alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Petani di Lumajang Terancam Gagal Panen, Ini Penyebabnya

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ini bisa menjadi ungkapan yang tepat bagi para petani yang ada di Desa Bades, Kecamatan Pasirian. Selain kendala klasik, yakni masalah pupuk yang masih belum ada solusi efektif, tanaman padi yang baru berumur 60 hari milik petani juga diserang hama. Akibatnya, musim ini mereka terancam gagal panen.

Sejak sebulan terakhir ini, para petani di desa tersebut diresahkan dengan hama tikus yang menyebabkan tanaman mereka mati. Beragam upaya telah dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut. Namun, usaha apa pun tetap tak pernah membuahkan hasil. Akibatnya, tidak sedikit petani yang pasrah, lalu mencabut tanaman padi mereka.

Banunu, petani setempat, mengatakan, ada puluhan petak sawah yang terserang hama. Tidak hanya tanaman padi, tikus itu juga menyerang tanaman palawija. Seperti tanaman lombok milik petani lainnya yang mulai memasuki masa panen. Akibatnya, banyak tanaman tersebut yang terlihat rusak.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau sawah ini tanam padi. Baru beberapa minggu saya pupuk, tetapi tikus masih ada. Ini hampir semua tanaman telah rusak. Setelah sawah punya saya, giliran sawah sebelah-sebelahnya juga terimbas. Daripada mati sia-sia, sekalian saya cabut, lalu saya jual ke peternak sapi atau kambing,” katanya.

Banunu mengaku, kondisi itu membuat banyak petani frustrasi. Sebab, harga jual padi hasil panen sebelumnya sangat murah. Tidak sedikit petani di desanya yang mengalami kerugian. Ditambah musim ini hama tikus telah membuat terancam gagal panen dan lagi-lagi merugi.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ini bisa menjadi ungkapan yang tepat bagi para petani yang ada di Desa Bades, Kecamatan Pasirian. Selain kendala klasik, yakni masalah pupuk yang masih belum ada solusi efektif, tanaman padi yang baru berumur 60 hari milik petani juga diserang hama. Akibatnya, musim ini mereka terancam gagal panen.

Sejak sebulan terakhir ini, para petani di desa tersebut diresahkan dengan hama tikus yang menyebabkan tanaman mereka mati. Beragam upaya telah dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut. Namun, usaha apa pun tetap tak pernah membuahkan hasil. Akibatnya, tidak sedikit petani yang pasrah, lalu mencabut tanaman padi mereka.

Banunu, petani setempat, mengatakan, ada puluhan petak sawah yang terserang hama. Tidak hanya tanaman padi, tikus itu juga menyerang tanaman palawija. Seperti tanaman lombok milik petani lainnya yang mulai memasuki masa panen. Akibatnya, banyak tanaman tersebut yang terlihat rusak.

“Kalau sawah ini tanam padi. Baru beberapa minggu saya pupuk, tetapi tikus masih ada. Ini hampir semua tanaman telah rusak. Setelah sawah punya saya, giliran sawah sebelah-sebelahnya juga terimbas. Daripada mati sia-sia, sekalian saya cabut, lalu saya jual ke peternak sapi atau kambing,” katanya.

Banunu mengaku, kondisi itu membuat banyak petani frustrasi. Sebab, harga jual padi hasil panen sebelumnya sangat murah. Tidak sedikit petani di desanya yang mengalami kerugian. Ditambah musim ini hama tikus telah membuat terancam gagal panen dan lagi-lagi merugi.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ini bisa menjadi ungkapan yang tepat bagi para petani yang ada di Desa Bades, Kecamatan Pasirian. Selain kendala klasik, yakni masalah pupuk yang masih belum ada solusi efektif, tanaman padi yang baru berumur 60 hari milik petani juga diserang hama. Akibatnya, musim ini mereka terancam gagal panen.

Sejak sebulan terakhir ini, para petani di desa tersebut diresahkan dengan hama tikus yang menyebabkan tanaman mereka mati. Beragam upaya telah dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut. Namun, usaha apa pun tetap tak pernah membuahkan hasil. Akibatnya, tidak sedikit petani yang pasrah, lalu mencabut tanaman padi mereka.

Banunu, petani setempat, mengatakan, ada puluhan petak sawah yang terserang hama. Tidak hanya tanaman padi, tikus itu juga menyerang tanaman palawija. Seperti tanaman lombok milik petani lainnya yang mulai memasuki masa panen. Akibatnya, banyak tanaman tersebut yang terlihat rusak.

“Kalau sawah ini tanam padi. Baru beberapa minggu saya pupuk, tetapi tikus masih ada. Ini hampir semua tanaman telah rusak. Setelah sawah punya saya, giliran sawah sebelah-sebelahnya juga terimbas. Daripada mati sia-sia, sekalian saya cabut, lalu saya jual ke peternak sapi atau kambing,” katanya.

Banunu mengaku, kondisi itu membuat banyak petani frustrasi. Sebab, harga jual padi hasil panen sebelumnya sangat murah. Tidak sedikit petani di desanya yang mengalami kerugian. Ditambah musim ini hama tikus telah membuat terancam gagal panen dan lagi-lagi merugi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/