alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Efektivitas Pembelajaran Daring Dipertanyakan, Mengapa?

Perlu Tingkatkan Pendidikan Moral dan Mental Pelajar

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan pelajar kini menjadi catatan serius banyak pihak. Termasuk DPRD Lumajang. Jajaran legislatif ini menilai metode pembelajaran daring kurang efektif dalam menyampaikan pendidikan moral. Karena itu, kualitas pembelajaran daring dipertanyakan.

Kejadian pembunuhan bisa menjadi salah satu bukti jika hasil pembelajaran daring berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Baik itu dari segi psikologis maupun mental pelajar. Untuk itu, inovasi dalam menekankan pendidikan moral itu menjadi pertanyaan yang perlu segera dijawab dengan kebijakan.

Wakil Ketua III DPRD Lumajang H Akhmat mengatakan, diakui atau tidak, output pendidikan daring mulai terasa. Minimnya interaksi antara murid dengan guru maupun murid dengan murid lainnya membuat nilai-nilai yang terkandung dalam etika luntur. Baik itu cara menghormati orang yang lebih tua maupun menghargai terhadap sesama.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sekolah perlu melakukan penekanan pada pendidikan moral dan pendidikan mental. Semua tingkatan sekolah harus memikirkan cara itu. Ini harus menjadi skala prioritas. Kami harapkan itu. Karena bagaimanapun masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang sebentar lagi pasti kemudian hari akan menggantikan posisi kami,” katanya.

Menurutnya, sekolah harus bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi apa pun. Meski pembatasan masih diterapkan, sekolah harus bisa memastikan pendidikan moral dan mental itu tersampaikan kepada murid. Dengan begitu, murid bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kriminalitas maupun tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan pelajar kini menjadi catatan serius banyak pihak. Termasuk DPRD Lumajang. Jajaran legislatif ini menilai metode pembelajaran daring kurang efektif dalam menyampaikan pendidikan moral. Karena itu, kualitas pembelajaran daring dipertanyakan.

Kejadian pembunuhan bisa menjadi salah satu bukti jika hasil pembelajaran daring berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Baik itu dari segi psikologis maupun mental pelajar. Untuk itu, inovasi dalam menekankan pendidikan moral itu menjadi pertanyaan yang perlu segera dijawab dengan kebijakan.

Wakil Ketua III DPRD Lumajang H Akhmat mengatakan, diakui atau tidak, output pendidikan daring mulai terasa. Minimnya interaksi antara murid dengan guru maupun murid dengan murid lainnya membuat nilai-nilai yang terkandung dalam etika luntur. Baik itu cara menghormati orang yang lebih tua maupun menghargai terhadap sesama.

“Sekolah perlu melakukan penekanan pada pendidikan moral dan pendidikan mental. Semua tingkatan sekolah harus memikirkan cara itu. Ini harus menjadi skala prioritas. Kami harapkan itu. Karena bagaimanapun masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang sebentar lagi pasti kemudian hari akan menggantikan posisi kami,” katanya.

Menurutnya, sekolah harus bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi apa pun. Meski pembatasan masih diterapkan, sekolah harus bisa memastikan pendidikan moral dan mental itu tersampaikan kepada murid. Dengan begitu, murid bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kriminalitas maupun tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan pelajar kini menjadi catatan serius banyak pihak. Termasuk DPRD Lumajang. Jajaran legislatif ini menilai metode pembelajaran daring kurang efektif dalam menyampaikan pendidikan moral. Karena itu, kualitas pembelajaran daring dipertanyakan.

Kejadian pembunuhan bisa menjadi salah satu bukti jika hasil pembelajaran daring berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Baik itu dari segi psikologis maupun mental pelajar. Untuk itu, inovasi dalam menekankan pendidikan moral itu menjadi pertanyaan yang perlu segera dijawab dengan kebijakan.

Wakil Ketua III DPRD Lumajang H Akhmat mengatakan, diakui atau tidak, output pendidikan daring mulai terasa. Minimnya interaksi antara murid dengan guru maupun murid dengan murid lainnya membuat nilai-nilai yang terkandung dalam etika luntur. Baik itu cara menghormati orang yang lebih tua maupun menghargai terhadap sesama.

“Sekolah perlu melakukan penekanan pada pendidikan moral dan pendidikan mental. Semua tingkatan sekolah harus memikirkan cara itu. Ini harus menjadi skala prioritas. Kami harapkan itu. Karena bagaimanapun masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang sebentar lagi pasti kemudian hari akan menggantikan posisi kami,” katanya.

Menurutnya, sekolah harus bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi apa pun. Meski pembatasan masih diterapkan, sekolah harus bisa memastikan pendidikan moral dan mental itu tersampaikan kepada murid. Dengan begitu, murid bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kriminalitas maupun tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/