alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Penyebaran Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Sapi di Lumajang

Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkiti sapi di Jawa Timur juga merebak di Lumajang. Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Sebab, ratusan sapi tiba-tiba lumpuh. Sebagai langkah antisipasi, sapi dikarantina. Sementara, kandang sapi di-lockdown sementara.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak sapi di Lumajang mulai waswas. Pasalnya, sebagian besar ternak mereka terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyebarannya yang cepat dikhawatirkan menular ke ternak lain. Oleh sebab itu, sejumlah langkah antisipasi mulai dilakukan. Salah satunya lockdown.

BACA JUGA : Eksplorasi Panas Bumi, Sesalkan Jalan Rusak di Jalur Ijen

Memang beberapa hari terakhir penyakit ini mulai muncul di sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Jumlahnya sudah ribuan ekor hewan ternak yang terjangkit. Sementara di Lumajang, ratusan ekor sapi itu diketahui terjangkit setelah gejala yang dialami ternak warga itu sama dengan PMK.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pada malam takbir saat hendak memberi makan. Saya lihat semua sapi saya dalam posisi rebahan. Enam sapi saya seperti lumpuh secara mendadak. Sapi milik tetangga lainnya juga sama. Saya gak tega melihatnya,” ungkap Hasan Basri, salah satu peternak asal Desa Nguter, Kecamatan Pasirian.

Dia menerangkan, gejala yang dialami sapi berupa munculnya bintik-bintik di lidah hingga luka. Mulut sapi juga mengeluarkan lendir dan busa terus-menerus. Sementara, di bagian kuku terdapat luka hingga menyebabkan kaki sapi gemetar dan tidak kuat berdiri.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang Hairil Diani mengatakan, sapi di Lumajang sudah dilakukan penanganan setelah menerima informasi dari para peternak. Pengambilan sampel di Desa Kalibendo, Pasirian, juga selesai dilakukan bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Hasilnya, sapi di Lumajang juga terdampak.

Model penanganan di Lumajang mirip penanganan korona. Sebab, selain diobati, ternak juga diwajibkan karantina. “Sapi yang sakit langsung diobati, kandang sapi disemprot disinfektan, dan sapi yang sakit dipisahkan. Kami juga menyampaikan ke peternak untuk terus memantau kondisi sapi dan menjaga kebersihan kandang. Terutama bagi kandang sapi yang tertutup,” katanya.

Hairil menyebut, jumlah sapi terdampak di Lumajang cukup banyak. Data yang berhasil dihimpun, populasi ternak sapi ada 231 ekor. Sebanyak 124 ekor di antaranya terjangkit. Oleh sebab itu, pihaknya menerjunkan seluruh petugas kesehatan hewan (keswan) untuk terus melakukan pemeriksaan dan pengobatan. (kin/c2/fid)

Transaksi Jual Beli Sapi Mulai Diawasi

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak sapi di Lumajang mulai waswas. Pasalnya, sebagian besar ternak mereka terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyebarannya yang cepat dikhawatirkan menular ke ternak lain. Oleh sebab itu, sejumlah langkah antisipasi mulai dilakukan. Salah satunya lockdown.

BACA JUGA : Eksplorasi Panas Bumi, Sesalkan Jalan Rusak di Jalur Ijen

Memang beberapa hari terakhir penyakit ini mulai muncul di sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Jumlahnya sudah ribuan ekor hewan ternak yang terjangkit. Sementara di Lumajang, ratusan ekor sapi itu diketahui terjangkit setelah gejala yang dialami ternak warga itu sama dengan PMK.

“Pada malam takbir saat hendak memberi makan. Saya lihat semua sapi saya dalam posisi rebahan. Enam sapi saya seperti lumpuh secara mendadak. Sapi milik tetangga lainnya juga sama. Saya gak tega melihatnya,” ungkap Hasan Basri, salah satu peternak asal Desa Nguter, Kecamatan Pasirian.

Dia menerangkan, gejala yang dialami sapi berupa munculnya bintik-bintik di lidah hingga luka. Mulut sapi juga mengeluarkan lendir dan busa terus-menerus. Sementara, di bagian kuku terdapat luka hingga menyebabkan kaki sapi gemetar dan tidak kuat berdiri.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang Hairil Diani mengatakan, sapi di Lumajang sudah dilakukan penanganan setelah menerima informasi dari para peternak. Pengambilan sampel di Desa Kalibendo, Pasirian, juga selesai dilakukan bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Hasilnya, sapi di Lumajang juga terdampak.

Model penanganan di Lumajang mirip penanganan korona. Sebab, selain diobati, ternak juga diwajibkan karantina. “Sapi yang sakit langsung diobati, kandang sapi disemprot disinfektan, dan sapi yang sakit dipisahkan. Kami juga menyampaikan ke peternak untuk terus memantau kondisi sapi dan menjaga kebersihan kandang. Terutama bagi kandang sapi yang tertutup,” katanya.

Hairil menyebut, jumlah sapi terdampak di Lumajang cukup banyak. Data yang berhasil dihimpun, populasi ternak sapi ada 231 ekor. Sebanyak 124 ekor di antaranya terjangkit. Oleh sebab itu, pihaknya menerjunkan seluruh petugas kesehatan hewan (keswan) untuk terus melakukan pemeriksaan dan pengobatan. (kin/c2/fid)

Transaksi Jual Beli Sapi Mulai Diawasi

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak sapi di Lumajang mulai waswas. Pasalnya, sebagian besar ternak mereka terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyebarannya yang cepat dikhawatirkan menular ke ternak lain. Oleh sebab itu, sejumlah langkah antisipasi mulai dilakukan. Salah satunya lockdown.

BACA JUGA : Eksplorasi Panas Bumi, Sesalkan Jalan Rusak di Jalur Ijen

Memang beberapa hari terakhir penyakit ini mulai muncul di sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Jumlahnya sudah ribuan ekor hewan ternak yang terjangkit. Sementara di Lumajang, ratusan ekor sapi itu diketahui terjangkit setelah gejala yang dialami ternak warga itu sama dengan PMK.

“Pada malam takbir saat hendak memberi makan. Saya lihat semua sapi saya dalam posisi rebahan. Enam sapi saya seperti lumpuh secara mendadak. Sapi milik tetangga lainnya juga sama. Saya gak tega melihatnya,” ungkap Hasan Basri, salah satu peternak asal Desa Nguter, Kecamatan Pasirian.

Dia menerangkan, gejala yang dialami sapi berupa munculnya bintik-bintik di lidah hingga luka. Mulut sapi juga mengeluarkan lendir dan busa terus-menerus. Sementara, di bagian kuku terdapat luka hingga menyebabkan kaki sapi gemetar dan tidak kuat berdiri.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang Hairil Diani mengatakan, sapi di Lumajang sudah dilakukan penanganan setelah menerima informasi dari para peternak. Pengambilan sampel di Desa Kalibendo, Pasirian, juga selesai dilakukan bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Hasilnya, sapi di Lumajang juga terdampak.

Model penanganan di Lumajang mirip penanganan korona. Sebab, selain diobati, ternak juga diwajibkan karantina. “Sapi yang sakit langsung diobati, kandang sapi disemprot disinfektan, dan sapi yang sakit dipisahkan. Kami juga menyampaikan ke peternak untuk terus memantau kondisi sapi dan menjaga kebersihan kandang. Terutama bagi kandang sapi yang tertutup,” katanya.

Hairil menyebut, jumlah sapi terdampak di Lumajang cukup banyak. Data yang berhasil dihimpun, populasi ternak sapi ada 231 ekor. Sebanyak 124 ekor di antaranya terjangkit. Oleh sebab itu, pihaknya menerjunkan seluruh petugas kesehatan hewan (keswan) untuk terus melakukan pemeriksaan dan pengobatan. (kin/c2/fid)

Transaksi Jual Beli Sapi Mulai Diawasi

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/