alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Minta Ganti Rugi Rp 5 Miliar

Penanaman Pohon Pisang di Sekolah Tidak Mau Dicabut

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDSengketa lahan SDN 01 Jatimulyo, Kecamatan Kunir, terus berlanjut. Padahal putusan Pengadilan Negeri (PN) Lumajang memenangkan Maiyeh sebagai pemilik lahan. Namun, pemerintah masih menempati. Akibatnya, keluarga meminta ganti rugi sebesar Rp 5 miliar.

Keluarga bersikukuh tidak mau mencabut pohon pisang dan banner yang terpasang di sekitar sekolah. Pencabutan dilakukan ketika Pemkab Lumajang bersedia mengganti rugi lahan yang digunakan sebagai gedung sekolah tersebut. Sebab, lahan tersebut merupakan lahan yang dimiliki Maiyeh.

Surat keluarga Maiyeh mengatakan, sebelum gedung sekolah itu dibangun, tempat tersebut sempat dijadikan kantor desa. Bukan pemerintah yang membangun, tetapi keluarganya yang membangun gedung sebagai kantor desa. Sebab, pemerintah desa saat itu belum memiliki lahan untuk berkantor.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ya saya minta pelayanan yang baik lah. Itu dulu kan lahan punya orang tua saya. Mereka yang bangun kantor desa saat itu. Sekarang diganti sekolah, masak kami sekeluarga dibiarkan begitu saja. Ya kebijaksanaannya ini bagaimana. Kalau urusan harga, sesuaikan dengan harga tanah sekarang. Sekitar Rp 4 sampai Rp 5 miliar,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, penanaman pohon itu dilakukan saat murid-murid kelas 6 sedang ujian. Sampai kemarin, pohon pisang yang berjumlah 15 batang belum dicabut. Bahkan, beberapa banner bertuliskan putusan PN Lumajang juga masih terpasang di papan nama sekolah.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDSengketa lahan SDN 01 Jatimulyo, Kecamatan Kunir, terus berlanjut. Padahal putusan Pengadilan Negeri (PN) Lumajang memenangkan Maiyeh sebagai pemilik lahan. Namun, pemerintah masih menempati. Akibatnya, keluarga meminta ganti rugi sebesar Rp 5 miliar.

Keluarga bersikukuh tidak mau mencabut pohon pisang dan banner yang terpasang di sekitar sekolah. Pencabutan dilakukan ketika Pemkab Lumajang bersedia mengganti rugi lahan yang digunakan sebagai gedung sekolah tersebut. Sebab, lahan tersebut merupakan lahan yang dimiliki Maiyeh.

Surat keluarga Maiyeh mengatakan, sebelum gedung sekolah itu dibangun, tempat tersebut sempat dijadikan kantor desa. Bukan pemerintah yang membangun, tetapi keluarganya yang membangun gedung sebagai kantor desa. Sebab, pemerintah desa saat itu belum memiliki lahan untuk berkantor.

Ya saya minta pelayanan yang baik lah. Itu dulu kan lahan punya orang tua saya. Mereka yang bangun kantor desa saat itu. Sekarang diganti sekolah, masak kami sekeluarga dibiarkan begitu saja. Ya kebijaksanaannya ini bagaimana. Kalau urusan harga, sesuaikan dengan harga tanah sekarang. Sekitar Rp 4 sampai Rp 5 miliar,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, penanaman pohon itu dilakukan saat murid-murid kelas 6 sedang ujian. Sampai kemarin, pohon pisang yang berjumlah 15 batang belum dicabut. Bahkan, beberapa banner bertuliskan putusan PN Lumajang juga masih terpasang di papan nama sekolah.

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDSengketa lahan SDN 01 Jatimulyo, Kecamatan Kunir, terus berlanjut. Padahal putusan Pengadilan Negeri (PN) Lumajang memenangkan Maiyeh sebagai pemilik lahan. Namun, pemerintah masih menempati. Akibatnya, keluarga meminta ganti rugi sebesar Rp 5 miliar.

Keluarga bersikukuh tidak mau mencabut pohon pisang dan banner yang terpasang di sekitar sekolah. Pencabutan dilakukan ketika Pemkab Lumajang bersedia mengganti rugi lahan yang digunakan sebagai gedung sekolah tersebut. Sebab, lahan tersebut merupakan lahan yang dimiliki Maiyeh.

Surat keluarga Maiyeh mengatakan, sebelum gedung sekolah itu dibangun, tempat tersebut sempat dijadikan kantor desa. Bukan pemerintah yang membangun, tetapi keluarganya yang membangun gedung sebagai kantor desa. Sebab, pemerintah desa saat itu belum memiliki lahan untuk berkantor.

Ya saya minta pelayanan yang baik lah. Itu dulu kan lahan punya orang tua saya. Mereka yang bangun kantor desa saat itu. Sekarang diganti sekolah, masak kami sekeluarga dibiarkan begitu saja. Ya kebijaksanaannya ini bagaimana. Kalau urusan harga, sesuaikan dengan harga tanah sekarang. Sekitar Rp 4 sampai Rp 5 miliar,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, penanaman pohon itu dilakukan saat murid-murid kelas 6 sedang ujian. Sampai kemarin, pohon pisang yang berjumlah 15 batang belum dicabut. Bahkan, beberapa banner bertuliskan putusan PN Lumajang juga masih terpasang di papan nama sekolah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/