alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Setiap Truk Lewat Dipungut Rp 25 Ribu

Armada Tambang Tetap Melintasi Pemukiman Warga

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pekerjaan pembangunan jalur tambang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Wajar saja, setiap armada truk yang melintasi jalur tersebut dipatok tarif yang lumayan. Bahkan tarifnya senilai Rp 25 ribu, hampir sama dengan pajak yang disetorkan ke Pemkab Lumajang.

Besaran biaya itu dikumpulkan APRI sebagai dana pemeliharaan jalur tambang ketika terjadi kerusakan. Sebab, jika terjadi kerusakan menjadi tanggung jawab bersama penambang yang melintas. Dari 51 penambang yang mengantongi izin, setidaknya hanya ada 14 penambang saja yang rutin melintasi jalur.

Ketua APRI Sofyan menjelaskan, pungutan tersebut masih lebih kecil daripada armada truk pasir yang melintasi permukiman warga. Bahkan jika ditotal selisihnya cukup banyak. “Kalau lewat jalan biasa itu mahal, kalau yang saya dengar setiap sopir habis Rp 65 ribu sampai keluar jalan besar,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, dirinya telah berkali-kali mengimbau seluruh penambang agar armada truk yang mengambil pasir di wilayah garapannya melintasi jalur yang sudah ada. Tetapi kebanyakan masih saja kecolongan. “Jalur ini melintasi Jugosari, Gondoruso dan keluar di perbatasan Bades dan Bago,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pekerjaan pembangunan jalur tambang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Wajar saja, setiap armada truk yang melintasi jalur tersebut dipatok tarif yang lumayan. Bahkan tarifnya senilai Rp 25 ribu, hampir sama dengan pajak yang disetorkan ke Pemkab Lumajang.

Besaran biaya itu dikumpulkan APRI sebagai dana pemeliharaan jalur tambang ketika terjadi kerusakan. Sebab, jika terjadi kerusakan menjadi tanggung jawab bersama penambang yang melintas. Dari 51 penambang yang mengantongi izin, setidaknya hanya ada 14 penambang saja yang rutin melintasi jalur.

Ketua APRI Sofyan menjelaskan, pungutan tersebut masih lebih kecil daripada armada truk pasir yang melintasi permukiman warga. Bahkan jika ditotal selisihnya cukup banyak. “Kalau lewat jalan biasa itu mahal, kalau yang saya dengar setiap sopir habis Rp 65 ribu sampai keluar jalan besar,” katanya.

Menurutnya, dirinya telah berkali-kali mengimbau seluruh penambang agar armada truk yang mengambil pasir di wilayah garapannya melintasi jalur yang sudah ada. Tetapi kebanyakan masih saja kecolongan. “Jalur ini melintasi Jugosari, Gondoruso dan keluar di perbatasan Bades dan Bago,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pekerjaan pembangunan jalur tambang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Wajar saja, setiap armada truk yang melintasi jalur tersebut dipatok tarif yang lumayan. Bahkan tarifnya senilai Rp 25 ribu, hampir sama dengan pajak yang disetorkan ke Pemkab Lumajang.

Besaran biaya itu dikumpulkan APRI sebagai dana pemeliharaan jalur tambang ketika terjadi kerusakan. Sebab, jika terjadi kerusakan menjadi tanggung jawab bersama penambang yang melintas. Dari 51 penambang yang mengantongi izin, setidaknya hanya ada 14 penambang saja yang rutin melintasi jalur.

Ketua APRI Sofyan menjelaskan, pungutan tersebut masih lebih kecil daripada armada truk pasir yang melintasi permukiman warga. Bahkan jika ditotal selisihnya cukup banyak. “Kalau lewat jalan biasa itu mahal, kalau yang saya dengar setiap sopir habis Rp 65 ribu sampai keluar jalan besar,” katanya.

Menurutnya, dirinya telah berkali-kali mengimbau seluruh penambang agar armada truk yang mengambil pasir di wilayah garapannya melintasi jalur yang sudah ada. Tetapi kebanyakan masih saja kecolongan. “Jalur ini melintasi Jugosari, Gondoruso dan keluar di perbatasan Bades dan Bago,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/