alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Lempar Kewenangan Apa Lempar Rumah ke Sungai

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Debit aliran Sungai Bondoyudo yang terus mengkhawatirkan menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Urusan hak tanah memang bisa diperdebatkan, tapi urusan keselamatan dan nyawa seharusnya jadi perhatian utama. Apalagi urusan kewenangan. Jangan sampai persoalan silang sengkarut saling lempar kewenangan itu mengancam nasib warga.

Kondisi ini menuntun Yoyog Ghiee mengunggah foto bangunan yang rawan terkikis aliran Sungai Bondoyudo. “Satu kali erosi maka akan ikut hanyut rumah warga tersebut. Kami mohon pihak terkait mensurvei dan mengajukan anggaran untuk membangun Gronjong sebagai penguatnya,” tulisnya menjelaskan foto bangunan yang ada di pinggir sungai tersebut.

Lokasinya tepat di dekat Jembatan penghubung Desa Blukon dan Desa Dawuhan Wetan yang sudah hampir ke rumah warga. Edy Law turut berkomentar memberi penguatan. “Saya pribadi sebagai masyarakat sangat yok opo ngunu dateng kalimat bukan wewenang itu. Mikir aku. Lek nang penggawean sing kesane ruwet-ruwet bin jelimet kok gak onok sing ngerebut,” kritiknya dengan gaya bertanya. Sebab, pemilik akun lain berkomentar pengaduan dan upaya pembangunan sudah dilakukan, tetapi selalu mengalami kendala kewenangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tiya Soegito juga tidak mau ketinggalan. Perempuan yang aktif di media sosial ini menyindir tajam. “Mungkin yang dimaksud wewenang sing gak onok anggarane Cak. Cobak ketok anggaran Rp 7 miliar? Pasti rebutan wewenang neng ngarep dewe,” tulisnya pedas.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Debit aliran Sungai Bondoyudo yang terus mengkhawatirkan menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Urusan hak tanah memang bisa diperdebatkan, tapi urusan keselamatan dan nyawa seharusnya jadi perhatian utama. Apalagi urusan kewenangan. Jangan sampai persoalan silang sengkarut saling lempar kewenangan itu mengancam nasib warga.

Kondisi ini menuntun Yoyog Ghiee mengunggah foto bangunan yang rawan terkikis aliran Sungai Bondoyudo. “Satu kali erosi maka akan ikut hanyut rumah warga tersebut. Kami mohon pihak terkait mensurvei dan mengajukan anggaran untuk membangun Gronjong sebagai penguatnya,” tulisnya menjelaskan foto bangunan yang ada di pinggir sungai tersebut.

Lokasinya tepat di dekat Jembatan penghubung Desa Blukon dan Desa Dawuhan Wetan yang sudah hampir ke rumah warga. Edy Law turut berkomentar memberi penguatan. “Saya pribadi sebagai masyarakat sangat yok opo ngunu dateng kalimat bukan wewenang itu. Mikir aku. Lek nang penggawean sing kesane ruwet-ruwet bin jelimet kok gak onok sing ngerebut,” kritiknya dengan gaya bertanya. Sebab, pemilik akun lain berkomentar pengaduan dan upaya pembangunan sudah dilakukan, tetapi selalu mengalami kendala kewenangan.

Tiya Soegito juga tidak mau ketinggalan. Perempuan yang aktif di media sosial ini menyindir tajam. “Mungkin yang dimaksud wewenang sing gak onok anggarane Cak. Cobak ketok anggaran Rp 7 miliar? Pasti rebutan wewenang neng ngarep dewe,” tulisnya pedas.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Debit aliran Sungai Bondoyudo yang terus mengkhawatirkan menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Urusan hak tanah memang bisa diperdebatkan, tapi urusan keselamatan dan nyawa seharusnya jadi perhatian utama. Apalagi urusan kewenangan. Jangan sampai persoalan silang sengkarut saling lempar kewenangan itu mengancam nasib warga.

Kondisi ini menuntun Yoyog Ghiee mengunggah foto bangunan yang rawan terkikis aliran Sungai Bondoyudo. “Satu kali erosi maka akan ikut hanyut rumah warga tersebut. Kami mohon pihak terkait mensurvei dan mengajukan anggaran untuk membangun Gronjong sebagai penguatnya,” tulisnya menjelaskan foto bangunan yang ada di pinggir sungai tersebut.

Lokasinya tepat di dekat Jembatan penghubung Desa Blukon dan Desa Dawuhan Wetan yang sudah hampir ke rumah warga. Edy Law turut berkomentar memberi penguatan. “Saya pribadi sebagai masyarakat sangat yok opo ngunu dateng kalimat bukan wewenang itu. Mikir aku. Lek nang penggawean sing kesane ruwet-ruwet bin jelimet kok gak onok sing ngerebut,” kritiknya dengan gaya bertanya. Sebab, pemilik akun lain berkomentar pengaduan dan upaya pembangunan sudah dilakukan, tetapi selalu mengalami kendala kewenangan.

Tiya Soegito juga tidak mau ketinggalan. Perempuan yang aktif di media sosial ini menyindir tajam. “Mungkin yang dimaksud wewenang sing gak onok anggarane Cak. Cobak ketok anggaran Rp 7 miliar? Pasti rebutan wewenang neng ngarep dewe,” tulisnya pedas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/