alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Baby Boom Pandemi Tembus 1,8 Persen

Takut Terpapar, Masyarakat Enggan KB

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya layanan kontrasepsi selama pandemi di berbagai fasilitas kesehatan (faskes) menimbulkan masalah baru. Akibatnya, terjadi ledakan angka kelahiran bayi atau baby boom yang fantastis. Di Lumajang, kenaikannya mencapai 1,8 persen.

Fenomena baby boom memang diperkirakan akan terjadi. Sebab, pelayanan program keluarga berencana (KB) yang memerlukan kontak tenaga kesehatan dengan pasien dibatasi. Hal tersebut sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus korona. Imbasnya, masyarakat enggan untuk menggunakan alat kontrasepsi di tengah pandemi.

“Para akseptor (penerima) takut terpapar virus korona ketika ingin mengakses layanan KB. Karena selama pandemi layanan KB memang dibatasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Kabupaten Lumajang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya memang membuka layanan kontrasepsi, seperti pemberian pil, jarum suntik, hingga pemakaian KB spiral atau intrauterine device (IUD). Namun, hal tersebut tidak maksimal. “Padahal pelayanan KB di semua fasilitas kesehatan dibiayai pemerintah alias gratis. Tapi mereka tetap takut untuk KB,” ujarnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya layanan kontrasepsi selama pandemi di berbagai fasilitas kesehatan (faskes) menimbulkan masalah baru. Akibatnya, terjadi ledakan angka kelahiran bayi atau baby boom yang fantastis. Di Lumajang, kenaikannya mencapai 1,8 persen.

Fenomena baby boom memang diperkirakan akan terjadi. Sebab, pelayanan program keluarga berencana (KB) yang memerlukan kontak tenaga kesehatan dengan pasien dibatasi. Hal tersebut sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus korona. Imbasnya, masyarakat enggan untuk menggunakan alat kontrasepsi di tengah pandemi.

“Para akseptor (penerima) takut terpapar virus korona ketika ingin mengakses layanan KB. Karena selama pandemi layanan KB memang dibatasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Kabupaten Lumajang.

Pihaknya memang membuka layanan kontrasepsi, seperti pemberian pil, jarum suntik, hingga pemakaian KB spiral atau intrauterine device (IUD). Namun, hal tersebut tidak maksimal. “Padahal pelayanan KB di semua fasilitas kesehatan dibiayai pemerintah alias gratis. Tapi mereka tetap takut untuk KB,” ujarnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya layanan kontrasepsi selama pandemi di berbagai fasilitas kesehatan (faskes) menimbulkan masalah baru. Akibatnya, terjadi ledakan angka kelahiran bayi atau baby boom yang fantastis. Di Lumajang, kenaikannya mencapai 1,8 persen.

Fenomena baby boom memang diperkirakan akan terjadi. Sebab, pelayanan program keluarga berencana (KB) yang memerlukan kontak tenaga kesehatan dengan pasien dibatasi. Hal tersebut sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus korona. Imbasnya, masyarakat enggan untuk menggunakan alat kontrasepsi di tengah pandemi.

“Para akseptor (penerima) takut terpapar virus korona ketika ingin mengakses layanan KB. Karena selama pandemi layanan KB memang dibatasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Kabupaten Lumajang.

Pihaknya memang membuka layanan kontrasepsi, seperti pemberian pil, jarum suntik, hingga pemakaian KB spiral atau intrauterine device (IUD). Namun, hal tersebut tidak maksimal. “Padahal pelayanan KB di semua fasilitas kesehatan dibiayai pemerintah alias gratis. Tapi mereka tetap takut untuk KB,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/