alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Buntut Izin ACT Dicabut pada Penyelesaian Huntara

Kontribusi Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam penanganan erupsi Gunung Semeru, beberapa waktu lalu, memang cukup besar. Bahkan, NGO ini menjanjikan seratus unit huntara untuk korban erupsi. Sayangnya, sampai saat ini baru 22 unit yang terealisasikan.

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERWULUH, Radar Semeru – Sejak lembaga pengumpul dana dan barang itu diduga melakukan penyelewengan donasi, publik penasaran dengan apa saja yang dikerjakan NGO di Lumajang. Sebab, pascabencana, tampak ratusan relawan lembaga filantropi itu di lokasi bencana. Bendera ACT pun mentereng banyak ditemui di sepanjang jalan Kecamatan Candipuro.

Banyak warga yang menyaksikan bahwa mereka juga mendirikan dapur umum di dekat lokasi bencana. Sebagian kecil relawan turut terlibat melakukan evakuasi korban terdampak. Pada proses pembuatan site plan huntara, ACT menjadi salah satu peserta perwakilan NGO yang cukup aktif terlibat dalam penyusunan kebutuhan rencana pembangunan.

Sampai-sampai biaya pembangunan huntara yang semula ditaksir hanya menghabiskan Rp 6 juta terus bertambah menjadi Rp 15 juta. Namun, memasuki tahap land clearing relokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, perlahan jumlah relawan lembaga itu berkurang hingga nyaris habis.

Mobile_AP_Rectangle 2

“ACT merupakan salah satu NGO yang punya target huntara cukup besar. Kurang lebih ada seratus unit. Sampai sekarang dari rencana itu baru terealisasi 29 unit. Perinciannya, 22 unit sudah selesai, dan 7 unit masih belum selesai,” kata Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko.

Target itu sesuai permintaan lembaga itu sendiri. Pengerjaannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama merampungkan 30 unit, sedangkan sisanya sebanyak 70 unit rencananya diselesaikan di tahap kedua. Namun, semua perencanaan tersebut rupanya meleset. Sampai saat ini baru 22 unit saja yang benar-benar rampung.

Perwakilan ACT, Iqro’ Wahyu, mengatakan, progres pembangunan huntara saat ini ditangani langsung oleh tim pusat. Sebelumnya, pascabencana hingga pembangunan huntara di blok percepatan, Iqro’ yang merupakan Branch Manager ACT Kota Malang itu memang sempat ditugaskan menjadi perwakilan di Lumajang. Namun, belakangan posisinya digeser.

“Karena saya tim program ACT Jatim, namun ada pergeseran posisi. Saya kembali jadi Kacab Malang. Jadi mandatory-nya dikembalikan ke pusat. Saat ini saya sudah tidak memiliki wewenang untuk itu,” tandasnya.

Praktis, memasuki bulan ketujuh pengerjaan relokasi, Pemkab Lumajang seharusnya segera melakukan percepatan. Termasuk segera mencarikan NGO pengganti atau solusi untuk melengkapi kekurangan yang dibangun ACT.  (son/c2/fid)

- Advertisement -

SUMBERWULUH, Radar Semeru – Sejak lembaga pengumpul dana dan barang itu diduga melakukan penyelewengan donasi, publik penasaran dengan apa saja yang dikerjakan NGO di Lumajang. Sebab, pascabencana, tampak ratusan relawan lembaga filantropi itu di lokasi bencana. Bendera ACT pun mentereng banyak ditemui di sepanjang jalan Kecamatan Candipuro.

Banyak warga yang menyaksikan bahwa mereka juga mendirikan dapur umum di dekat lokasi bencana. Sebagian kecil relawan turut terlibat melakukan evakuasi korban terdampak. Pada proses pembuatan site plan huntara, ACT menjadi salah satu peserta perwakilan NGO yang cukup aktif terlibat dalam penyusunan kebutuhan rencana pembangunan.

Sampai-sampai biaya pembangunan huntara yang semula ditaksir hanya menghabiskan Rp 6 juta terus bertambah menjadi Rp 15 juta. Namun, memasuki tahap land clearing relokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, perlahan jumlah relawan lembaga itu berkurang hingga nyaris habis.

“ACT merupakan salah satu NGO yang punya target huntara cukup besar. Kurang lebih ada seratus unit. Sampai sekarang dari rencana itu baru terealisasi 29 unit. Perinciannya, 22 unit sudah selesai, dan 7 unit masih belum selesai,” kata Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko.

Target itu sesuai permintaan lembaga itu sendiri. Pengerjaannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama merampungkan 30 unit, sedangkan sisanya sebanyak 70 unit rencananya diselesaikan di tahap kedua. Namun, semua perencanaan tersebut rupanya meleset. Sampai saat ini baru 22 unit saja yang benar-benar rampung.

Perwakilan ACT, Iqro’ Wahyu, mengatakan, progres pembangunan huntara saat ini ditangani langsung oleh tim pusat. Sebelumnya, pascabencana hingga pembangunan huntara di blok percepatan, Iqro’ yang merupakan Branch Manager ACT Kota Malang itu memang sempat ditugaskan menjadi perwakilan di Lumajang. Namun, belakangan posisinya digeser.

“Karena saya tim program ACT Jatim, namun ada pergeseran posisi. Saya kembali jadi Kacab Malang. Jadi mandatory-nya dikembalikan ke pusat. Saat ini saya sudah tidak memiliki wewenang untuk itu,” tandasnya.

Praktis, memasuki bulan ketujuh pengerjaan relokasi, Pemkab Lumajang seharusnya segera melakukan percepatan. Termasuk segera mencarikan NGO pengganti atau solusi untuk melengkapi kekurangan yang dibangun ACT.  (son/c2/fid)

SUMBERWULUH, Radar Semeru – Sejak lembaga pengumpul dana dan barang itu diduga melakukan penyelewengan donasi, publik penasaran dengan apa saja yang dikerjakan NGO di Lumajang. Sebab, pascabencana, tampak ratusan relawan lembaga filantropi itu di lokasi bencana. Bendera ACT pun mentereng banyak ditemui di sepanjang jalan Kecamatan Candipuro.

Banyak warga yang menyaksikan bahwa mereka juga mendirikan dapur umum di dekat lokasi bencana. Sebagian kecil relawan turut terlibat melakukan evakuasi korban terdampak. Pada proses pembuatan site plan huntara, ACT menjadi salah satu peserta perwakilan NGO yang cukup aktif terlibat dalam penyusunan kebutuhan rencana pembangunan.

Sampai-sampai biaya pembangunan huntara yang semula ditaksir hanya menghabiskan Rp 6 juta terus bertambah menjadi Rp 15 juta. Namun, memasuki tahap land clearing relokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, perlahan jumlah relawan lembaga itu berkurang hingga nyaris habis.

“ACT merupakan salah satu NGO yang punya target huntara cukup besar. Kurang lebih ada seratus unit. Sampai sekarang dari rencana itu baru terealisasi 29 unit. Perinciannya, 22 unit sudah selesai, dan 7 unit masih belum selesai,” kata Asisten Administrasi Setda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko.

Target itu sesuai permintaan lembaga itu sendiri. Pengerjaannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama merampungkan 30 unit, sedangkan sisanya sebanyak 70 unit rencananya diselesaikan di tahap kedua. Namun, semua perencanaan tersebut rupanya meleset. Sampai saat ini baru 22 unit saja yang benar-benar rampung.

Perwakilan ACT, Iqro’ Wahyu, mengatakan, progres pembangunan huntara saat ini ditangani langsung oleh tim pusat. Sebelumnya, pascabencana hingga pembangunan huntara di blok percepatan, Iqro’ yang merupakan Branch Manager ACT Kota Malang itu memang sempat ditugaskan menjadi perwakilan di Lumajang. Namun, belakangan posisinya digeser.

“Karena saya tim program ACT Jatim, namun ada pergeseran posisi. Saya kembali jadi Kacab Malang. Jadi mandatory-nya dikembalikan ke pusat. Saat ini saya sudah tidak memiliki wewenang untuk itu,” tandasnya.

Praktis, memasuki bulan ketujuh pengerjaan relokasi, Pemkab Lumajang seharusnya segera melakukan percepatan. Termasuk segera mencarikan NGO pengganti atau solusi untuk melengkapi kekurangan yang dibangun ACT.  (son/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/