alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Pencegahan Stunting di Lumajang dengan Program Suami Siaga

Gebrakan suami siaga pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi atau Susi Pasti terbilang cukup sukses menurunkan angka stunting di Lumajang. Namun, siapa sangka jika pandemi justru mengancam gizi bayi. Artinya, kemungkinan peningkatan angka stunting sangat tinggi.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus stunting atau lambatnya pertumbuhan anak di Lumajang sangat tinggi. Pada tahun 2019, angka prevalensinya mencapai 34,47 persen. Hal itu menyebabkan Kabupaten Lumajang masuk dalam lima besar stunting tertinggi di Jawa Timur. Oleh sebab itu, program Suami Siaga, Pencegahan, dan Penanggulangan Stunting Terintegrasi atau Susi Pasti diharapkan menurunkan angka stunting di Lumajang.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, ada banyak faktor yang menyebabkan stunting terjadi. Namun, dua faktor utama yang sangat mendominasi. “Pertama, faktor pola asuh. Kedua, faktor ekonomi,” ujar dr Bayu Wibowo, Kepala Dinas Kesehatan Lumajang.

dr Bayu mengatakan, pola asuh dimulai dari pola pikir yang benar. Tidak hanya bagi ibu menyusui, namun saat usia remaja, saat menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui perlu diperhatikan. Sebab, hal tersebut merupakan upaya pencegahan untuk menurunkan stunting.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sebenarnya gizi kurang itu bukan karena kemampuan daya beli yang rendah. Akan tetapi, pola pikir, pola asuh, dan perilaku, terutama remaja putri yang harus diubah. Karena pencegahan ini mulai dilakukan saat mereka remaja. Sehingga mereka mengonsumsi makanan yang layak dan gizi baik agar tidak anemia. Karena ini akan berdampak bagi anak-anak mereka. Terkhusus bagi usia di bawah dua tahun harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Dia menjelaskan, perlu adanya intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik meliputi upaya mencegah dan mengurangi stunting secara langsung oleh sektor kesehatan. Hal ini berkontribusi sebanyak 30 persen. Sedangkan intervensi sensitif merupakan upaya mencegah dan mengurangi secara tidak langsung dan berkontribusi 70 persen.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus stunting atau lambatnya pertumbuhan anak di Lumajang sangat tinggi. Pada tahun 2019, angka prevalensinya mencapai 34,47 persen. Hal itu menyebabkan Kabupaten Lumajang masuk dalam lima besar stunting tertinggi di Jawa Timur. Oleh sebab itu, program Suami Siaga, Pencegahan, dan Penanggulangan Stunting Terintegrasi atau Susi Pasti diharapkan menurunkan angka stunting di Lumajang.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, ada banyak faktor yang menyebabkan stunting terjadi. Namun, dua faktor utama yang sangat mendominasi. “Pertama, faktor pola asuh. Kedua, faktor ekonomi,” ujar dr Bayu Wibowo, Kepala Dinas Kesehatan Lumajang.

dr Bayu mengatakan, pola asuh dimulai dari pola pikir yang benar. Tidak hanya bagi ibu menyusui, namun saat usia remaja, saat menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui perlu diperhatikan. Sebab, hal tersebut merupakan upaya pencegahan untuk menurunkan stunting.

“Sebenarnya gizi kurang itu bukan karena kemampuan daya beli yang rendah. Akan tetapi, pola pikir, pola asuh, dan perilaku, terutama remaja putri yang harus diubah. Karena pencegahan ini mulai dilakukan saat mereka remaja. Sehingga mereka mengonsumsi makanan yang layak dan gizi baik agar tidak anemia. Karena ini akan berdampak bagi anak-anak mereka. Terkhusus bagi usia di bawah dua tahun harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Dia menjelaskan, perlu adanya intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik meliputi upaya mencegah dan mengurangi stunting secara langsung oleh sektor kesehatan. Hal ini berkontribusi sebanyak 30 persen. Sedangkan intervensi sensitif merupakan upaya mencegah dan mengurangi secara tidak langsung dan berkontribusi 70 persen.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus stunting atau lambatnya pertumbuhan anak di Lumajang sangat tinggi. Pada tahun 2019, angka prevalensinya mencapai 34,47 persen. Hal itu menyebabkan Kabupaten Lumajang masuk dalam lima besar stunting tertinggi di Jawa Timur. Oleh sebab itu, program Suami Siaga, Pencegahan, dan Penanggulangan Stunting Terintegrasi atau Susi Pasti diharapkan menurunkan angka stunting di Lumajang.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, ada banyak faktor yang menyebabkan stunting terjadi. Namun, dua faktor utama yang sangat mendominasi. “Pertama, faktor pola asuh. Kedua, faktor ekonomi,” ujar dr Bayu Wibowo, Kepala Dinas Kesehatan Lumajang.

dr Bayu mengatakan, pola asuh dimulai dari pola pikir yang benar. Tidak hanya bagi ibu menyusui, namun saat usia remaja, saat menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui perlu diperhatikan. Sebab, hal tersebut merupakan upaya pencegahan untuk menurunkan stunting.

“Sebenarnya gizi kurang itu bukan karena kemampuan daya beli yang rendah. Akan tetapi, pola pikir, pola asuh, dan perilaku, terutama remaja putri yang harus diubah. Karena pencegahan ini mulai dilakukan saat mereka remaja. Sehingga mereka mengonsumsi makanan yang layak dan gizi baik agar tidak anemia. Karena ini akan berdampak bagi anak-anak mereka. Terkhusus bagi usia di bawah dua tahun harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Dia menjelaskan, perlu adanya intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik meliputi upaya mencegah dan mengurangi stunting secara langsung oleh sektor kesehatan. Hal ini berkontribusi sebanyak 30 persen. Sedangkan intervensi sensitif merupakan upaya mencegah dan mengurangi secara tidak langsung dan berkontribusi 70 persen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/