan, kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) ekowisata tujuannya memang untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk mencari penghasilan nonkayu. Namun, hal itu tidak berjalan lama.

Di awal-awal ekowisata Siti Sundari berdiri, seluruh masyarakat yang tergabung dalam KUPS tersebut sempat mendapat pemasukan yang signifikan. Benar-benar seperti konsep perhutanan sosial yang diharapkan. Bahkan, dari penarikan parkir kendaraan yang masuk kala itu tembus Rp 9 juta dalam sehari. Namun, tujuh bulan berikutnya menurun drastis.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mulusnya infrastruktur jalan akses menuju Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, rupanya tidak banyak mempertahankan minat pengunjung mendatangi ekowisata Siti Sundari di Desa Burno, Kecamatan Senduro. Konsep wisata alam yang terkesan menjadi wisata kuliner itu saat ini hanya ramai di akhir pekan saja.

Baca Juga : Kalian Berwisata? Tetap Patuh Prokes Ya!

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, ketika hari aktif, ekowisata tersebut tampak sepi. Seperti hidup segan mati tak mau. Tidak seperti sebelumnya. Bukan hanya tidak ada pengunjung yang datang, warga setempat yang membuka usaha kuliner pun banyak yang menutup lapaknya. Entah apa yang menjadi penyebab dasar ekowisata tersebut menurun.

Kepala Dusun Karanganyar, Desa Burno, Hadi Purnonomo mengatakan, kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) ekowisata tujuannya memang untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk mencari penghasilan nonkayu. Namun, hal itu tidak berjalan lama.

Di awal-awal ekowisata Siti Sundari berdiri, seluruh masyarakat yang tergabung dalam KUPS tersebut sempat mendapat pemasukan yang signifikan. Benar-benar seperti konsep perhutanan sosial yang diharapkan. Bahkan, dari penarikan parkir kendaraan yang masuk kala itu tembus Rp 9 juta dalam sehari. Namun, tujuh bulan berikutnya menurun drastis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/