alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Kok Malah Sinau Bareng di Warkop Rek?

Padahal Tatap Muka Saja Masih Dibatasi karena Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

Alfan, sapaan akrabnya, mengaku rindu akan suasana sekolah. Sebab, pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama teman-temannya ketika berada di dalam kelas, kini harus dikerjakan di warung kopi. Terlebih lagi, kadang suara bising yang dikeluarkan orang sekitar cukup mengganggu konsentrasi mereka.

Sikap ketiga kawanan bocah ini banyak jadi perhatian karena seharusnya mereka ada di rumah. Sebab, kondisinya masih pandemi. Jangankan mengerjakan di tempat umum, untuk tatap muka di sekolah saja dibatasi. “Kok aneh-aneh mereka ini dibiarkan ke warung kopi saat pandemi. Wong sekolah saja masih dibatasi,” ungkap Rohmad, salah satu pengunjung warkop.

Dari temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Lumajang Agus Salim sempat dikonfirmasi. Awalnya, Agus Salim terkejut, menjawab dengan emoticon pusing lewat jaringan WhatsApp-nya. Sebab, tidak seharusnya murid-murid itu ada di warkop demi pencegahan penularan Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk kebutuhan wifi, Agus mengatakan, seluruh sekolah sebetulnya bisa menganggarkan sebagian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pembelajaran murid-murid. “Coba tanyakan sendiri ke murid-murid itu, seharusnya dapat dari BOS,” pungkasnya.

- Advertisement -

Alfan, sapaan akrabnya, mengaku rindu akan suasana sekolah. Sebab, pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama teman-temannya ketika berada di dalam kelas, kini harus dikerjakan di warung kopi. Terlebih lagi, kadang suara bising yang dikeluarkan orang sekitar cukup mengganggu konsentrasi mereka.

Sikap ketiga kawanan bocah ini banyak jadi perhatian karena seharusnya mereka ada di rumah. Sebab, kondisinya masih pandemi. Jangankan mengerjakan di tempat umum, untuk tatap muka di sekolah saja dibatasi. “Kok aneh-aneh mereka ini dibiarkan ke warung kopi saat pandemi. Wong sekolah saja masih dibatasi,” ungkap Rohmad, salah satu pengunjung warkop.

Dari temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Lumajang Agus Salim sempat dikonfirmasi. Awalnya, Agus Salim terkejut, menjawab dengan emoticon pusing lewat jaringan WhatsApp-nya. Sebab, tidak seharusnya murid-murid itu ada di warkop demi pencegahan penularan Covid-19.

Untuk kebutuhan wifi, Agus mengatakan, seluruh sekolah sebetulnya bisa menganggarkan sebagian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pembelajaran murid-murid. “Coba tanyakan sendiri ke murid-murid itu, seharusnya dapat dari BOS,” pungkasnya.

Alfan, sapaan akrabnya, mengaku rindu akan suasana sekolah. Sebab, pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama teman-temannya ketika berada di dalam kelas, kini harus dikerjakan di warung kopi. Terlebih lagi, kadang suara bising yang dikeluarkan orang sekitar cukup mengganggu konsentrasi mereka.

Sikap ketiga kawanan bocah ini banyak jadi perhatian karena seharusnya mereka ada di rumah. Sebab, kondisinya masih pandemi. Jangankan mengerjakan di tempat umum, untuk tatap muka di sekolah saja dibatasi. “Kok aneh-aneh mereka ini dibiarkan ke warung kopi saat pandemi. Wong sekolah saja masih dibatasi,” ungkap Rohmad, salah satu pengunjung warkop.

Dari temuan ini, Kepala Dinas Pendidikan Lumajang Agus Salim sempat dikonfirmasi. Awalnya, Agus Salim terkejut, menjawab dengan emoticon pusing lewat jaringan WhatsApp-nya. Sebab, tidak seharusnya murid-murid itu ada di warkop demi pencegahan penularan Covid-19.

Untuk kebutuhan wifi, Agus mengatakan, seluruh sekolah sebetulnya bisa menganggarkan sebagian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pembelajaran murid-murid. “Coba tanyakan sendiri ke murid-murid itu, seharusnya dapat dari BOS,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/