alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Akses Sekolah Terputus Lahar, Siswa Terjang Derasnya Sungai Untuk Sekolah

Bangunan sekolah yang rusak dan terputusnya akses jalan tidak menghambat proses belajar mengajar di sejumlah titik terdampak. Bagaimanapun, setiap anak memiliki hak pendidikan yang sama. Oleh karena itu, pembelajaran tatap muka tetap dilakukan. Meski tenaga pendidik harus jatuh bangun dan terjebak aliran sungai.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID –  Pembelajaran sekolah semester genap sudah berjalan lima hari. Sebagian besar siswa terdampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru sudah mengikuti pembelajaran tatap muka. Ada yang belajar di sekolah lain, daring, ada juga yang belajar di tenda darurat. Seperti di Desa Sumbermujur, Supiturang, dan Jugosari.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, sedikitnya ada 25 satuan pendidikan yang terdampak. Sementara, 2.448 siswa belajar lebih fleksibel. Artinya, mereka tidak diwajibkan belajar di sekolah. Terpenting, materi sekolah tetap diterima. Oleh karena itu, sebagai alternatif, tenda darurat sekolah didirikan.

Selain di sekitar kawasan terdampak APG Gunung Semeru, banjir lahar dingin beberapa hari yang lalu juga memutuskan akses satu-satunya Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Akibatnya, siswa terpaksa belajar di tenda darurat. Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Seluruh siswa tetap menikmati pembelajaran.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara, bagi guru dan tenaga pendidik, pembelajaran itu wajib diberikan. Meski harus menerjang derasnya aliran sungai. Bahkan, salah seorang guru SDN Jugosari 03, Isdaroki, terjerembap dan terjebak saat hendak menyeberangi Kali Regoyo, kemarin pagi.

“Saya pikir jalurnya ini sudah padat. Ternyata masih basah. Ya, sulit gerak. Rasanya di kaki juga alirannya masih hangat,” kata Isdaroki. Warga yang berada di lokasi kejadian langsung mendekat. Mereka membantu menarik Isdaroki keluar dari kubangan.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID –  Pembelajaran sekolah semester genap sudah berjalan lima hari. Sebagian besar siswa terdampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru sudah mengikuti pembelajaran tatap muka. Ada yang belajar di sekolah lain, daring, ada juga yang belajar di tenda darurat. Seperti di Desa Sumbermujur, Supiturang, dan Jugosari.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, sedikitnya ada 25 satuan pendidikan yang terdampak. Sementara, 2.448 siswa belajar lebih fleksibel. Artinya, mereka tidak diwajibkan belajar di sekolah. Terpenting, materi sekolah tetap diterima. Oleh karena itu, sebagai alternatif, tenda darurat sekolah didirikan.

Selain di sekitar kawasan terdampak APG Gunung Semeru, banjir lahar dingin beberapa hari yang lalu juga memutuskan akses satu-satunya Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Akibatnya, siswa terpaksa belajar di tenda darurat. Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Seluruh siswa tetap menikmati pembelajaran.

Sementara, bagi guru dan tenaga pendidik, pembelajaran itu wajib diberikan. Meski harus menerjang derasnya aliran sungai. Bahkan, salah seorang guru SDN Jugosari 03, Isdaroki, terjerembap dan terjebak saat hendak menyeberangi Kali Regoyo, kemarin pagi.

“Saya pikir jalurnya ini sudah padat. Ternyata masih basah. Ya, sulit gerak. Rasanya di kaki juga alirannya masih hangat,” kata Isdaroki. Warga yang berada di lokasi kejadian langsung mendekat. Mereka membantu menarik Isdaroki keluar dari kubangan.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID –  Pembelajaran sekolah semester genap sudah berjalan lima hari. Sebagian besar siswa terdampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru sudah mengikuti pembelajaran tatap muka. Ada yang belajar di sekolah lain, daring, ada juga yang belajar di tenda darurat. Seperti di Desa Sumbermujur, Supiturang, dan Jugosari.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, sedikitnya ada 25 satuan pendidikan yang terdampak. Sementara, 2.448 siswa belajar lebih fleksibel. Artinya, mereka tidak diwajibkan belajar di sekolah. Terpenting, materi sekolah tetap diterima. Oleh karena itu, sebagai alternatif, tenda darurat sekolah didirikan.

Selain di sekitar kawasan terdampak APG Gunung Semeru, banjir lahar dingin beberapa hari yang lalu juga memutuskan akses satu-satunya Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Akibatnya, siswa terpaksa belajar di tenda darurat. Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Seluruh siswa tetap menikmati pembelajaran.

Sementara, bagi guru dan tenaga pendidik, pembelajaran itu wajib diberikan. Meski harus menerjang derasnya aliran sungai. Bahkan, salah seorang guru SDN Jugosari 03, Isdaroki, terjerembap dan terjebak saat hendak menyeberangi Kali Regoyo, kemarin pagi.

“Saya pikir jalurnya ini sudah padat. Ternyata masih basah. Ya, sulit gerak. Rasanya di kaki juga alirannya masih hangat,” kata Isdaroki. Warga yang berada di lokasi kejadian langsung mendekat. Mereka membantu menarik Isdaroki keluar dari kubangan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/