alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Unik! Nikah di Pengungsian Gunung Semeru

Koordinator Pengungsi Siapkan Tempat Honey Moon

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Resepsi dan pesta pernikahan tampaknya sudah tak terlalu berarti bagi pasangan yang terdampak erupsi Gunung Semeru (04/12). Kedua pengungsi tersebut tetap melangsungkan akad nikah di lokasi pengungsian. Tepatnya di Kantor Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, siang kemarin.

Pasangan ini merupakan warga tetangga desa. Nurhadi, 35, adalah warga Dusun Curahkobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Sementara, Hasanatun Munawaroh adalah warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Rumah pasangan pengantin ini ambruk akibat bencana awan panas guguran (APG) Semeru.

Nurhadi menceritakan, sejatinya dia berencana melangsungkan akad jauh hari sebelum terjadi bencana. Namun, karena saat itu dia bersama istrinya belum pernah suntik vaksin, jadwal itu diundur oleh pihak kantor urusan agama setempat. Belum sempat menentukan tanggal, bencana erupsi melanda rumah mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Ketika terjadi bencana, kami ya menyelamatkan diri masing-masing. Saya harus ngungsi ke rumah saudara saya di desa sebelah. Istri saya juga ngungsi. Alhamdulillah, waktu itu saya yang mencari istri, tetap ketemu. Ketemunya di salah satu masjid yang ada di sekitar rumahnya,” katanya.

Kemudian, mereka memutuskan untuk menetap di lokasi pengungsian Desa Penanggal. Setelah menahan rindu cuku lama, bermodal mahar uang tunai sebesar seratus ribu, Nurhadi nekat menikahi Hasanatun di lokasi pengungsian. “Semua lancar. Administrasi di KUA juga tidak ada masalah, meskipun KK saya sempat hilang,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Resepsi dan pesta pernikahan tampaknya sudah tak terlalu berarti bagi pasangan yang terdampak erupsi Gunung Semeru (04/12). Kedua pengungsi tersebut tetap melangsungkan akad nikah di lokasi pengungsian. Tepatnya di Kantor Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, siang kemarin.

Pasangan ini merupakan warga tetangga desa. Nurhadi, 35, adalah warga Dusun Curahkobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Sementara, Hasanatun Munawaroh adalah warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Rumah pasangan pengantin ini ambruk akibat bencana awan panas guguran (APG) Semeru.

Nurhadi menceritakan, sejatinya dia berencana melangsungkan akad jauh hari sebelum terjadi bencana. Namun, karena saat itu dia bersama istrinya belum pernah suntik vaksin, jadwal itu diundur oleh pihak kantor urusan agama setempat. Belum sempat menentukan tanggal, bencana erupsi melanda rumah mereka.

“Ketika terjadi bencana, kami ya menyelamatkan diri masing-masing. Saya harus ngungsi ke rumah saudara saya di desa sebelah. Istri saya juga ngungsi. Alhamdulillah, waktu itu saya yang mencari istri, tetap ketemu. Ketemunya di salah satu masjid yang ada di sekitar rumahnya,” katanya.

Kemudian, mereka memutuskan untuk menetap di lokasi pengungsian Desa Penanggal. Setelah menahan rindu cuku lama, bermodal mahar uang tunai sebesar seratus ribu, Nurhadi nekat menikahi Hasanatun di lokasi pengungsian. “Semua lancar. Administrasi di KUA juga tidak ada masalah, meskipun KK saya sempat hilang,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Resepsi dan pesta pernikahan tampaknya sudah tak terlalu berarti bagi pasangan yang terdampak erupsi Gunung Semeru (04/12). Kedua pengungsi tersebut tetap melangsungkan akad nikah di lokasi pengungsian. Tepatnya di Kantor Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, siang kemarin.

Pasangan ini merupakan warga tetangga desa. Nurhadi, 35, adalah warga Dusun Curahkobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Sementara, Hasanatun Munawaroh adalah warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Rumah pasangan pengantin ini ambruk akibat bencana awan panas guguran (APG) Semeru.

Nurhadi menceritakan, sejatinya dia berencana melangsungkan akad jauh hari sebelum terjadi bencana. Namun, karena saat itu dia bersama istrinya belum pernah suntik vaksin, jadwal itu diundur oleh pihak kantor urusan agama setempat. Belum sempat menentukan tanggal, bencana erupsi melanda rumah mereka.

“Ketika terjadi bencana, kami ya menyelamatkan diri masing-masing. Saya harus ngungsi ke rumah saudara saya di desa sebelah. Istri saya juga ngungsi. Alhamdulillah, waktu itu saya yang mencari istri, tetap ketemu. Ketemunya di salah satu masjid yang ada di sekitar rumahnya,” katanya.

Kemudian, mereka memutuskan untuk menetap di lokasi pengungsian Desa Penanggal. Setelah menahan rindu cuku lama, bermodal mahar uang tunai sebesar seratus ribu, Nurhadi nekat menikahi Hasanatun di lokasi pengungsian. “Semua lancar. Administrasi di KUA juga tidak ada masalah, meskipun KK saya sempat hilang,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/