alexametrics
30.9 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Gucialit Sukses Turunkan Stunting di Bawah Standar WHO  

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu kawasan yang bisa menurunkan angka stunting yang cukup signifikan di Lumajang adalah Puskesmas Gucialit. Data yang berhasil dihimpun, tahun 2017, angka stunting sebesar 28,34 persen. Namun, pada bulan timbang Februari tahun ini angkanya turun hampir 50 persen.

Hal itu disebabkan gebrakan Suami Siaga atau Susi yang dimulai tahun 2012 lalu. Sehingga, kesuksesan itu direplikasi oleh 24 puskesmas lain di Lumajang. Memang tidak mirip sepenuhnya, namun secara umum capaian tersebut mulai diterapkan.

“Inovasi tahun 2012 itu menghasilkan output yang baik. Tidak ada kasus kematian ibu dan bayi meninggal di Puskesmas. Akan tetapi, pada tahun 2017, Gucialit menjadi kawasan paling tinggi stunting-nya. Sehingga kami lakukan banyak hal untuk menurunkannya. Akhirnya, tahun ini turun menjadi 15,51 persen. Artinya, kami sukses menurunkan stunting di bawah standar yang telah ditetapkan World Health Organization (WHO, Red),” kata dr Imannurdin Abdillah, Kepala Puskesmas Gucialit.

Mobile_AP_Rectangle 2

dr Iman, sapaan akrabnya menjelaskan, standar yang ditetapkan WHO maksimal 20 persen. Namun, pihaknya bersama lintas sektor lain berhasil menurunkannya. Untuk menurunkannya, pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah. Mulai dari pendirian pasar tradisional Gucialit hingga pendirian sekolah. “Namun, yang paling utama adalah mengubah pola pikir masyarakat. Misalnya saja olahan daging dan protein diubah menjadi olahan yang disukai anak-anak,” tambahnya.

Sementara itu, Farianingsih, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Lumajang, menuturkan, pengemasan olahan makanan bagi anak sangat berpengaruh. Sebab, olahan yang menarik akan meningkatkan selera makan anak-anak. Dengan demikian, secara gizi, anak-anak sudah terpenuhi. “Penyajian makanan yang sesuai selera anak akan memengaruhi mereka. Terutama pengemasannya,” ujarnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu kawasan yang bisa menurunkan angka stunting yang cukup signifikan di Lumajang adalah Puskesmas Gucialit. Data yang berhasil dihimpun, tahun 2017, angka stunting sebesar 28,34 persen. Namun, pada bulan timbang Februari tahun ini angkanya turun hampir 50 persen.

Hal itu disebabkan gebrakan Suami Siaga atau Susi yang dimulai tahun 2012 lalu. Sehingga, kesuksesan itu direplikasi oleh 24 puskesmas lain di Lumajang. Memang tidak mirip sepenuhnya, namun secara umum capaian tersebut mulai diterapkan.

“Inovasi tahun 2012 itu menghasilkan output yang baik. Tidak ada kasus kematian ibu dan bayi meninggal di Puskesmas. Akan tetapi, pada tahun 2017, Gucialit menjadi kawasan paling tinggi stunting-nya. Sehingga kami lakukan banyak hal untuk menurunkannya. Akhirnya, tahun ini turun menjadi 15,51 persen. Artinya, kami sukses menurunkan stunting di bawah standar yang telah ditetapkan World Health Organization (WHO, Red),” kata dr Imannurdin Abdillah, Kepala Puskesmas Gucialit.

dr Iman, sapaan akrabnya menjelaskan, standar yang ditetapkan WHO maksimal 20 persen. Namun, pihaknya bersama lintas sektor lain berhasil menurunkannya. Untuk menurunkannya, pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah. Mulai dari pendirian pasar tradisional Gucialit hingga pendirian sekolah. “Namun, yang paling utama adalah mengubah pola pikir masyarakat. Misalnya saja olahan daging dan protein diubah menjadi olahan yang disukai anak-anak,” tambahnya.

Sementara itu, Farianingsih, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Lumajang, menuturkan, pengemasan olahan makanan bagi anak sangat berpengaruh. Sebab, olahan yang menarik akan meningkatkan selera makan anak-anak. Dengan demikian, secara gizi, anak-anak sudah terpenuhi. “Penyajian makanan yang sesuai selera anak akan memengaruhi mereka. Terutama pengemasannya,” ujarnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu kawasan yang bisa menurunkan angka stunting yang cukup signifikan di Lumajang adalah Puskesmas Gucialit. Data yang berhasil dihimpun, tahun 2017, angka stunting sebesar 28,34 persen. Namun, pada bulan timbang Februari tahun ini angkanya turun hampir 50 persen.

Hal itu disebabkan gebrakan Suami Siaga atau Susi yang dimulai tahun 2012 lalu. Sehingga, kesuksesan itu direplikasi oleh 24 puskesmas lain di Lumajang. Memang tidak mirip sepenuhnya, namun secara umum capaian tersebut mulai diterapkan.

“Inovasi tahun 2012 itu menghasilkan output yang baik. Tidak ada kasus kematian ibu dan bayi meninggal di Puskesmas. Akan tetapi, pada tahun 2017, Gucialit menjadi kawasan paling tinggi stunting-nya. Sehingga kami lakukan banyak hal untuk menurunkannya. Akhirnya, tahun ini turun menjadi 15,51 persen. Artinya, kami sukses menurunkan stunting di bawah standar yang telah ditetapkan World Health Organization (WHO, Red),” kata dr Imannurdin Abdillah, Kepala Puskesmas Gucialit.

dr Iman, sapaan akrabnya menjelaskan, standar yang ditetapkan WHO maksimal 20 persen. Namun, pihaknya bersama lintas sektor lain berhasil menurunkannya. Untuk menurunkannya, pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah. Mulai dari pendirian pasar tradisional Gucialit hingga pendirian sekolah. “Namun, yang paling utama adalah mengubah pola pikir masyarakat. Misalnya saja olahan daging dan protein diubah menjadi olahan yang disukai anak-anak,” tambahnya.

Sementara itu, Farianingsih, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Lumajang, menuturkan, pengemasan olahan makanan bagi anak sangat berpengaruh. Sebab, olahan yang menarik akan meningkatkan selera makan anak-anak. Dengan demikian, secara gizi, anak-anak sudah terpenuhi. “Penyajian makanan yang sesuai selera anak akan memengaruhi mereka. Terutama pengemasannya,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/