alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Peningkatan IPM Lumajang Masih Terendah Ketiga di Jatim

Salah satu fokus pembangunan Pemkab Lumajang adalah peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Sebab, rendahnya IPM menyebabkan Lumajang masuk tiga besar IPM terendah. Karenanya, perlu upaya akselerasi agar IPM bisa meningkat.

Mobile_AP_Rectangle 1

KARANGSARI, Radar Semeru – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang mencatat pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) masih cukup rendah. Meski di tahun 2021 pertumbuhannya meningkat 0,61 poin, Lumajang masih menempati urutan ketiga kabupaten/kota dengan IPM terendah di Jawa Timur. Tak ayal, IPM Lumajang menjadi salah satu prioritas peningkatan pemkab di tahun ini.

Statistisi Muda BPS Lumajang Roni Hartono mengatakan, sebenarnya proses pemulihan ekonomi dan sosial saat ini membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Lumajang. Hal ini terlihat dari peningkatan IPM tahun 2021 sebesar 66,07 atau tumbuh 0,93 persen. Namun, sektor pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

“Peningkatan IPM ini sangat dipengaruhi indeks kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran per kapita per tahun. Dari sisi kesehatan dan ekonomi sudah bagus. Tetapi, dari sisi pendidikan ini masih kurang. Banyak hal yang perlu dilakukan percepatan di dunia pendidikan. Khususnya berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pendidikan,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menuturkan, sektor pendidikan memang menjadi faktor dominan IPM Lumajang tumbuh lambat. Berdasarkan perhitungan, angka rata-rata lama sekolah di Lumajang hanya 6,67 tahun. Sementara, harapan lama sekolah anak-anak Lumajang sebesar 11,88 tahun.

Ketua Komisi D Supratman menjelaskan, IPM Lumajang yang rendah sudah menjadi permasalahan tahunan dan klasik. Problematika yang ada sudah diketahui. Begitu juga dengan solusi-solusi yang ditawarkan sudah ada. Akan tetapi, hal itu belum terlaksana dengan maksimal.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu segera diperbaiki. Pertama, identitas anak yang tidak diperbarui. Sebab, sebagian besar data jenjang pendidikan masih semrawut. “Solusinya data di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil perlu diperbarui. Kedua, pandangan terhadap sekolah perlu diubah. Karena masyarakat menganggap lebih baik bekerja daripada sekolah. Makanya, peran tenaga pendidik juga perlu diawasi agar permasalahan kedua terselesaikan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

Kebijakan Belum Berpihak ke Dunia Pendidikan

Sebenarnya solusi peningkatan IPM di Lumajang sudah ada. Namun, upaya penyelesaian itu sering kali mentok. Akibatnya, pertumbuhan IPM sangat kecil. Bahkan bisa dikatakan pertumbuhan itu stagnan dari tahun ke tahun. Hasil kurang memuaskan ini menjadi sorotan DPRD Lumajang.

- Advertisement -

KARANGSARI, Radar Semeru – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang mencatat pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) masih cukup rendah. Meski di tahun 2021 pertumbuhannya meningkat 0,61 poin, Lumajang masih menempati urutan ketiga kabupaten/kota dengan IPM terendah di Jawa Timur. Tak ayal, IPM Lumajang menjadi salah satu prioritas peningkatan pemkab di tahun ini.

Statistisi Muda BPS Lumajang Roni Hartono mengatakan, sebenarnya proses pemulihan ekonomi dan sosial saat ini membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Lumajang. Hal ini terlihat dari peningkatan IPM tahun 2021 sebesar 66,07 atau tumbuh 0,93 persen. Namun, sektor pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

“Peningkatan IPM ini sangat dipengaruhi indeks kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran per kapita per tahun. Dari sisi kesehatan dan ekonomi sudah bagus. Tetapi, dari sisi pendidikan ini masih kurang. Banyak hal yang perlu dilakukan percepatan di dunia pendidikan. Khususnya berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pendidikan,” katanya.

Dia menuturkan, sektor pendidikan memang menjadi faktor dominan IPM Lumajang tumbuh lambat. Berdasarkan perhitungan, angka rata-rata lama sekolah di Lumajang hanya 6,67 tahun. Sementara, harapan lama sekolah anak-anak Lumajang sebesar 11,88 tahun.

Ketua Komisi D Supratman menjelaskan, IPM Lumajang yang rendah sudah menjadi permasalahan tahunan dan klasik. Problematika yang ada sudah diketahui. Begitu juga dengan solusi-solusi yang ditawarkan sudah ada. Akan tetapi, hal itu belum terlaksana dengan maksimal.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu segera diperbaiki. Pertama, identitas anak yang tidak diperbarui. Sebab, sebagian besar data jenjang pendidikan masih semrawut. “Solusinya data di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil perlu diperbarui. Kedua, pandangan terhadap sekolah perlu diubah. Karena masyarakat menganggap lebih baik bekerja daripada sekolah. Makanya, peran tenaga pendidik juga perlu diawasi agar permasalahan kedua terselesaikan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

Kebijakan Belum Berpihak ke Dunia Pendidikan

Sebenarnya solusi peningkatan IPM di Lumajang sudah ada. Namun, upaya penyelesaian itu sering kali mentok. Akibatnya, pertumbuhan IPM sangat kecil. Bahkan bisa dikatakan pertumbuhan itu stagnan dari tahun ke tahun. Hasil kurang memuaskan ini menjadi sorotan DPRD Lumajang.

KARANGSARI, Radar Semeru – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang mencatat pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) masih cukup rendah. Meski di tahun 2021 pertumbuhannya meningkat 0,61 poin, Lumajang masih menempati urutan ketiga kabupaten/kota dengan IPM terendah di Jawa Timur. Tak ayal, IPM Lumajang menjadi salah satu prioritas peningkatan pemkab di tahun ini.

Statistisi Muda BPS Lumajang Roni Hartono mengatakan, sebenarnya proses pemulihan ekonomi dan sosial saat ini membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Lumajang. Hal ini terlihat dari peningkatan IPM tahun 2021 sebesar 66,07 atau tumbuh 0,93 persen. Namun, sektor pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

“Peningkatan IPM ini sangat dipengaruhi indeks kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran per kapita per tahun. Dari sisi kesehatan dan ekonomi sudah bagus. Tetapi, dari sisi pendidikan ini masih kurang. Banyak hal yang perlu dilakukan percepatan di dunia pendidikan. Khususnya berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pendidikan,” katanya.

Dia menuturkan, sektor pendidikan memang menjadi faktor dominan IPM Lumajang tumbuh lambat. Berdasarkan perhitungan, angka rata-rata lama sekolah di Lumajang hanya 6,67 tahun. Sementara, harapan lama sekolah anak-anak Lumajang sebesar 11,88 tahun.

Ketua Komisi D Supratman menjelaskan, IPM Lumajang yang rendah sudah menjadi permasalahan tahunan dan klasik. Problematika yang ada sudah diketahui. Begitu juga dengan solusi-solusi yang ditawarkan sudah ada. Akan tetapi, hal itu belum terlaksana dengan maksimal.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu segera diperbaiki. Pertama, identitas anak yang tidak diperbarui. Sebab, sebagian besar data jenjang pendidikan masih semrawut. “Solusinya data di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil perlu diperbarui. Kedua, pandangan terhadap sekolah perlu diubah. Karena masyarakat menganggap lebih baik bekerja daripada sekolah. Makanya, peran tenaga pendidik juga perlu diawasi agar permasalahan kedua terselesaikan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

Kebijakan Belum Berpihak ke Dunia Pendidikan

Sebenarnya solusi peningkatan IPM di Lumajang sudah ada. Namun, upaya penyelesaian itu sering kali mentok. Akibatnya, pertumbuhan IPM sangat kecil. Bahkan bisa dikatakan pertumbuhan itu stagnan dari tahun ke tahun. Hasil kurang memuaskan ini menjadi sorotan DPRD Lumajang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/