alexametrics
20.1 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Katanya Ada Mahar Rp 30 Juta

Desas-desus adanya mahar untuk menjadi perangkat desa makin santer saja. Belakangan, malah muncul sejumlah korban yang tak lain adalah tim pemenangan semasa pilkades. Besaran mahar yang diminta cukup fantastis. Per orang mencapai Rp 30 juta.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada sejumlah desa yang memang menggelar pengisian perangkat desa. Termasuk di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono. Di sana ada tiga lowongan perangkat desa, yaitu kasi pelayanan, kasi pemerintahan, dan Kasun Sidosari.

Ketiga lowongan tersebut sebetulnya sudah terisi oleh satu paket anak-anak dari orang yang disebut-sebut pernah membantu pemenangan saat pilkades. Namun, dari satu paket tersebut, ada satu yang selip, alias tak lolos penjaringan dan tidak jadi perangkat.

Ketidakpuasan itu dibeberkan Mustofa, orang tua Khusnul Khotimah, yang merupakan salah satu peserta penjaringan. Menyaksikan anaknya tak lolos, dia membuka borok pelaksanaan penjaringan perangkat yang sarat pungli. “Saya dan Pak Kades sudah sepakat kalau anak saya masuk kasi pelayanan, tetapi kok gagal,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menceritakan, awal mulanya kesepakatan itu terjadi tahun lalu. Tepatnya ketika pelantikan ratusan kades awal tahun 2020. Sebagai bentuk balas budi, kades menjanjikan jabatan perangkat di desanya. Tidak hanya pada dirinya, dua orang lainnya yang dianggap berjasa selama pemenangan juga ditawari.

Awal tahun 2021, penawaran itu ditindaklanjuti. Ketiga orang itu dikumpulkan untuk mencari celah lolos penjaringan perangkat desa. Rupanya, meskipun menyandang tim sukses, untuk jadi perangkat tidak gratis. Ada biaya yang harus dikeluarkan. “Pertemuan awal sekitar 14 Juni itu kami diminta Rp 5 juta,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada sejumlah desa yang memang menggelar pengisian perangkat desa. Termasuk di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono. Di sana ada tiga lowongan perangkat desa, yaitu kasi pelayanan, kasi pemerintahan, dan Kasun Sidosari.

Ketiga lowongan tersebut sebetulnya sudah terisi oleh satu paket anak-anak dari orang yang disebut-sebut pernah membantu pemenangan saat pilkades. Namun, dari satu paket tersebut, ada satu yang selip, alias tak lolos penjaringan dan tidak jadi perangkat.

Ketidakpuasan itu dibeberkan Mustofa, orang tua Khusnul Khotimah, yang merupakan salah satu peserta penjaringan. Menyaksikan anaknya tak lolos, dia membuka borok pelaksanaan penjaringan perangkat yang sarat pungli. “Saya dan Pak Kades sudah sepakat kalau anak saya masuk kasi pelayanan, tetapi kok gagal,” jelasnya.

Dia menceritakan, awal mulanya kesepakatan itu terjadi tahun lalu. Tepatnya ketika pelantikan ratusan kades awal tahun 2020. Sebagai bentuk balas budi, kades menjanjikan jabatan perangkat di desanya. Tidak hanya pada dirinya, dua orang lainnya yang dianggap berjasa selama pemenangan juga ditawari.

Awal tahun 2021, penawaran itu ditindaklanjuti. Ketiga orang itu dikumpulkan untuk mencari celah lolos penjaringan perangkat desa. Rupanya, meskipun menyandang tim sukses, untuk jadi perangkat tidak gratis. Ada biaya yang harus dikeluarkan. “Pertemuan awal sekitar 14 Juni itu kami diminta Rp 5 juta,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ada sejumlah desa yang memang menggelar pengisian perangkat desa. Termasuk di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono. Di sana ada tiga lowongan perangkat desa, yaitu kasi pelayanan, kasi pemerintahan, dan Kasun Sidosari.

Ketiga lowongan tersebut sebetulnya sudah terisi oleh satu paket anak-anak dari orang yang disebut-sebut pernah membantu pemenangan saat pilkades. Namun, dari satu paket tersebut, ada satu yang selip, alias tak lolos penjaringan dan tidak jadi perangkat.

Ketidakpuasan itu dibeberkan Mustofa, orang tua Khusnul Khotimah, yang merupakan salah satu peserta penjaringan. Menyaksikan anaknya tak lolos, dia membuka borok pelaksanaan penjaringan perangkat yang sarat pungli. “Saya dan Pak Kades sudah sepakat kalau anak saya masuk kasi pelayanan, tetapi kok gagal,” jelasnya.

Dia menceritakan, awal mulanya kesepakatan itu terjadi tahun lalu. Tepatnya ketika pelantikan ratusan kades awal tahun 2020. Sebagai bentuk balas budi, kades menjanjikan jabatan perangkat di desanya. Tidak hanya pada dirinya, dua orang lainnya yang dianggap berjasa selama pemenangan juga ditawari.

Awal tahun 2021, penawaran itu ditindaklanjuti. Ketiga orang itu dikumpulkan untuk mencari celah lolos penjaringan perangkat desa. Rupanya, meskipun menyandang tim sukses, untuk jadi perangkat tidak gratis. Ada biaya yang harus dikeluarkan. “Pertemuan awal sekitar 14 Juni itu kami diminta Rp 5 juta,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/