alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Menengok Periode Petani Tanam Tembakau

Periode musim hujan yang tidak menentu membuat petani tembakau ketar-ketir. Biasanya ketika memasuki musim tanam, lahan petani tinggal menunggu pembibitan, kali ini terbalik. Sekarang giliran bibit tembakau yang menunggu lahan. Sebab, tanahnya masih basah.

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWUNGU, Radar Semeru – Permintaan komoditas tembakau tahun ini meningkat pesat. Setidaknya ada dua perusahaan besar yang menggantungkan kebutuhan bahan baku pembuatan rokok itu pada petani Lumajang. Namun, sampai saat ini, baru 10 persen petani yang melakukan penanaman tembakau.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, musim ini tidak hanya PT Indonesia Dwi Sembilan (IDS) yang mengajak petani tembakau Lumajang bermitra. PT Alliance One Indonesia (AOI) juga kembali mengajak bekerja sama. Kurang lebih keduanya menanami lahan petani dengan tembakau seluas 500 hektare.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono mengatakan, registrasi petani tembakau hampir rampung. Masing-masing petani yang sudah bergabung seharusnya melakukan penanaman pada bulan-bulan ini. Sebab, target pascapanen maksimal berakhir bulan Desember.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pembibitan sudah seratus persen. Tetapi, petani belum bisa tanam karena terkendala hujan. Kalau masih sering hujan, lahannya basah dan tidak bisa diolah. Kalau hitung-hitungan masa tanam, bulan Juni ini harusnya sudah 60 persen petani melakukan penanaman tembakau. Nah, sekarang masih 10 persen,” katanya.

Menurutnya, tidak banyak petani yang berani memaksakan untuk melakukan penanaman. Sebab, risikonya cukup besar. Kuantitas produksi daun memang tidak mengalami pengurangan, tetapi kualitas daun atas dapat mengalami penurunan. Tentu hal itu akan berdampak pada harga jual tembakau ketika panen.

“PT IDS sekarang memakai lahan 300 hektare milik petani yang bermitra. Ini mereka meminta rajangan kasturi. Sedangkan untuk PT AOI baru 160 hektare, mereka butuh untuk tanam tembakau white burley. Karena harga ditentukan saat menjelang panen. Mereka khawatir merugi kalau kualitasnya makin menurun,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang Hairil Diani mengatakan, target hasil panen tembakau petani yang diminta dua perusahaan tersebut mencapai 850 ton tahun ini. “Kalau PT IDS itu biasanya butuh tembakau kasturi rajangan. Sedangkan PT AOI itu butuh tembakau white burley,” pungkasnya. (son/c2/fid)

- Advertisement -

KALIWUNGU, Radar Semeru – Permintaan komoditas tembakau tahun ini meningkat pesat. Setidaknya ada dua perusahaan besar yang menggantungkan kebutuhan bahan baku pembuatan rokok itu pada petani Lumajang. Namun, sampai saat ini, baru 10 persen petani yang melakukan penanaman tembakau.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, musim ini tidak hanya PT Indonesia Dwi Sembilan (IDS) yang mengajak petani tembakau Lumajang bermitra. PT Alliance One Indonesia (AOI) juga kembali mengajak bekerja sama. Kurang lebih keduanya menanami lahan petani dengan tembakau seluas 500 hektare.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono mengatakan, registrasi petani tembakau hampir rampung. Masing-masing petani yang sudah bergabung seharusnya melakukan penanaman pada bulan-bulan ini. Sebab, target pascapanen maksimal berakhir bulan Desember.

“Pembibitan sudah seratus persen. Tetapi, petani belum bisa tanam karena terkendala hujan. Kalau masih sering hujan, lahannya basah dan tidak bisa diolah. Kalau hitung-hitungan masa tanam, bulan Juni ini harusnya sudah 60 persen petani melakukan penanaman tembakau. Nah, sekarang masih 10 persen,” katanya.

Menurutnya, tidak banyak petani yang berani memaksakan untuk melakukan penanaman. Sebab, risikonya cukup besar. Kuantitas produksi daun memang tidak mengalami pengurangan, tetapi kualitas daun atas dapat mengalami penurunan. Tentu hal itu akan berdampak pada harga jual tembakau ketika panen.

“PT IDS sekarang memakai lahan 300 hektare milik petani yang bermitra. Ini mereka meminta rajangan kasturi. Sedangkan untuk PT AOI baru 160 hektare, mereka butuh untuk tanam tembakau white burley. Karena harga ditentukan saat menjelang panen. Mereka khawatir merugi kalau kualitasnya makin menurun,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang Hairil Diani mengatakan, target hasil panen tembakau petani yang diminta dua perusahaan tersebut mencapai 850 ton tahun ini. “Kalau PT IDS itu biasanya butuh tembakau kasturi rajangan. Sedangkan PT AOI itu butuh tembakau white burley,” pungkasnya. (son/c2/fid)

KALIWUNGU, Radar Semeru – Permintaan komoditas tembakau tahun ini meningkat pesat. Setidaknya ada dua perusahaan besar yang menggantungkan kebutuhan bahan baku pembuatan rokok itu pada petani Lumajang. Namun, sampai saat ini, baru 10 persen petani yang melakukan penanaman tembakau.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, musim ini tidak hanya PT Indonesia Dwi Sembilan (IDS) yang mengajak petani tembakau Lumajang bermitra. PT Alliance One Indonesia (AOI) juga kembali mengajak bekerja sama. Kurang lebih keduanya menanami lahan petani dengan tembakau seluas 500 hektare.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono mengatakan, registrasi petani tembakau hampir rampung. Masing-masing petani yang sudah bergabung seharusnya melakukan penanaman pada bulan-bulan ini. Sebab, target pascapanen maksimal berakhir bulan Desember.

“Pembibitan sudah seratus persen. Tetapi, petani belum bisa tanam karena terkendala hujan. Kalau masih sering hujan, lahannya basah dan tidak bisa diolah. Kalau hitung-hitungan masa tanam, bulan Juni ini harusnya sudah 60 persen petani melakukan penanaman tembakau. Nah, sekarang masih 10 persen,” katanya.

Menurutnya, tidak banyak petani yang berani memaksakan untuk melakukan penanaman. Sebab, risikonya cukup besar. Kuantitas produksi daun memang tidak mengalami pengurangan, tetapi kualitas daun atas dapat mengalami penurunan. Tentu hal itu akan berdampak pada harga jual tembakau ketika panen.

“PT IDS sekarang memakai lahan 300 hektare milik petani yang bermitra. Ini mereka meminta rajangan kasturi. Sedangkan untuk PT AOI baru 160 hektare, mereka butuh untuk tanam tembakau white burley. Karena harga ditentukan saat menjelang panen. Mereka khawatir merugi kalau kualitasnya makin menurun,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang Hairil Diani mengatakan, target hasil panen tembakau petani yang diminta dua perusahaan tersebut mencapai 850 ton tahun ini. “Kalau PT IDS itu biasanya butuh tembakau kasturi rajangan. Sedangkan PT AOI itu butuh tembakau white burley,” pungkasnya. (son/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/