alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Membumikan Pesan Langit di Perdesaan

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Desa selalu menjadi tempat yang penuh dengan banyak cerita. Kawasannya yang sejuk, asri, tenang, dan damai berbanding terbalik dengan perkotaan. Tak heran jika desa selalu menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Desa Argosari, Senduro, yang letaknya di pegunungan barat Lumajang.

Seperti yang diungkapkan Suharyo AP. Lelaki yang kini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang tersebut mengungkapkan kerinduannya berkegiatan di sana. Menurutnya, desa memiliki ragam keunikan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah unik sebagai bagian dari dakwah. “Berdakwah di desa sangat unik. Selalu ada cerita menarik yang akan dikenang. Sebab, masyarakat desa sangat butuh pencerahan dan pemahaman ilmu agama. Saya rindu membumikan pesan langit di sana,” katanya.

Dia menjelaskan, kepolosan masyarakat menjadi indikasi keikhlasan belajar agama. “Saya melihat kepolosan mereka dalam menerima ajaran agama menjadi indikasi kerelaan hati untuk mengamalkan ajaran Islam. Mereka mau mendengar, menyimak, dan akhirnya menjalankan sesuai syariat. Hal ini yang sering kali tidak dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, dai harus memanfaatkan dengan benar peluang itu,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lelaki yang pernah mengajar empat sekolah sekaligus tersebut menuturkan, peluang yang dapat diambil adalah berdakwah dengan bahasa lokal. “Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa lokal setempat. Kalau mengisi kajian di masyarakat Jawa, gunakan bahasa Jawa. Kalau di masyarakat Madura, gunakan bahasa Madura. Itu jauh lebih sederhana dan mengena di masyarakat,” tuturnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Desa selalu menjadi tempat yang penuh dengan banyak cerita. Kawasannya yang sejuk, asri, tenang, dan damai berbanding terbalik dengan perkotaan. Tak heran jika desa selalu menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Desa Argosari, Senduro, yang letaknya di pegunungan barat Lumajang.

Seperti yang diungkapkan Suharyo AP. Lelaki yang kini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang tersebut mengungkapkan kerinduannya berkegiatan di sana. Menurutnya, desa memiliki ragam keunikan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah unik sebagai bagian dari dakwah. “Berdakwah di desa sangat unik. Selalu ada cerita menarik yang akan dikenang. Sebab, masyarakat desa sangat butuh pencerahan dan pemahaman ilmu agama. Saya rindu membumikan pesan langit di sana,” katanya.

Dia menjelaskan, kepolosan masyarakat menjadi indikasi keikhlasan belajar agama. “Saya melihat kepolosan mereka dalam menerima ajaran agama menjadi indikasi kerelaan hati untuk mengamalkan ajaran Islam. Mereka mau mendengar, menyimak, dan akhirnya menjalankan sesuai syariat. Hal ini yang sering kali tidak dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, dai harus memanfaatkan dengan benar peluang itu,” jelasnya.

Lelaki yang pernah mengajar empat sekolah sekaligus tersebut menuturkan, peluang yang dapat diambil adalah berdakwah dengan bahasa lokal. “Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa lokal setempat. Kalau mengisi kajian di masyarakat Jawa, gunakan bahasa Jawa. Kalau di masyarakat Madura, gunakan bahasa Madura. Itu jauh lebih sederhana dan mengena di masyarakat,” tuturnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Desa selalu menjadi tempat yang penuh dengan banyak cerita. Kawasannya yang sejuk, asri, tenang, dan damai berbanding terbalik dengan perkotaan. Tak heran jika desa selalu menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Desa Argosari, Senduro, yang letaknya di pegunungan barat Lumajang.

Seperti yang diungkapkan Suharyo AP. Lelaki yang kini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang tersebut mengungkapkan kerinduannya berkegiatan di sana. Menurutnya, desa memiliki ragam keunikan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah unik sebagai bagian dari dakwah. “Berdakwah di desa sangat unik. Selalu ada cerita menarik yang akan dikenang. Sebab, masyarakat desa sangat butuh pencerahan dan pemahaman ilmu agama. Saya rindu membumikan pesan langit di sana,” katanya.

Dia menjelaskan, kepolosan masyarakat menjadi indikasi keikhlasan belajar agama. “Saya melihat kepolosan mereka dalam menerima ajaran agama menjadi indikasi kerelaan hati untuk mengamalkan ajaran Islam. Mereka mau mendengar, menyimak, dan akhirnya menjalankan sesuai syariat. Hal ini yang sering kali tidak dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, dai harus memanfaatkan dengan benar peluang itu,” jelasnya.

Lelaki yang pernah mengajar empat sekolah sekaligus tersebut menuturkan, peluang yang dapat diambil adalah berdakwah dengan bahasa lokal. “Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa lokal setempat. Kalau mengisi kajian di masyarakat Jawa, gunakan bahasa Jawa. Kalau di masyarakat Madura, gunakan bahasa Madura. Itu jauh lebih sederhana dan mengena di masyarakat,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/