alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Bahaya! Cinta Segitiga, Berujung Meja Hijau

Pengambilan keputusan untuk mengakhiri hubungan pasangan suami-istri memang melalui banyak pertimbangan. Pihak ketiga menjadi faktor dominan penyebab masalah rumah tangga harus diselesaikan di meja hijau. Ternyata, pihak ketiga merupakan orang yang paling dekat dengan rumah tangga. Salah satunya keluarga.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka kasus perceraian di Lumajang pada tahun kedua pandemi masih tetap tinggi. Meski sempat diberlakukan pembatasan pendaftaran, tetap banyak pengajuan perpisahan dengan pasangannya. Data Kantor Pengadilan Agama (PA) Lumajang, sejak awal Januari hingga akhir September, sudah ada 2.286 perkara perceraian yang masuk.

Beragam persoalan menjadi pemicu untuk mengakhiri biduk rumah tangga. Namun, faktor dominannya disebabkan perselisihan atau pertengkaran secara terus-menerus. Faktor tersebut menempati urutan paling tinggi dengan 1.135 perkara. Lalu, disusul faktor ekonomi dengan jumlah 706 perkara. Baik dari pasangan usia muda dengan usia pernikahan belum lama, maupun yang sudah berumur dengan masa berumah tangga cukup lama.

“Dari ribuan kasus itu, faktor dominannya adalah perselisihan atau pertengkaran dalam rumah tangga yang terjadi terus-menerus. Nah, faktor ini disebabkan banyak hal. Bisa jadi karena adanya pihak ketiga. Baik dari perselingkuhan atau pihak ketiga. Terutama dari keluarga,” ungkap Anwar, Humas PA Lumajang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, hal tersebut terungkap saat sidang tertutup untuk umum. Mayoritas yang menggugat adalah sang istri. Namun, setelah didalami, penyebab tertinggi soal perselisihan itu juga didorong oleh faktor ekonomi dalam keluarga. Fenomena ini diperkirakan terkait dengan pandemi korona yang tak kunjung usai. Sehingga, situasi tersebut mengguncang banyak pihak.

“Umumnya, suami atau kepala rumah tangga belum memiliki penghasilan yang tetap setiap harinya. Ada juga suami yang awalnya bekerja, kemudian dapat pemutusan hubungan kerja atau PHK. Sehingga tidak ada lagi penghasilan untuk istri dan anak-anaknya. Makanya, roda ekonomi keluarga menjadi tidak cukup dan memutuskan untuk tidak serumah lagi,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka kasus perceraian di Lumajang pada tahun kedua pandemi masih tetap tinggi. Meski sempat diberlakukan pembatasan pendaftaran, tetap banyak pengajuan perpisahan dengan pasangannya. Data Kantor Pengadilan Agama (PA) Lumajang, sejak awal Januari hingga akhir September, sudah ada 2.286 perkara perceraian yang masuk.

Beragam persoalan menjadi pemicu untuk mengakhiri biduk rumah tangga. Namun, faktor dominannya disebabkan perselisihan atau pertengkaran secara terus-menerus. Faktor tersebut menempati urutan paling tinggi dengan 1.135 perkara. Lalu, disusul faktor ekonomi dengan jumlah 706 perkara. Baik dari pasangan usia muda dengan usia pernikahan belum lama, maupun yang sudah berumur dengan masa berumah tangga cukup lama.

“Dari ribuan kasus itu, faktor dominannya adalah perselisihan atau pertengkaran dalam rumah tangga yang terjadi terus-menerus. Nah, faktor ini disebabkan banyak hal. Bisa jadi karena adanya pihak ketiga. Baik dari perselingkuhan atau pihak ketiga. Terutama dari keluarga,” ungkap Anwar, Humas PA Lumajang.

Dia menjelaskan, hal tersebut terungkap saat sidang tertutup untuk umum. Mayoritas yang menggugat adalah sang istri. Namun, setelah didalami, penyebab tertinggi soal perselisihan itu juga didorong oleh faktor ekonomi dalam keluarga. Fenomena ini diperkirakan terkait dengan pandemi korona yang tak kunjung usai. Sehingga, situasi tersebut mengguncang banyak pihak.

“Umumnya, suami atau kepala rumah tangga belum memiliki penghasilan yang tetap setiap harinya. Ada juga suami yang awalnya bekerja, kemudian dapat pemutusan hubungan kerja atau PHK. Sehingga tidak ada lagi penghasilan untuk istri dan anak-anaknya. Makanya, roda ekonomi keluarga menjadi tidak cukup dan memutuskan untuk tidak serumah lagi,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka kasus perceraian di Lumajang pada tahun kedua pandemi masih tetap tinggi. Meski sempat diberlakukan pembatasan pendaftaran, tetap banyak pengajuan perpisahan dengan pasangannya. Data Kantor Pengadilan Agama (PA) Lumajang, sejak awal Januari hingga akhir September, sudah ada 2.286 perkara perceraian yang masuk.

Beragam persoalan menjadi pemicu untuk mengakhiri biduk rumah tangga. Namun, faktor dominannya disebabkan perselisihan atau pertengkaran secara terus-menerus. Faktor tersebut menempati urutan paling tinggi dengan 1.135 perkara. Lalu, disusul faktor ekonomi dengan jumlah 706 perkara. Baik dari pasangan usia muda dengan usia pernikahan belum lama, maupun yang sudah berumur dengan masa berumah tangga cukup lama.

“Dari ribuan kasus itu, faktor dominannya adalah perselisihan atau pertengkaran dalam rumah tangga yang terjadi terus-menerus. Nah, faktor ini disebabkan banyak hal. Bisa jadi karena adanya pihak ketiga. Baik dari perselingkuhan atau pihak ketiga. Terutama dari keluarga,” ungkap Anwar, Humas PA Lumajang.

Dia menjelaskan, hal tersebut terungkap saat sidang tertutup untuk umum. Mayoritas yang menggugat adalah sang istri. Namun, setelah didalami, penyebab tertinggi soal perselisihan itu juga didorong oleh faktor ekonomi dalam keluarga. Fenomena ini diperkirakan terkait dengan pandemi korona yang tak kunjung usai. Sehingga, situasi tersebut mengguncang banyak pihak.

“Umumnya, suami atau kepala rumah tangga belum memiliki penghasilan yang tetap setiap harinya. Ada juga suami yang awalnya bekerja, kemudian dapat pemutusan hubungan kerja atau PHK. Sehingga tidak ada lagi penghasilan untuk istri dan anak-anaknya. Makanya, roda ekonomi keluarga menjadi tidak cukup dan memutuskan untuk tidak serumah lagi,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/