Didominasi Korsleting Listrik

Penyebab Korsleting Listrik

  1. Alat-alat listrik yang tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
  2. Penggunaan kabel yang tidak sesuai kuat hantar arusnya.
  3. Penggunaan listrik ilegal mengakibatkan arus listrik terlalu besar hingga tidak mampu menampung.
  4. Menyambung sekring yang putus dengan kawat.
  5. Stop kontak/kabel tidak sengaja terkena air.
  6. Instalasi dan sambungan-sambungan listrik yang tidak sesuai standar
  7. Mengganjal pembatas MCB yang sering turun (jeglek) karena tidak sesuai kapasitas beban.
  8. Penggunaan listrik yang menumpuk pada satu terminal listrik.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ternyata, jumlah terbanyak kebakaran didominasi oleh rumah. Sedangkan penyebab paling banyak adalah korsleting listrik. Tentu ini menjadi hal yang harus diperhatikan, mengingat banyak masyarakat yang sering mengabaikan instalasi yang tidak standar.

Data yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, ada 16 rumah dan dua bangunan perusahaan yang terbakar hingga kemarin. Korsleting menyumbang sepuluh kasus terbanyak kebakaran. Sedangkan delapan lainnya dari kelalaian manusia. Kali terakhir, kebakaran menimpa rumah Ngadi, warga Besuk, Tempeh. Akibat arus pendek listrik, rumahnya terbakar, Jumat (4/6) sekitar pukul 13.30 WIB.

Juma’i, Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lumajang, mengatakan, penyebab terbanyak kebakaran adalah korsleting listrik. Hal tersebut tidak hanya terjadi di rumah warga, tetapi juga di perusahaan. “Bangunan yang terdapat aliran listrik memiliki potensi kebakaran. Baik rumah, toko, maupun perusahaan besar,” katanya.

Sementara itu, Hendik Purwahyudi, Manajer PLN ULP Lumajang, mengatakan bahwa instalasi yang tidak standar bisa memicu kebakaran. “Instalasi listrik di setiap bangunan harus sesuai standar. Jika tidak, maka arus daya yang diantarkan bisa menjadi penyebab kebakaran. Dan rata-rata kebakaran terjadi karena permasalahan sambungan,” katanya.

Dia menjelaskan, banyak masyarakat yang menyambung listrik sendiri. Padahal, setiap sambungan berbeda-beda arus listriknya. “Masyarakat sering menyambungkan aliran listrik sendiri. Nah, sambungan tersebut tidak sama. Sehingga beban aliran yang diterima akan berbeda. Ini yang menjadikan korsleting listrik,” jelasnya.