alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Siap-Siap Sampah Berserakan

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang diperingati setiap bulan Agustus jadi momen bermakna. Tak terkecuali bagi warga Lumajang. Beragam acara mulai dirancang. Mulai dari tingkatan desa hingga kabupaten. Bahkan sebelum Bulan Kemerdekaan pun sudah ada beberapa desa yang memulai kegiatan terlebih dahulu. Hal itu merupakan bentuk antusiasme warga Lumajang.

Namun, yang tak kalah pentingnya saat menyambut bulan tersebut, biasanya juga banyak pedagang kaki lima (PKL) dadakan yang ikut memadati area perlombaan. Sebab, hal momen itu jadi masa panennya PKL untuk mendapatkan cuan lebih banyak.

Dampaknya, sampah bekas makanan biasanya tercecer di jalanan. Warga enggan untuk membuangnya ke tempat sampah. Mereka bisa saja langsung menjatuhkan ke tanah. Hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan warga, apalagi saat ada keramaian semacam itu. “Sing penting sampah e diguwak neng tempat sampah bosku. Yuk wong Lumajang kompak,” tulis Danar Indra Kusuma.

Mobile_AP_Rectangle 2

Warga meminta adanya ajakan dari pemerintah setempat untuk membuang sampah pada tempatnya. Sebab, hal itu dianggap efektif jika orang nomor satu di Lumajang ikut mengajak langsung warganya dengan memberikan imbauan. “Semoga ada ajakan dari Pak Bupati dan Bu Wabup untuk yang liat karnaval. Semoga sampah beli cilok dan lain-lainnya dibuang pada tempatnya. Wong Lumajang kompak,” tambahnya.

Sebab, jika sampah berserakan, keindahan kota Lumajang tak lagi bisa dinikmati. Apalagi saat acara sudah selesai, justru meninggalkan kenangan kurang baik. Salah satunya berupa sampah yang berserakan. “Bener iku mas, ben acara buyar tinggal kenangan sampah keleleran yo,” komentar Indah Cahyani.” (dea/c2/fid)

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang diperingati setiap bulan Agustus jadi momen bermakna. Tak terkecuali bagi warga Lumajang. Beragam acara mulai dirancang. Mulai dari tingkatan desa hingga kabupaten. Bahkan sebelum Bulan Kemerdekaan pun sudah ada beberapa desa yang memulai kegiatan terlebih dahulu. Hal itu merupakan bentuk antusiasme warga Lumajang.

Namun, yang tak kalah pentingnya saat menyambut bulan tersebut, biasanya juga banyak pedagang kaki lima (PKL) dadakan yang ikut memadati area perlombaan. Sebab, hal momen itu jadi masa panennya PKL untuk mendapatkan cuan lebih banyak.

Dampaknya, sampah bekas makanan biasanya tercecer di jalanan. Warga enggan untuk membuangnya ke tempat sampah. Mereka bisa saja langsung menjatuhkan ke tanah. Hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan warga, apalagi saat ada keramaian semacam itu. “Sing penting sampah e diguwak neng tempat sampah bosku. Yuk wong Lumajang kompak,” tulis Danar Indra Kusuma.

Warga meminta adanya ajakan dari pemerintah setempat untuk membuang sampah pada tempatnya. Sebab, hal itu dianggap efektif jika orang nomor satu di Lumajang ikut mengajak langsung warganya dengan memberikan imbauan. “Semoga ada ajakan dari Pak Bupati dan Bu Wabup untuk yang liat karnaval. Semoga sampah beli cilok dan lain-lainnya dibuang pada tempatnya. Wong Lumajang kompak,” tambahnya.

Sebab, jika sampah berserakan, keindahan kota Lumajang tak lagi bisa dinikmati. Apalagi saat acara sudah selesai, justru meninggalkan kenangan kurang baik. Salah satunya berupa sampah yang berserakan. “Bener iku mas, ben acara buyar tinggal kenangan sampah keleleran yo,” komentar Indah Cahyani.” (dea/c2/fid)

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang diperingati setiap bulan Agustus jadi momen bermakna. Tak terkecuali bagi warga Lumajang. Beragam acara mulai dirancang. Mulai dari tingkatan desa hingga kabupaten. Bahkan sebelum Bulan Kemerdekaan pun sudah ada beberapa desa yang memulai kegiatan terlebih dahulu. Hal itu merupakan bentuk antusiasme warga Lumajang.

Namun, yang tak kalah pentingnya saat menyambut bulan tersebut, biasanya juga banyak pedagang kaki lima (PKL) dadakan yang ikut memadati area perlombaan. Sebab, hal momen itu jadi masa panennya PKL untuk mendapatkan cuan lebih banyak.

Dampaknya, sampah bekas makanan biasanya tercecer di jalanan. Warga enggan untuk membuangnya ke tempat sampah. Mereka bisa saja langsung menjatuhkan ke tanah. Hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan warga, apalagi saat ada keramaian semacam itu. “Sing penting sampah e diguwak neng tempat sampah bosku. Yuk wong Lumajang kompak,” tulis Danar Indra Kusuma.

Warga meminta adanya ajakan dari pemerintah setempat untuk membuang sampah pada tempatnya. Sebab, hal itu dianggap efektif jika orang nomor satu di Lumajang ikut mengajak langsung warganya dengan memberikan imbauan. “Semoga ada ajakan dari Pak Bupati dan Bu Wabup untuk yang liat karnaval. Semoga sampah beli cilok dan lain-lainnya dibuang pada tempatnya. Wong Lumajang kompak,” tambahnya.

Sebab, jika sampah berserakan, keindahan kota Lumajang tak lagi bisa dinikmati. Apalagi saat acara sudah selesai, justru meninggalkan kenangan kurang baik. Salah satunya berupa sampah yang berserakan. “Bener iku mas, ben acara buyar tinggal kenangan sampah keleleran yo,” komentar Indah Cahyani.” (dea/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/