alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Molornya Proyek Pengerjaan Jalan Perbatasan Lumajang-Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proyek pengerjaan jalan provinsi, tepatnya Jalan Mahakam, Jogotrunan, hingga perbatasan Lumajang-Jember terus digenjot. Namun, hingga saat ini, progresnya masih jauh dari harapan. Diketahui pengerjaan proyek tersebut baru mencapai 15 persen.

Molornya pengerjaan membuat sejumlah titik terbengkalai. Mulai dari sepekan tidak tersentuh hingga beberapa pekan dibiarkan tidak terurus. Salah satunya di jalur perbatasan Lumajang-Jember seperti di Desa Tukum, Tekung, dan Desa Nogosari, Rowokangkung. “Banyak jalan rusak yang diperbaiki, tapi hanya dikeruk saja. Dibiarkan hingga sepekan lebih tanpa perbaikan. Penandanya juga tidak ada. Jadi, kami yang membuat tanda sendiri,” ungkap Ripin, salah seorang warga setempat.

Akibatnya, tidak sedikit warga yang khawatir saat melintasi jalan tersebut. Apalagi selama masa PPKM darurat, sejumlah pengendara terjatuh saat menghindari lokasi perbaikan. “Kalau siang penandanya masih kelihatan. Nah, kalau malam itu yang mengkhawatirkan. Banyak pengendara jatuh karena tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Terkendala penerangan dan jalan yang tak kunjung dilakukan perbaikan,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, PPK Rehab Jalan dan Jembatan dengan PHJD UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Probolinggo Emil Wahyudianto tak menampik jika pengerjaan jalan sempat terhenti karena para pekerja jatuh sakit. Namun, mulai awal bulan ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan rekanan.

“Kami sudah koordinasi dan menerima beberapa konfirmasi dari masyarakat. Memang, penanda atau rambu dari kami banyak yang beterbangan. Karena kena angin atau laju dari kendaraan. Sehingga, penanda tidak berada di lokasi yang seharusnya. Ini yang membuat pengendara jadi tidak waspada dan jatuh di sekitar lokasi tersebut,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proyek pengerjaan jalan provinsi, tepatnya Jalan Mahakam, Jogotrunan, hingga perbatasan Lumajang-Jember terus digenjot. Namun, hingga saat ini, progresnya masih jauh dari harapan. Diketahui pengerjaan proyek tersebut baru mencapai 15 persen.

Molornya pengerjaan membuat sejumlah titik terbengkalai. Mulai dari sepekan tidak tersentuh hingga beberapa pekan dibiarkan tidak terurus. Salah satunya di jalur perbatasan Lumajang-Jember seperti di Desa Tukum, Tekung, dan Desa Nogosari, Rowokangkung. “Banyak jalan rusak yang diperbaiki, tapi hanya dikeruk saja. Dibiarkan hingga sepekan lebih tanpa perbaikan. Penandanya juga tidak ada. Jadi, kami yang membuat tanda sendiri,” ungkap Ripin, salah seorang warga setempat.

Akibatnya, tidak sedikit warga yang khawatir saat melintasi jalan tersebut. Apalagi selama masa PPKM darurat, sejumlah pengendara terjatuh saat menghindari lokasi perbaikan. “Kalau siang penandanya masih kelihatan. Nah, kalau malam itu yang mengkhawatirkan. Banyak pengendara jatuh karena tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Terkendala penerangan dan jalan yang tak kunjung dilakukan perbaikan,” tambahnya.

Sementara itu, PPK Rehab Jalan dan Jembatan dengan PHJD UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Probolinggo Emil Wahyudianto tak menampik jika pengerjaan jalan sempat terhenti karena para pekerja jatuh sakit. Namun, mulai awal bulan ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan rekanan.

“Kami sudah koordinasi dan menerima beberapa konfirmasi dari masyarakat. Memang, penanda atau rambu dari kami banyak yang beterbangan. Karena kena angin atau laju dari kendaraan. Sehingga, penanda tidak berada di lokasi yang seharusnya. Ini yang membuat pengendara jadi tidak waspada dan jatuh di sekitar lokasi tersebut,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proyek pengerjaan jalan provinsi, tepatnya Jalan Mahakam, Jogotrunan, hingga perbatasan Lumajang-Jember terus digenjot. Namun, hingga saat ini, progresnya masih jauh dari harapan. Diketahui pengerjaan proyek tersebut baru mencapai 15 persen.

Molornya pengerjaan membuat sejumlah titik terbengkalai. Mulai dari sepekan tidak tersentuh hingga beberapa pekan dibiarkan tidak terurus. Salah satunya di jalur perbatasan Lumajang-Jember seperti di Desa Tukum, Tekung, dan Desa Nogosari, Rowokangkung. “Banyak jalan rusak yang diperbaiki, tapi hanya dikeruk saja. Dibiarkan hingga sepekan lebih tanpa perbaikan. Penandanya juga tidak ada. Jadi, kami yang membuat tanda sendiri,” ungkap Ripin, salah seorang warga setempat.

Akibatnya, tidak sedikit warga yang khawatir saat melintasi jalan tersebut. Apalagi selama masa PPKM darurat, sejumlah pengendara terjatuh saat menghindari lokasi perbaikan. “Kalau siang penandanya masih kelihatan. Nah, kalau malam itu yang mengkhawatirkan. Banyak pengendara jatuh karena tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Terkendala penerangan dan jalan yang tak kunjung dilakukan perbaikan,” tambahnya.

Sementara itu, PPK Rehab Jalan dan Jembatan dengan PHJD UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Probolinggo Emil Wahyudianto tak menampik jika pengerjaan jalan sempat terhenti karena para pekerja jatuh sakit. Namun, mulai awal bulan ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan rekanan.

“Kami sudah koordinasi dan menerima beberapa konfirmasi dari masyarakat. Memang, penanda atau rambu dari kami banyak yang beterbangan. Karena kena angin atau laju dari kendaraan. Sehingga, penanda tidak berada di lokasi yang seharusnya. Ini yang membuat pengendara jadi tidak waspada dan jatuh di sekitar lokasi tersebut,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/