alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Sering Digoda Emak-Emak Supaya Harganya Turun

Meski sebagai pedagang mlijo, tidak perlu merasa mati gaya. Justru sebaliknya. Karena tidak terikat instansi, boleh menunjukkan kreasinya. Salah satunya dengan mengenakan kostum resmi ala kantoran hingga mengenakan dasi.

Mobile_AP_Rectangle 1

Para pelanggan setianya sering membeli dengan memberi motivasi untuk terus semangat. Mereka mayoritas memberi dorongan untuk selalu optimistis. Sebab, pada awalnya dirinya memutuskan berjualan karena putus sekolah. Dirinya terpaksa putus sekolah sejak kelas 2 SMP karena memang kekurangan biaya.

Sebelum berjualan, dirinya selalu konsisten membantu sang ibu berdagang di Pasar Baru Lumajang. Dia berinisiatif membantu berjualan bumbu-bumbu dapur dan sayuran. “Awalnya bantu diam-diam. Ketika ibu tidur, saya jualan sayurannya ke tetangga,” ucapnya.

Wahyu cukup konsisten menjajakan dengan gaya itu sampai 6 tahun. Dia juga menyampaikan, berjualan dengan bergaya nyentrik tersebut baru dilaluinya selama 3 tahun. Wahyu sengaja memilih gaya yang berbeda karena ketatnya persaingan. “Pendapatannya bertambah, tapi kadang dilihat sinis pedagang lain,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Uniknya, Wahyu tidak pernah mengeluarkan sepeser pun untuk barang yang dipakainya. Kostum dari atas sampai bawah semua sumbangan. Dasi yang dipakainya dari teman organisasi karang taruna, baju dari ibunya, celana dari temannya, dan sepatu dari saudaranya.

- Advertisement -

Para pelanggan setianya sering membeli dengan memberi motivasi untuk terus semangat. Mereka mayoritas memberi dorongan untuk selalu optimistis. Sebab, pada awalnya dirinya memutuskan berjualan karena putus sekolah. Dirinya terpaksa putus sekolah sejak kelas 2 SMP karena memang kekurangan biaya.

Sebelum berjualan, dirinya selalu konsisten membantu sang ibu berdagang di Pasar Baru Lumajang. Dia berinisiatif membantu berjualan bumbu-bumbu dapur dan sayuran. “Awalnya bantu diam-diam. Ketika ibu tidur, saya jualan sayurannya ke tetangga,” ucapnya.

Wahyu cukup konsisten menjajakan dengan gaya itu sampai 6 tahun. Dia juga menyampaikan, berjualan dengan bergaya nyentrik tersebut baru dilaluinya selama 3 tahun. Wahyu sengaja memilih gaya yang berbeda karena ketatnya persaingan. “Pendapatannya bertambah, tapi kadang dilihat sinis pedagang lain,” tuturnya.

Uniknya, Wahyu tidak pernah mengeluarkan sepeser pun untuk barang yang dipakainya. Kostum dari atas sampai bawah semua sumbangan. Dasi yang dipakainya dari teman organisasi karang taruna, baju dari ibunya, celana dari temannya, dan sepatu dari saudaranya.

Para pelanggan setianya sering membeli dengan memberi motivasi untuk terus semangat. Mereka mayoritas memberi dorongan untuk selalu optimistis. Sebab, pada awalnya dirinya memutuskan berjualan karena putus sekolah. Dirinya terpaksa putus sekolah sejak kelas 2 SMP karena memang kekurangan biaya.

Sebelum berjualan, dirinya selalu konsisten membantu sang ibu berdagang di Pasar Baru Lumajang. Dia berinisiatif membantu berjualan bumbu-bumbu dapur dan sayuran. “Awalnya bantu diam-diam. Ketika ibu tidur, saya jualan sayurannya ke tetangga,” ucapnya.

Wahyu cukup konsisten menjajakan dengan gaya itu sampai 6 tahun. Dia juga menyampaikan, berjualan dengan bergaya nyentrik tersebut baru dilaluinya selama 3 tahun. Wahyu sengaja memilih gaya yang berbeda karena ketatnya persaingan. “Pendapatannya bertambah, tapi kadang dilihat sinis pedagang lain,” tuturnya.

Uniknya, Wahyu tidak pernah mengeluarkan sepeser pun untuk barang yang dipakainya. Kostum dari atas sampai bawah semua sumbangan. Dasi yang dipakainya dari teman organisasi karang taruna, baju dari ibunya, celana dari temannya, dan sepatu dari saudaranya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/