alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Harga Sapi Mulai Anjlok

Peternak Ketar-ketir, Pilih Jual Cepat

Mobile_AP_Rectangle 1

NGUTER, Radar Semeru – Grafik penularan PMK pada hewan berkuku belah cukup tinggi. Hampir setiap hari terjadi penambahan hewan yang terjangkit. Termasuk merambah ke jenis hewan lainnya. Selain mengancam kesehatan, penyakit itu juga membuat harga sapi dan kambing terancam menurun.

BACA JUGA : Penyebaran Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Sapi di Lumajang

Tidak sedikit peternak yang panik dan khawatir. Bahkan, saking khawatirnya, Ain Fitria Lestari, warga Dusun Basuki, Blok Darungan, Desa Nguter, Kecamatan Pasirian, terpaksa menjual satu sapi dari empat sapi miliknya. Perempuan ini khawatir penyakit itu membuat sapi miliknya mati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ain menjelaskan, sejak beberapa hari yang lalu sapi miliknya tidak bisa berdiri. Terlihat lesu dan tenaganya terus berkurang. “Sapinya duduk-duduk terus, kelihatannya lemas. Makanya, daripada mati, sama bapak dijual satunya, supaya tidak terlalu merugi,” katanya.

Namun, harga jual sapi itu tidak seperti harga normal. Biasanya dengan bobot lumayan besar, sapi dihargai Rp 18 juta. Sedangkan, uang yang diterimanya dari penjualan sapi itu hanya Rp 12 juta. Pilihan menjual sengaja diambil karena khawatir hewan peliharaannya sakit parah hingga mati. Praktis, harga jual akan semakin menurun.

- Advertisement -

NGUTER, Radar Semeru – Grafik penularan PMK pada hewan berkuku belah cukup tinggi. Hampir setiap hari terjadi penambahan hewan yang terjangkit. Termasuk merambah ke jenis hewan lainnya. Selain mengancam kesehatan, penyakit itu juga membuat harga sapi dan kambing terancam menurun.

BACA JUGA : Penyebaran Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Sapi di Lumajang

Tidak sedikit peternak yang panik dan khawatir. Bahkan, saking khawatirnya, Ain Fitria Lestari, warga Dusun Basuki, Blok Darungan, Desa Nguter, Kecamatan Pasirian, terpaksa menjual satu sapi dari empat sapi miliknya. Perempuan ini khawatir penyakit itu membuat sapi miliknya mati.

Ain menjelaskan, sejak beberapa hari yang lalu sapi miliknya tidak bisa berdiri. Terlihat lesu dan tenaganya terus berkurang. “Sapinya duduk-duduk terus, kelihatannya lemas. Makanya, daripada mati, sama bapak dijual satunya, supaya tidak terlalu merugi,” katanya.

Namun, harga jual sapi itu tidak seperti harga normal. Biasanya dengan bobot lumayan besar, sapi dihargai Rp 18 juta. Sedangkan, uang yang diterimanya dari penjualan sapi itu hanya Rp 12 juta. Pilihan menjual sengaja diambil karena khawatir hewan peliharaannya sakit parah hingga mati. Praktis, harga jual akan semakin menurun.

NGUTER, Radar Semeru – Grafik penularan PMK pada hewan berkuku belah cukup tinggi. Hampir setiap hari terjadi penambahan hewan yang terjangkit. Termasuk merambah ke jenis hewan lainnya. Selain mengancam kesehatan, penyakit itu juga membuat harga sapi dan kambing terancam menurun.

BACA JUGA : Penyebaran Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Sapi di Lumajang

Tidak sedikit peternak yang panik dan khawatir. Bahkan, saking khawatirnya, Ain Fitria Lestari, warga Dusun Basuki, Blok Darungan, Desa Nguter, Kecamatan Pasirian, terpaksa menjual satu sapi dari empat sapi miliknya. Perempuan ini khawatir penyakit itu membuat sapi miliknya mati.

Ain menjelaskan, sejak beberapa hari yang lalu sapi miliknya tidak bisa berdiri. Terlihat lesu dan tenaganya terus berkurang. “Sapinya duduk-duduk terus, kelihatannya lemas. Makanya, daripada mati, sama bapak dijual satunya, supaya tidak terlalu merugi,” katanya.

Namun, harga jual sapi itu tidak seperti harga normal. Biasanya dengan bobot lumayan besar, sapi dihargai Rp 18 juta. Sedangkan, uang yang diterimanya dari penjualan sapi itu hanya Rp 12 juta. Pilihan menjual sengaja diambil karena khawatir hewan peliharaannya sakit parah hingga mati. Praktis, harga jual akan semakin menurun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/