alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Realisasi Janji Santunan Duka Kematian, Tidak Boleh Lebih Sebulan

Program santunan duka kematian Kabupaten Lumajang sudah berjalan selama tiga tahun. Semua ahli waris bisa mengajukan bantuan tersebut. Namun, batas waktunya tidak boleh lebih dari sebulan. Jika lebih, apakah ahli waris tetap menerima bantuannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

KUTORENON, Radar Semeru – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lumajang mencatat, program santunan duka kematian sudah diberikan ke pada 32.098 ahli waris. Rinciannya, pada tahun 2019 bantuan diberikan ke pada 9.011 ahli waris. Selanjutnya, 10.156 ahli waris menerima santunan pada tahun 2020. Sedangkan tahun lalu, jumlahnya naik menjadi 12.931 ahli waris.

Santunan duka kematian itu memang telah ditetapkan besarannya. Yakni Rp 1 juta. Praktis, dalam setahun santunan yang dikeluarkan mencapai belasan miliar rupiah. Namun, di tahun 2021, jumlah warga yang meninggal dunia dengan santunan yang diberikan tidak sama. Data yang berhasil dihimpun, besaran santunan yang dikeluarkan mencapai Rp 13,18 miliar. Artinya ada selisih sekitar Rp 251 juta.

Kepala Dinas Sosial, Dewi Susiyati mengungkapkan, siapapun warga Lumajang yang meninggal dunia bisa diajukan mendapat santunan. Pengajuan tersebut dapat diproses jika memenuhi persyaratan. Yakni melampirkan berkas surat permohonan, kartu keluarga, fotokopi ahli waris, dan surat kematian dari desa setempat. Setelah berkas tersebut lengkap, ahli waris bisa menyerahkannya ke kecamatan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kecamatan yang akan melaporkan ke kami. Selanjutnya, kami akan verifikasi data itu apakah sudah benar sesuai NIK dan lainnya. Jika benar, kami akan mengajukan santunan ke Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD,Red),” katanya.

Santunan ini, lanjut Dewi tidak memandang keluarga yang mampu atau tidak. Artinya semuanya mendapat bantuan selama ahli waris melaporkan dan mengajukan ke Dinsos. Namun, tidak semua data pengajuan bisa diproses. Maksimal pengajuan dilakukan ahli waris satu bulan pasca kematian. “Lebih dari itu, kami tidak bisa memprosesnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, dia meminta agar ahli waris yang hendak mengajukan santunan harus melengkapi berkas persyaratannya. Jika pengajuan mepet di akhir tahun, maka pencairan baru bisa dilakukan di tahun selanjutnya. Sehingga ada selisih dana santunan dengan jumlah kematian.

Sementara itu, Kepala BPKD Lumajang Sunyoto menambahkan, mekanisme pencairan paling lambat 2×24 jam dana sudah direalisasikan. Syaratnya, segala data dan dokumen yang diajukan harus lengkap.(kin/fid)

Penerima Santunan Kematian

Tahun             Jumlah

- Advertisement -

KUTORENON, Radar Semeru – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lumajang mencatat, program santunan duka kematian sudah diberikan ke pada 32.098 ahli waris. Rinciannya, pada tahun 2019 bantuan diberikan ke pada 9.011 ahli waris. Selanjutnya, 10.156 ahli waris menerima santunan pada tahun 2020. Sedangkan tahun lalu, jumlahnya naik menjadi 12.931 ahli waris.

Santunan duka kematian itu memang telah ditetapkan besarannya. Yakni Rp 1 juta. Praktis, dalam setahun santunan yang dikeluarkan mencapai belasan miliar rupiah. Namun, di tahun 2021, jumlah warga yang meninggal dunia dengan santunan yang diberikan tidak sama. Data yang berhasil dihimpun, besaran santunan yang dikeluarkan mencapai Rp 13,18 miliar. Artinya ada selisih sekitar Rp 251 juta.

Kepala Dinas Sosial, Dewi Susiyati mengungkapkan, siapapun warga Lumajang yang meninggal dunia bisa diajukan mendapat santunan. Pengajuan tersebut dapat diproses jika memenuhi persyaratan. Yakni melampirkan berkas surat permohonan, kartu keluarga, fotokopi ahli waris, dan surat kematian dari desa setempat. Setelah berkas tersebut lengkap, ahli waris bisa menyerahkannya ke kecamatan.

“Kecamatan yang akan melaporkan ke kami. Selanjutnya, kami akan verifikasi data itu apakah sudah benar sesuai NIK dan lainnya. Jika benar, kami akan mengajukan santunan ke Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD,Red),” katanya.

Santunan ini, lanjut Dewi tidak memandang keluarga yang mampu atau tidak. Artinya semuanya mendapat bantuan selama ahli waris melaporkan dan mengajukan ke Dinsos. Namun, tidak semua data pengajuan bisa diproses. Maksimal pengajuan dilakukan ahli waris satu bulan pasca kematian. “Lebih dari itu, kami tidak bisa memprosesnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, dia meminta agar ahli waris yang hendak mengajukan santunan harus melengkapi berkas persyaratannya. Jika pengajuan mepet di akhir tahun, maka pencairan baru bisa dilakukan di tahun selanjutnya. Sehingga ada selisih dana santunan dengan jumlah kematian.

Sementara itu, Kepala BPKD Lumajang Sunyoto menambahkan, mekanisme pencairan paling lambat 2×24 jam dana sudah direalisasikan. Syaratnya, segala data dan dokumen yang diajukan harus lengkap.(kin/fid)

Penerima Santunan Kematian

Tahun             Jumlah

KUTORENON, Radar Semeru – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lumajang mencatat, program santunan duka kematian sudah diberikan ke pada 32.098 ahli waris. Rinciannya, pada tahun 2019 bantuan diberikan ke pada 9.011 ahli waris. Selanjutnya, 10.156 ahli waris menerima santunan pada tahun 2020. Sedangkan tahun lalu, jumlahnya naik menjadi 12.931 ahli waris.

Santunan duka kematian itu memang telah ditetapkan besarannya. Yakni Rp 1 juta. Praktis, dalam setahun santunan yang dikeluarkan mencapai belasan miliar rupiah. Namun, di tahun 2021, jumlah warga yang meninggal dunia dengan santunan yang diberikan tidak sama. Data yang berhasil dihimpun, besaran santunan yang dikeluarkan mencapai Rp 13,18 miliar. Artinya ada selisih sekitar Rp 251 juta.

Kepala Dinas Sosial, Dewi Susiyati mengungkapkan, siapapun warga Lumajang yang meninggal dunia bisa diajukan mendapat santunan. Pengajuan tersebut dapat diproses jika memenuhi persyaratan. Yakni melampirkan berkas surat permohonan, kartu keluarga, fotokopi ahli waris, dan surat kematian dari desa setempat. Setelah berkas tersebut lengkap, ahli waris bisa menyerahkannya ke kecamatan.

“Kecamatan yang akan melaporkan ke kami. Selanjutnya, kami akan verifikasi data itu apakah sudah benar sesuai NIK dan lainnya. Jika benar, kami akan mengajukan santunan ke Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD,Red),” katanya.

Santunan ini, lanjut Dewi tidak memandang keluarga yang mampu atau tidak. Artinya semuanya mendapat bantuan selama ahli waris melaporkan dan mengajukan ke Dinsos. Namun, tidak semua data pengajuan bisa diproses. Maksimal pengajuan dilakukan ahli waris satu bulan pasca kematian. “Lebih dari itu, kami tidak bisa memprosesnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, dia meminta agar ahli waris yang hendak mengajukan santunan harus melengkapi berkas persyaratannya. Jika pengajuan mepet di akhir tahun, maka pencairan baru bisa dilakukan di tahun selanjutnya. Sehingga ada selisih dana santunan dengan jumlah kematian.

Sementara itu, Kepala BPKD Lumajang Sunyoto menambahkan, mekanisme pencairan paling lambat 2×24 jam dana sudah direalisasikan. Syaratnya, segala data dan dokumen yang diajukan harus lengkap.(kin/fid)

Penerima Santunan Kematian

Tahun             Jumlah

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/