alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Hanya Sembilan Pesantren di Lumajang yang Miliki Produk Usaha

Program One Pesantren One Product tampaknya belum mampu mendorong banyak pesantren memiliki bidang usaha. Sebab, dari ratusan pesantren yang ada di Lumajang, baru sembilan pesantren yang mampu mengeluarkan produk usahanya.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dalam setahun, ada ratusan hingga ribuan santri yang lulus dari pondok pesantren. Tidak banyak yang memiliki bekal kemandirian. Oleh sebab itu, sejak tahun kemarin salah satu pengasuh pondok pesantren menginisiasi koperasi pondok pesantren (kopontren). Hasilnya, ada 19 pesantren yang sudah tergabung dalam forum tersebut.

KH Abdul Wadud Nafis, pengasuh Pondok Pesantren Manarul Qur’an, mengatakan, salah satu upaya mewujudkan kemandirian pesantren adalah membentuk koperasi. Koperasi inilah yang nantinya didorong untuk mengeluarkan bidang usaha berupa produk-produk maupun bentuk kewirausahaan lainnya.

“Konsep pendirian koperasi ini untuk membentuk kemandirian. Kemandirian yang dimaksud adalah membentuk santri yang mandiri. Supaya ketika mereka pulang ke tengah masyarakat, mereka bisa mandiri. Kemudian, tahap kedua baru pondok pesantren. Makanya fungsi koperasi ini harus menjadi lab yang settle,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pakar ekonomi ini melanjutkan, hasil penelitian menunjukkan, 94 persen santri yang lulus bergerak di bidang tenaga lepas. Sedangkan sisanya yang 6 persen baru berkecimpung ke bidang pendidikan, macam menjadi kiai, ustad, maupun akademisi. Karena itu, untuk mewujudkan kemandirian, pondok pesantren perlu mendirikan koperasi.

“Selama ini yang aktif komunikasi dalam forum besar hanya sembilan pondok pesantren. Lainnya bergerak, tetapi masih perlu terus untuk didampingi karena masih rintisan. Semangat ini harus kami jaga untuk mewujudkan kemandirian pesantren. Karena kami berkewajiban membentuk karakter santri,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dalam setahun, ada ratusan hingga ribuan santri yang lulus dari pondok pesantren. Tidak banyak yang memiliki bekal kemandirian. Oleh sebab itu, sejak tahun kemarin salah satu pengasuh pondok pesantren menginisiasi koperasi pondok pesantren (kopontren). Hasilnya, ada 19 pesantren yang sudah tergabung dalam forum tersebut.

KH Abdul Wadud Nafis, pengasuh Pondok Pesantren Manarul Qur’an, mengatakan, salah satu upaya mewujudkan kemandirian pesantren adalah membentuk koperasi. Koperasi inilah yang nantinya didorong untuk mengeluarkan bidang usaha berupa produk-produk maupun bentuk kewirausahaan lainnya.

“Konsep pendirian koperasi ini untuk membentuk kemandirian. Kemandirian yang dimaksud adalah membentuk santri yang mandiri. Supaya ketika mereka pulang ke tengah masyarakat, mereka bisa mandiri. Kemudian, tahap kedua baru pondok pesantren. Makanya fungsi koperasi ini harus menjadi lab yang settle,” katanya.

Pakar ekonomi ini melanjutkan, hasil penelitian menunjukkan, 94 persen santri yang lulus bergerak di bidang tenaga lepas. Sedangkan sisanya yang 6 persen baru berkecimpung ke bidang pendidikan, macam menjadi kiai, ustad, maupun akademisi. Karena itu, untuk mewujudkan kemandirian, pondok pesantren perlu mendirikan koperasi.

“Selama ini yang aktif komunikasi dalam forum besar hanya sembilan pondok pesantren. Lainnya bergerak, tetapi masih perlu terus untuk didampingi karena masih rintisan. Semangat ini harus kami jaga untuk mewujudkan kemandirian pesantren. Karena kami berkewajiban membentuk karakter santri,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dalam setahun, ada ratusan hingga ribuan santri yang lulus dari pondok pesantren. Tidak banyak yang memiliki bekal kemandirian. Oleh sebab itu, sejak tahun kemarin salah satu pengasuh pondok pesantren menginisiasi koperasi pondok pesantren (kopontren). Hasilnya, ada 19 pesantren yang sudah tergabung dalam forum tersebut.

KH Abdul Wadud Nafis, pengasuh Pondok Pesantren Manarul Qur’an, mengatakan, salah satu upaya mewujudkan kemandirian pesantren adalah membentuk koperasi. Koperasi inilah yang nantinya didorong untuk mengeluarkan bidang usaha berupa produk-produk maupun bentuk kewirausahaan lainnya.

“Konsep pendirian koperasi ini untuk membentuk kemandirian. Kemandirian yang dimaksud adalah membentuk santri yang mandiri. Supaya ketika mereka pulang ke tengah masyarakat, mereka bisa mandiri. Kemudian, tahap kedua baru pondok pesantren. Makanya fungsi koperasi ini harus menjadi lab yang settle,” katanya.

Pakar ekonomi ini melanjutkan, hasil penelitian menunjukkan, 94 persen santri yang lulus bergerak di bidang tenaga lepas. Sedangkan sisanya yang 6 persen baru berkecimpung ke bidang pendidikan, macam menjadi kiai, ustad, maupun akademisi. Karena itu, untuk mewujudkan kemandirian, pondok pesantren perlu mendirikan koperasi.

“Selama ini yang aktif komunikasi dalam forum besar hanya sembilan pondok pesantren. Lainnya bergerak, tetapi masih perlu terus untuk didampingi karena masih rintisan. Semangat ini harus kami jaga untuk mewujudkan kemandirian pesantren. Karena kami berkewajiban membentuk karakter santri,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca