alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Sulit Mencari Padanan Bahasa Madura dengan Indonesia 

Terjebak di penjara suci sejak dini tidak membuat lelaki itu mengurung diri. Justru, hal itu dimanfaatkan dengan menempa diri. Bergaul dengan santri, tawaduk dengan kiai, dan menjalankan ibadah sepenuh hati. Ditambah doa orang tua yang selalu berdetak di urat nadi, Misbahul Anwar menjawabnya dengan prestasi.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Lelaki bersarung itu segera berdiri. Tersenyum ramah menatap wartawan Jawa Pos Radar Semeru yang baru saja tiba di sebuah tongkrongan milenial di antara lahan persawahan. Lelaki itu memperkenalkan diri. “Misbahul Anwar,” ucapnya memperkenalkan diri.

Setelan santri terlihat di penampilannya. Selain sarung hijau dan baju muslim berwarna biru, songkok hitam menambah sosok santri dalam dirinya. Anwar, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pakaian itulah yang menemaninya setiap hari. “Di mana pun dan kapan pun selalu berpakaian seperti ini,” ungkapnya.

Lelaki asal Karang Bayat, Sumberbaru, tersebut mengatakan, sejak kecil dia sudah belajar di pondok pesantren. Modal itulah yang membuatnya mencoba mengikuti lomba baca kitab di tingkat provinsi. “Kepala madrasah meminta saya ikut. Saya bilang ke beliau, tidak perlu berharap, Ustad, tidak akan juara juga,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di luar dugaan. Justru dia berhasil menyabet juara dua baca kitab dalam rangka Dies Natalies FAI Universitas Islam Lamongan. “Tidak menyangka bisa juara. Padahal itu coba-coba. Mungkin ini berkahnya Pak Kiai,” ujarnya, lalu tersenyum.

Anwar menjelaskan, itu adalah pengalaman pertama sekaligus kejuaraan provinsi pertama yang dia ikuti. Sebab, sejak menimba ilmu di pesantren hingga kuliah, dia tidak pernah mengikuti kejuaraan tingkat provinsi. “Tidak pernah ada kesempatan untuk ikut lomba di tingkat Jawa Timur. Paling mentok di tingkat kabupaten. Kalaupun ikut tingkat provinsi, sudah gagal dulu di kabupaten,” jelas lelaki yang menjabat sebagai Wakil DEMA STISMU Lumajang tersebut.

Dia menuturkan, persiapan yang dilakukan kurang maksimal. Sebab, persyaratan baca kitab hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa. “Karena sejak kecil tinggal di lingkungan Madura, saya pilih baca kitab dengan bahasa Indonesia. Berharap lebih mudah dibaca, malah lebih sulit. Harus belajar dulu. Tapi ya tidak maksimal,” tuturnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Lelaki bersarung itu segera berdiri. Tersenyum ramah menatap wartawan Jawa Pos Radar Semeru yang baru saja tiba di sebuah tongkrongan milenial di antara lahan persawahan. Lelaki itu memperkenalkan diri. “Misbahul Anwar,” ucapnya memperkenalkan diri.

Setelan santri terlihat di penampilannya. Selain sarung hijau dan baju muslim berwarna biru, songkok hitam menambah sosok santri dalam dirinya. Anwar, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pakaian itulah yang menemaninya setiap hari. “Di mana pun dan kapan pun selalu berpakaian seperti ini,” ungkapnya.

Lelaki asal Karang Bayat, Sumberbaru, tersebut mengatakan, sejak kecil dia sudah belajar di pondok pesantren. Modal itulah yang membuatnya mencoba mengikuti lomba baca kitab di tingkat provinsi. “Kepala madrasah meminta saya ikut. Saya bilang ke beliau, tidak perlu berharap, Ustad, tidak akan juara juga,” katanya.

Di luar dugaan. Justru dia berhasil menyabet juara dua baca kitab dalam rangka Dies Natalies FAI Universitas Islam Lamongan. “Tidak menyangka bisa juara. Padahal itu coba-coba. Mungkin ini berkahnya Pak Kiai,” ujarnya, lalu tersenyum.

Anwar menjelaskan, itu adalah pengalaman pertama sekaligus kejuaraan provinsi pertama yang dia ikuti. Sebab, sejak menimba ilmu di pesantren hingga kuliah, dia tidak pernah mengikuti kejuaraan tingkat provinsi. “Tidak pernah ada kesempatan untuk ikut lomba di tingkat Jawa Timur. Paling mentok di tingkat kabupaten. Kalaupun ikut tingkat provinsi, sudah gagal dulu di kabupaten,” jelas lelaki yang menjabat sebagai Wakil DEMA STISMU Lumajang tersebut.

Dia menuturkan, persiapan yang dilakukan kurang maksimal. Sebab, persyaratan baca kitab hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa. “Karena sejak kecil tinggal di lingkungan Madura, saya pilih baca kitab dengan bahasa Indonesia. Berharap lebih mudah dibaca, malah lebih sulit. Harus belajar dulu. Tapi ya tidak maksimal,” tuturnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Lelaki bersarung itu segera berdiri. Tersenyum ramah menatap wartawan Jawa Pos Radar Semeru yang baru saja tiba di sebuah tongkrongan milenial di antara lahan persawahan. Lelaki itu memperkenalkan diri. “Misbahul Anwar,” ucapnya memperkenalkan diri.

Setelan santri terlihat di penampilannya. Selain sarung hijau dan baju muslim berwarna biru, songkok hitam menambah sosok santri dalam dirinya. Anwar, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pakaian itulah yang menemaninya setiap hari. “Di mana pun dan kapan pun selalu berpakaian seperti ini,” ungkapnya.

Lelaki asal Karang Bayat, Sumberbaru, tersebut mengatakan, sejak kecil dia sudah belajar di pondok pesantren. Modal itulah yang membuatnya mencoba mengikuti lomba baca kitab di tingkat provinsi. “Kepala madrasah meminta saya ikut. Saya bilang ke beliau, tidak perlu berharap, Ustad, tidak akan juara juga,” katanya.

Di luar dugaan. Justru dia berhasil menyabet juara dua baca kitab dalam rangka Dies Natalies FAI Universitas Islam Lamongan. “Tidak menyangka bisa juara. Padahal itu coba-coba. Mungkin ini berkahnya Pak Kiai,” ujarnya, lalu tersenyum.

Anwar menjelaskan, itu adalah pengalaman pertama sekaligus kejuaraan provinsi pertama yang dia ikuti. Sebab, sejak menimba ilmu di pesantren hingga kuliah, dia tidak pernah mengikuti kejuaraan tingkat provinsi. “Tidak pernah ada kesempatan untuk ikut lomba di tingkat Jawa Timur. Paling mentok di tingkat kabupaten. Kalaupun ikut tingkat provinsi, sudah gagal dulu di kabupaten,” jelas lelaki yang menjabat sebagai Wakil DEMA STISMU Lumajang tersebut.

Dia menuturkan, persiapan yang dilakukan kurang maksimal. Sebab, persyaratan baca kitab hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa. “Karena sejak kecil tinggal di lingkungan Madura, saya pilih baca kitab dengan bahasa Indonesia. Berharap lebih mudah dibaca, malah lebih sulit. Harus belajar dulu. Tapi ya tidak maksimal,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/