alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Kok Malah Sinau Bareng di Warkop Rek?

Padahal Tatap Muka Saja Masih Dibatasi karena Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran tatap muka memang dihentikan sementara sejak awal tahun kemarin. Dampaknya, murid-murid menerima beragam metode pembelajaran. Mulai dari pembelajaran model daring, Guru Sambang (Gusam), hingga Program Sinau Bareng (PSB). Tapi apakah sinau bareng di warung kopi?

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, sepulang dari sekolah mengikuti Program Sinau Bareng (PSB), ketiganya memang pulang dulu ke rumah masing-masing. Mereka menyempatkan untuk mengganti baju mereka. Celana panjang yang digunakan untuk pembelajaran PSB diganti celana pendek. Baru setelah itu, mereka janjian untuk bertemu kembali mengerjakan tugas bersama-sama.

Sekitar pukul 11.00 WIB, tiga murid dari SDN 02 Kutorenon, Kecamatan Sukodono, ini mendatangi salah satu warung kopi di Kawasan Toga, Lumajang. Mereka langsung memesan minuman dua gelas dan mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas. Yakni tugas matematika yang diberikan gurunya ketika PSB.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Lagi cari wifi, gak ada kuota saya,” ucap Muhammad Alfan Taufani, murid laki-laki kelas 6 tersebut, kepada Jawa Pos Radar Semeru, siang kemarin. Selama pengerjaan tugas, ketiganya tampak fokus menghadap buku mereka. Sesekali menoleh ke sekeliling karena ketiganya banyak disoroti pengunjung lainnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran tatap muka memang dihentikan sementara sejak awal tahun kemarin. Dampaknya, murid-murid menerima beragam metode pembelajaran. Mulai dari pembelajaran model daring, Guru Sambang (Gusam), hingga Program Sinau Bareng (PSB). Tapi apakah sinau bareng di warung kopi?

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, sepulang dari sekolah mengikuti Program Sinau Bareng (PSB), ketiganya memang pulang dulu ke rumah masing-masing. Mereka menyempatkan untuk mengganti baju mereka. Celana panjang yang digunakan untuk pembelajaran PSB diganti celana pendek. Baru setelah itu, mereka janjian untuk bertemu kembali mengerjakan tugas bersama-sama.

Sekitar pukul 11.00 WIB, tiga murid dari SDN 02 Kutorenon, Kecamatan Sukodono, ini mendatangi salah satu warung kopi di Kawasan Toga, Lumajang. Mereka langsung memesan minuman dua gelas dan mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas. Yakni tugas matematika yang diberikan gurunya ketika PSB.

“Lagi cari wifi, gak ada kuota saya,” ucap Muhammad Alfan Taufani, murid laki-laki kelas 6 tersebut, kepada Jawa Pos Radar Semeru, siang kemarin. Selama pengerjaan tugas, ketiganya tampak fokus menghadap buku mereka. Sesekali menoleh ke sekeliling karena ketiganya banyak disoroti pengunjung lainnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran tatap muka memang dihentikan sementara sejak awal tahun kemarin. Dampaknya, murid-murid menerima beragam metode pembelajaran. Mulai dari pembelajaran model daring, Guru Sambang (Gusam), hingga Program Sinau Bareng (PSB). Tapi apakah sinau bareng di warung kopi?

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, sepulang dari sekolah mengikuti Program Sinau Bareng (PSB), ketiganya memang pulang dulu ke rumah masing-masing. Mereka menyempatkan untuk mengganti baju mereka. Celana panjang yang digunakan untuk pembelajaran PSB diganti celana pendek. Baru setelah itu, mereka janjian untuk bertemu kembali mengerjakan tugas bersama-sama.

Sekitar pukul 11.00 WIB, tiga murid dari SDN 02 Kutorenon, Kecamatan Sukodono, ini mendatangi salah satu warung kopi di Kawasan Toga, Lumajang. Mereka langsung memesan minuman dua gelas dan mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas. Yakni tugas matematika yang diberikan gurunya ketika PSB.

“Lagi cari wifi, gak ada kuota saya,” ucap Muhammad Alfan Taufani, murid laki-laki kelas 6 tersebut, kepada Jawa Pos Radar Semeru, siang kemarin. Selama pengerjaan tugas, ketiganya tampak fokus menghadap buku mereka. Sesekali menoleh ke sekeliling karena ketiganya banyak disoroti pengunjung lainnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/