alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Harga Gabah Lumayan Anjlok

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian besar petani padi harus mengelus dada lebih dalam. Sebab, hasil panen padi kali ini kurang memuaskan. Harga gabah dari sawah lumayan anjlok. Rata-rata per kilogram laku Rp 3.500. Padahal sebelum-sebelumnya, harganya sempat stabil di atas Rp 4.450.

Diakui, saat ini mulai memasuki masa panen. Petani padi lainnya yang berada di kawasan lain juga ikut panen. Bahkan, beberapa daerah tetangga juga melaksanakan panen raya. Akibatnya, ketersediaan beras diprediksikan bakal melimpah. Otomatis, harganya juga ikut menurun.

Suharwoko, petani Desa Kabuaran, mengatakan, beberapa petani yang akan melakukan panen mulai ketar-ketir. Pasalnya, selain padi di sawahnya diguyur hujan terus-terusan sebulan yang lalu, harga jual gabah kompak ikut menurun. Mereka khawatir penghasilan padi tersebut merosot tak seperti biasanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau gabahnya basah, harganya lebih murah, karena kandungan air hasil panen lebih tinggi. Tetapi masak harga harus turun menjadi Rp 3.500. Kalau hitung-hitungan tani hasilnya tipis. Harga selama produksi ditambah harga sewa sawah, pasti penghasilannya bisa merugi,” jelasnya.

Menurutnya, perlu dilakukan intervensi pemerintah supaya harga kembali stabil. Sebab, biaya produksi akhir-akhir ini cenderung mahal. Belum lagi kesulitan ketersediaan pupuk subsidi pemerintah, sehingga petani kebanyakan menggunakan pupuk nonsubsidi untuk mencukupi kekurangannya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian besar petani padi harus mengelus dada lebih dalam. Sebab, hasil panen padi kali ini kurang memuaskan. Harga gabah dari sawah lumayan anjlok. Rata-rata per kilogram laku Rp 3.500. Padahal sebelum-sebelumnya, harganya sempat stabil di atas Rp 4.450.

Diakui, saat ini mulai memasuki masa panen. Petani padi lainnya yang berada di kawasan lain juga ikut panen. Bahkan, beberapa daerah tetangga juga melaksanakan panen raya. Akibatnya, ketersediaan beras diprediksikan bakal melimpah. Otomatis, harganya juga ikut menurun.

Suharwoko, petani Desa Kabuaran, mengatakan, beberapa petani yang akan melakukan panen mulai ketar-ketir. Pasalnya, selain padi di sawahnya diguyur hujan terus-terusan sebulan yang lalu, harga jual gabah kompak ikut menurun. Mereka khawatir penghasilan padi tersebut merosot tak seperti biasanya.

“Kalau gabahnya basah, harganya lebih murah, karena kandungan air hasil panen lebih tinggi. Tetapi masak harga harus turun menjadi Rp 3.500. Kalau hitung-hitungan tani hasilnya tipis. Harga selama produksi ditambah harga sewa sawah, pasti penghasilannya bisa merugi,” jelasnya.

Menurutnya, perlu dilakukan intervensi pemerintah supaya harga kembali stabil. Sebab, biaya produksi akhir-akhir ini cenderung mahal. Belum lagi kesulitan ketersediaan pupuk subsidi pemerintah, sehingga petani kebanyakan menggunakan pupuk nonsubsidi untuk mencukupi kekurangannya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian besar petani padi harus mengelus dada lebih dalam. Sebab, hasil panen padi kali ini kurang memuaskan. Harga gabah dari sawah lumayan anjlok. Rata-rata per kilogram laku Rp 3.500. Padahal sebelum-sebelumnya, harganya sempat stabil di atas Rp 4.450.

Diakui, saat ini mulai memasuki masa panen. Petani padi lainnya yang berada di kawasan lain juga ikut panen. Bahkan, beberapa daerah tetangga juga melaksanakan panen raya. Akibatnya, ketersediaan beras diprediksikan bakal melimpah. Otomatis, harganya juga ikut menurun.

Suharwoko, petani Desa Kabuaran, mengatakan, beberapa petani yang akan melakukan panen mulai ketar-ketir. Pasalnya, selain padi di sawahnya diguyur hujan terus-terusan sebulan yang lalu, harga jual gabah kompak ikut menurun. Mereka khawatir penghasilan padi tersebut merosot tak seperti biasanya.

“Kalau gabahnya basah, harganya lebih murah, karena kandungan air hasil panen lebih tinggi. Tetapi masak harga harus turun menjadi Rp 3.500. Kalau hitung-hitungan tani hasilnya tipis. Harga selama produksi ditambah harga sewa sawah, pasti penghasilannya bisa merugi,” jelasnya.

Menurutnya, perlu dilakukan intervensi pemerintah supaya harga kembali stabil. Sebab, biaya produksi akhir-akhir ini cenderung mahal. Belum lagi kesulitan ketersediaan pupuk subsidi pemerintah, sehingga petani kebanyakan menggunakan pupuk nonsubsidi untuk mencukupi kekurangannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/